RADAR BOGOR - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperluas upaya pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pendampingan yang dilakukan di berbagai daerah.
Salah satu bentuknya diwujudkan BRI Unit Dofior, Kota Sorong, Papua Barat Daya, melalui program Klasterku Hidupku yang mendampingi Nursia, pelaku usaha pengolahan ikan kering, dalam mengembangkan kapasitas bisnis dan memperluas pemasaran.
Nursia mulai menekuni usaha pengolahan ikan kering pada 2017. Keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mendorongnya mengumpulkan modal secara bertahap hingga akhirnya memutuskan membuka usaha secara mandiri.
Dalam perjalanannya, Nursia menghadapi sejumlah kendala. Ketersediaan bahan baku yang berasal dari hasil laut sangat bergantung pada kondisi perairan serta hasil tangkapan nelayan. Selain itu, keberlangsungan pendapatan juga dipengaruhi oleh perubahan harga ikan dan permintaan konsumen.
Baca Juga: Narsun, BRILink Agen Juragan Sukses Perluas Perlindungan Sosial bagi 7 Ribu Pekerja Informal
Kondisi tersebut membuat kebutuhan modal menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga aktivitas produksinya. Pada masa awal usaha, Nursia membutuhkan dana sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta untuk membeli ikan sebagai bahan baku. Keterbatasan modal tersebut kemudian terbantu setelah ia memperoleh fasilitas pembiayaan dari BRI pada akhir 2017.
Kerja sama Nursia dengan BRI kemudian berkembang tidak hanya dalam hal pembiayaan. Dengan pendampingan dari Mantri BRI, Nursia bersama sejumlah pelaku usaha ikan di kawasan Jembatan Puri membentuk Klaster BRI Penjual Ikan Jembatan Puri Sorong melalui program Klasterku Hidupku.
Kehadiran klaster memberikan ruang bagi para pelaku usaha untuk menghadapi berbagai persoalan secara bersama-sama. Para anggota dapat bertukar pengalaman, berbagi informasi mengenai kondisi usaha, serta membahas kendala yang dihadapi untuk kemudian mencari solusi secara kolektif.
Selain membangun jejaring antarpelaku usaha, program tersebut juga memberikan berbagai pembekalan untuk meningkatkan kemampuan bisnis. Materi yang diberikan mencakup penguatan merek, perbaikan kemasan, hingga strategi pemasaran.
Para pelaku UMKM juga mendapatkan kesempatan mengikuti pameran UMKM yang diselenggarakan BRI sehingga produk mereka memiliki peluang lebih besar untuk dikenal konsumen.
Bagi Nursia, bergabung dalam klaster menjadi salah satu tahapan penting dalam perkembangan usahanya. Ia tidak hanya mendapatkan dukungan pembiayaan, tetapi juga memperoleh pendampingan untuk meningkatkan kemampuan mengelola bisnis sekaligus menjaga keberlangsungannya.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap peran Mantri BRI yang secara konsisten mendampingi para pelaku usaha. Menurut Nursia, sikap ramah dan kesabaran petugas dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan administratif menjadi pengalaman yang berkesan selama menjadi mitra BRI.
“Sejak awal bergabung, Mantri BRI sangat ramah dan hal yang paling membekas bagi saya adalah kesabaran para petugas dalam membantu mengatasi kendala administratif dan melengkapi persyaratan yang belum dipahami,” ujar Nursia.
Pendekatan tersebut membuat Nursia merasa tidak sekadar diposisikan sebagai nasabah, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang mendapatkan ruang untuk berkembang bersama BRI. Pendampingan yang diberikan bahkan mencakup pemanfaatan kanal digital untuk kegiatan bisnis, seperti berjualan secara daring dan mempromosikan produk melalui media sosial.
Perkembangan usaha tersebut juga memberikan dampak terhadap kemampuan Nursia dalam mengelola keuangan. Ia mampu memenuhi kewajiban pembiayaan kepada bank secara rutin setiap bulan tanpa mengalami catatan kredit bermasalah. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga tetap dapat dipenuhi dan perputaran modal usaha dapat dipertahankan.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menjelaskan bahwa pemberdayaan UMKM terus diperkuat melalui pembangunan ekosistem yang memberikan dukungan secara menyeluruh. Dukungan tersebut mencakup akses pembiayaan, peningkatan kemampuan pelaku usaha, penguatan jejaring sosial, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk membuka pasar yang lebih luas.
Menurut Akhmad, program Klasterku Hidupku merupakan salah satu instrumen BRI dalam menjalankan pendekatan pemberdayaan tersebut. Melalui kombinasi dukungan modal, penguatan modal sosial, dan transformasi digital, BRI berupaya membantu UMKM menghadapi tantangan usaha sekaligus meningkatkan peluang pertumbuhan.
BRI menargetkan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membuat pelaku UMKM semakin memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar. Dengan dukungan yang terintegrasi, UMKM diharapkan mampu memperkuat usahanya, memperluas jangkauan pasar, dan berkembang ke tingkat yang lebih tinggi secara berkelanjutan.
“BRI berkomitmen mendampingi UMKM Indonesia agar semakin tangguh, adaptif, dan mampu naik kelas secara berkelanjutan,” pungkas Akhmad.
Editor : Eka Rahmawati