Bermodal Tekad dan Pembiayaan UMi, Mawiyah Berhasil Ubah Jualan Online Jadi Kedai

Rani Puspitasari Sinaga • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 16:44 WIB
Perjuangan Mawiyah membangun usaha dari depan rumah, dan kini penghasilannya bantu keluarga. Foto: BRI for Radar Bogor
Perjuangan Mawiyah membangun usaha dari depan rumah, dan kini penghasilannya bantu keluarga. Foto: BRI for Radar Bogor

RADAR BOGOR – Menjadi ibu rumah tangga tidak menghalangi Mawiyah untuk ikut menopang perekonomian keluarga. Perempuan asal Sepaku, Kalimantan Timur, itu perlahan membangun usaha hingga kini memiliki kedai sederhana di depan rumah.

Perjalanan Mawiyah sebagai pelaku usaha dimulai pada 2023. Saat itu, perempuan berusia 34 tahun tersebut mulai berjualan secara daring. Di tahun yang sama, ia bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar setelah mendapat informasi mengenai fasilitas pembiayaan dari petugas.

Tambahan modal tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha. Setahun berselang, Mawiyah membuka kedai yang menjual berbagai minuman, jus, jajanan, hingga gorengan.

Baca Juga: Siswa SMKN 4 Kota Bogor Ubah Limbah MBG Jadi Bahan Kompos, Kr4batKompos Raih Juara 2 BIA 2026

“Alhamdulillah, usaha semakin berkembang. Dari yang awalnya hanya berjualan online, pada tahun 2024 saya mulai membuka kedai di depan rumah yang menjual aneka minuman, jus, jajanan, dan gorengan,” ujar Mawiyah.

Kehadiran kedai membuat aktivitas sehari-harinya semakin produktif. Selain menjalankan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, Mawiyah kini memiliki sumber penghasilan sendiri yang turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Menurut Mawiyah, perjalanan usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Namun, konsistensi menjadi kunci agar usaha dapat terus berkembang.

“Kalau menjalankan usaha pasti ada naik turunnya penghasilan. Tapi menurut saya, selama kita tetap semangat dan konsisten menjalani usaha, insyaallah akan ada hasil baik yang didapat,” katanya.

Baca Juga: KPK Dalami Pertemuan Pejabat Bogor dalam Kasus Dugaan Korupsi HGB, Rudy Susmanto: Saya Tidak Ada

Kepuasan pelanggan juga menjadi salah satu motivasi bagi Mawiyah. Ketika pembeli kembali datang setelah mencoba produk yang dijual, ia merasa usaha yang dijalankan mendapat respons positif.

Dengan tambahan modal yang diperoleh, Mawiyah semakin berani menambah variasi dagangan. Aneka minuman, jus, jajanan, dan gorengan dibuat lebih beragam untuk menarik konsumen sekaligus meningkatkan pemasukan.

Menjalankan kedai juga membuat Mawiyah belajar mengelola keuangan secara mandiri. Ia harus membagi hasil penjualan untuk kebutuhan modal, operasional usaha, angsuran pembiayaan, hingga pendapatan pribadi.

Baca Juga: Pemerintah Rilis 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Bermasalah, Cek Daftarnya

“Rasanya seperti punya perusahaan sendiri, karena semua harus kita kelola sendiri. Saya harus membagi uang untuk modal yang diputar kembali, menyiapkan angsuran Mekaar, dan mengatur kebutuhan usaha,” ungkapnya.

Mawiyah bahkan membiasakan diri mengambil sebagian keuntungan sebagai “gaji”. Cara tersebut membuatnya lebih memahami pentingnya memisahkan keuangan usaha dan kebutuhan pribadi.

Dengan pengelolaan keuangan yang teratur, angsuran pembiayaan dapat dipersiapkan dari hasil penjualan tanpa mengganggu perputaran modal usaha.

Kini, usaha Mawiyah juga tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke kedai. Ia menerima pesanan dan menyediakan layanan antar. Ketika ada kegiatan atau acara tertentu, produk jualannya juga dibawa langsung ke lokasi untuk menjangkau konsumen lebih luas.

Baca Juga: Yamaha Jupiter Z Burhan 2006 Kembali Diburu, Motor Bebek Legendaris dengan Jok Empuk

Dukungan yang diterima Mawiyah pun tidak sebatas pembiayaan. Ia pernah mengikuti kelas memasak yang diselenggarakan PNM Mekaar. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi tambahan bekal untuk mengembangkan produk yang dijualnya.

Kisah Mawiyah menunjukkan bahwa akses pembiayaan yang disertai pendampingan dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk membangun sumber penghasilan secara mandiri.

Perjalanan tersebut sejalan dengan semangat Holding Ultra Mikro (UMi) yang mengintegrasikan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM.

Sejak dibentuk pada 2021, Holding UMi diarahkan untuk memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat, khususnya segmen ultra mikro, melalui ekosistem pembiayaan, simpanan, transaksi, pemberdayaan, dan pendampingan usaha.

Baca Juga: KKS Lama Terisi Rp600 Ribu, Ini KPM yang Kembali Dapat Bansos PKH dan BPNT

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, dalam ekosistem Holding UMi, perjalanan nasabah tidak berhenti setelah memperoleh pembiayaan.

Integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan keuangan sesuai perkembangan kebutuhan dan kapasitas ekonominya.

“Dengan demikian, pelaku usaha ultra mikro memiliki ruang untuk terus bertumbuh, memperkuat usahanya, membangun kebiasaan menabung, hingga secara bertahap mengakses layanan keuangan yang semakin luas,” ujar Dhanny.

Baca Juga: Gim Kimia Ciptaan SMK AK Nusa Bangsa Bogor Bawa Siswa Masuk ke Laboratorium yang Hilang

Hingga akhir triwulan II 2026, Holding UMi tercatat telah melayani 33,8 juta debitur aktif dan mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro.

Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM juga telah mendorong sekitar 2,3 juta debitur untuk naik kelas. Capaian tersebut menunjukkan upaya memperluas akses keuangan sekaligus mendorong peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
pembiayaan UMi Mawiyah PNM Mekar jualan online