Kinerja BRI Triwulan II 2026 Makin Solid, Likuiditas dan Modal Tetap Terjaga

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 09:40 WIB
Ilustrasi kinerja BRI
Ilustrasi kinerja BRI

RADAR BOGOR – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menunjukkan fundamental bisnis yang semakin kuat hingga Triwulan II 2026.

Kondisi tersebut tercermin dari likuiditas yang tetap berada pada level memadai, kualitas sumber pendanaan yang meningkat, serta permodalan yang kokoh untuk menopang pertumbuhan bisnis.

Kekuatan fundamental tersebut menjadi modal penting bagi BRI dalam melanjutkan ekspansi secara sehat dan berkelanjutan.

Pada saat yang sama, BRI terus menjalankan fungsi intermediasi perbankan untuk memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi menyampaikan hal tersebut dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 yang berlangsung di Kantor Pusat BRI, Jakarta.

Menurut Achmad Royadi, kondisi likuiditas BRI hingga Triwulan II 2026 masih terkelola dengan baik. Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi entitas bank tercatat sebesar 90,8 persen.

Baca Juga: 5 Gunung Api Masih Level 3, Ini Kondisinya Pagi Ini

Angka tersebut dinilai masih berada dalam level yang mendukung pelaksanaan fungsi intermediasi secara optimal.

Sementara itu, dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI pada Triwulan II 2026 mencapai 21,5 persen.

Achmad menjelaskan, kombinasi antara likuiditas yang terjaga dan modal yang kuat membuat BRI memiliki ruang yang cukup untuk terus mengembangkan bisnis.

Pertumbuhan tersebut tetap dilakukan dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas.

Dana Pihak Ketiga BRI Tumbuh 6,7 Persen

Kondisi likuiditas BRI juga mendapatkan dukungan dari struktur pendanaan yang semakin berkualitas.

Hingga penghujung Triwulan II 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tercatat mencapai Rp1.581 triliun.

Jumlah tersebut meningkat 6,7 persen secara year-on-year (yoy). Tidak hanya mengalami pertumbuhan dari sisi nominal, kualitas komposisi pendanaan BRI juga menunjukkan perkembangan positif.

Hal itu terlihat dari rasio dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang mengalami peningkatan. Rasio CASA BRI naik dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen.

Peningkatan porsi dana murah tersebut turut memperkuat kondisi likuiditas perusahaan.

Dengan likuiditas yang tetap terjaga dan struktur pendanaan yang semakin sehat, BRI memiliki kapasitas untuk menjalankan fungsi intermediasi secara optimal.

Baca Juga: Turnamen Tenis Meja Pingkers Reborn ke-9 di Bogor, Yayat-Edi Sabet Gelar Juara

Sementara itu, kekuatan permodalan memberikan tambahan ruang bagi BRI untuk mengembangkan bisnis sekaligus mempertahankan ketahanan perusahaan dalam menghadapi berbagai potensi risiko.

NPL BRI Turun Jadi 2,9 Persen

Di tengah pertumbuhan bisnis yang terus berjalan, BRI tetap memberikan perhatian besar terhadap kualitas kredit dan pengelolaan risiko.

Komitmen tersebut tercermin dari perbaikan kualitas aset perusahaan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) BRI turun menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026, dibandingkan 3,07 persen pada 2025.

Perbaikan NPL tersebut tidak terlepas dari strategi pengelolaan risiko yang diterapkan BRI.

Perseroan menjalankan pendekatan selective growth, memperkuat early warning system khususnya pada segmen ritel, serta mengoptimalkan fungsi collection dan recovery. Strategi tersebut juga terlihat dari membaiknya sejumlah indikator risiko kredit BRI.

Rasio Loan at Risk (LaR), misalnya, berhasil ditekan dari 9,6 persen pada akhir 2025 menjadi 9,1 persen pada akhir Triwulan II 2026.

Penurunan LaR tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kualitas kredit baru yang dibukukan BRI semakin baik. Perbaikan juga terjadi pada Cost of Credit (CoC).

Rasio CoC BRI turun dari 3,4 persen pada akhir 2025 menjadi 3,1 persen hingga Triwulan II 2026.

Aset BRI Capai Rp2.352 Triliun

Fundamental yang semakin solid turut menopang pertumbuhan kinerja keuangan BRI sepanjang Triwulan II 2026.

Total aset BRI tercatat mencapai Rp2.352 triliun. Nilai tersebut tumbuh 11,7 persen secara year-on-year.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Masih Level 3, Aktivitas Gempa Terus Terpantau

Pertumbuhan aset terutama didorong oleh akselerasi penyaluran kredit. Hingga Triwulan II 2026, kredit BRI tumbuh 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun.

Pertumbuhan kredit yang dibarengi dengan perbaikan fundamental dan pengelolaan risiko tersebut turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan.

Pada periode yang sama, BRI membukukan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun. Angka tersebut tumbuh 17,5 persen dibandingkan periode yang sama secara year-on-year.

BRI Perkuat Intermediasi di Segmen UMKM

Kondisi fundamental yang kuat juga memberikan ruang bagi BRI untuk terus memperbesar peran intermediasinya, terutama melalui segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

UMKM tetap menjadi core business BRI sekaligus salah satu fokus utama dalam menjalankan fungsi intermediasi perbankan.

Penguatan pembiayaan UMKM tidak hanya diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

Baca Juga: Kabar Gembira, 438 Ribu KPM Tergraduasi Aktif Kembali, Bansos PKH BPNT Diproses Cair

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi BRI dalam mendukung berbagai agenda prioritas pemerintah.

Dengan likuiditas yang memadai, struktur pendanaan yang semakin berkualitas, permodalan yang kuat, serta kualitas aset yang terus membaik, BRI memiliki fondasi untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan. (***)

Editor : Yosep Awaludin
likuiditas Fundamental bri