Mengapa Orang Kaya Justru Jarang Pamer? Ini Rahasianya

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 08:35 WIB
Orang yang miliki banyak kekayaan jarang pamer.
Orang yang miliki banyak kekayaan jarang pamer.

RADAR BOGOR - Ada pemandangan yang mungkin cukup sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang dengan kondisi finansial mapan justru tampil sederhana, sementara orang lain yang penghasilannya belum terlalu besar rela mengeluarkan banyak uang demi terlihat mewah.

Dari pakaian bermerek, gawai terbaru, mobil mahal hingga aksesori berharga tinggi, berbagai simbol status kerap digunakan untuk menunjukkan keberhasilan seseorang.

Baca Juga: AC Mobil Bunyi Cetik dan Keluar Asap, Ternyata Penyebabnya Bukan Sekadar Kompresor

Namun, apakah penampilan mewah selalu mencerminkan kondisi keuangan yang kuat?

Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus), Rizki Riyanto mengatakan, hal tersebut belum tentu.

Dalam psikologi dan keuangan pribadi, kata Rizki, terdapat konsep yang dikenal sebagai stealth wealth atau kekayaan yang tidak ditampilkan secara mencolok. 

Konsep ini menggambarkan, kecenderungan seseorang untuk membangun kekayaan tanpa menjadikannya sebagai alat mencari pengakuan sosial.

Ketika Keinginan Terlihat Kaya Justru Menguras Keuangan

Keinginan untuk terlihat sukses sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan jumlah uang yang dimiliki.

"Dalam banyak kasus, dorongan tersebut bisa berhubungan dengan kebutuhan akan penerimaan dan pengakuan dari lingkungan," jelasnya kepada Radar Bogor, Kamis 17 September 2026.

Seseorang mungkin membeli barang mahal bukan semata-mata karena membutuhkannya, melainkan karena ingin dianggap berhasil oleh orang lain.

Masalahnya muncul, ketika keinginan tersebut tidak sejalan dengan kemampuan finansial.

Pengeluaran yang seharusnya dapat dialokasikan untuk tabungan, investasi atau kebutuhan jangka panjang justru digunakan untuk mempertahankan gaya hidup yang terlihat mewah.

Pada akhirnya, seseorang bisa memiliki banyak barang dengan nilai tinggi, tetapi tidak memiliki fondasi keuangan yang cukup kuat.

Di sinilah perbedaan antara terlihat kaya dan memiliki kekayaan menjadi penting.

Dunning-Kruger Effect dan Rasa Percaya Diri Finansial

Fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan Dunning-Kruger Effect, sebuah konsep psikologi yang menjelaskan kecenderungan seseorang dengan pengetahuan atau kemampuan terbatas dalam bidang tertentu untuk menilai kemampuan dirinya lebih tinggi daripada kondisi sebenarnya.

Dalam konteks keuangan, konsep ini dapat digunakan untuk memahami mengapa sebagian orang yang baru mulai mengalami peningkatan pendapatan atau mengenal investasi bisa memiliki rasa percaya diri yang sangat besar.

Baca Juga: AC Mobil Bunyi Cetik dan Keluar Asap, Ternyata Penyebabnya Bukan Sekadar Kompresor

Menurut Rizki, kenaikan penghasilan atau keberhasilan investasi pertama dapat memunculkan keinginan untuk meningkatkan gaya hidup secara cepat.

Mulai dari mengganti kendaraan, membeli barang bermerek hingga mengejar berbagai simbol status.

Padahal, peningkatan pendapatan belum tentu berarti seseorang telah memiliki kekayaan yang kokoh.

Kekayaan membutuhkan proses yang lebih panjang, termasuk kemampuan mengelola pengeluaran, membangun aset, menyiapkan dana darurat dan menjaga arus kas tetap sehat.

Stealth Wealth: Kekayaan yang Tak Perlu Dipertontonkan

Berbeda dengan gaya hidup yang berorientasi pada penampilan, prinsip stealth wealth menempatkan kekayaan sebagai sarana untuk mendapatkan keamanan dan kebebasan hidup.

Seseorang yang menerapkan prinsip ini tidak menjadikan nilai barang yang dikenakan sebagai ukuran keberhasilan.

Mobil tidak harus menjadi simbol status.

Pakaian tidak harus memiliki logo besar. 

Baca Juga: Warung Mendu di Jembatan Mendu Kranggan, Ngopi Santai Sambil Nikmati Jembatan Bambu Estetik

Rumah pun tidak harus dibuat semewah mungkin, hanya demi menunjukkan kemampuan finansial.

"Fokusnya lebih banyak diarahkan pada apa yang tidak terlihat dari luar," kata dia.

Misalnya, berapa besar aset yang dimiliki, seberapa sehat kondisi keuangan, seberapa besar tabungan yang tersedia dan apakah seseorang memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana waktunya digunakan.

Dengan kata lain, kekayaan lebih banyak dibangun di balik layar daripada dipamerkan di depan publik.

Media Sosial Memperkuat Budaya Pamer

Perkembangan media sosial membuat persoalan ini semakin kompleks.

Setiap hari, pengguna internet dapat melihat foto perjalanan mewah, restoran mahal, kendaraan premium hingga berbagai barang bermerek milik orang lain.

Yang sering terlupakan, sambungnya, media sosial pada dasarnya hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Apa yang tampak mewah di layar belum tentu menggambarkan kondisi finansial secara keseluruhan.

Paparan terus-menerus terhadap gaya hidup tersebut dapat membuat seseorang merasa tertinggal.

Akibatnya, muncul dorongan untuk mengikuti standar konsumsi yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuan.

Baca Juga: Villa Hitam Putih di Puncak, Nginap Estetik dengan View Hutan dan Infinity Pool Mewah

"Siklusnya pun bisa berulang," ucap Rizki yang juga Sekretaris Koperasi Galang Visi Nusantara tersebut.

Melihat orang lain membeli barang mahal memunculkan keinginan untuk memiliki barang serupa.

Setelah membeli, muncul kebutuhan untuk mempertahankan gaya hidup tersebut agar tetap terlihat berhasil.

Tanpa disadari, uang dan energi yang seharusnya digunakan untuk membangun masa depan justru habis untuk mempertahankan citra.

Orang Kaya Mengarahkan Uang ke Aset

Salah satu cara sederhana memahami perbedaan antara konsumsi dan pembangunan kekayaan adalah melihat ke mana uang dialokasikan.

Pengeluaran konsumtif memberikan kepuasan atau manfaat pada saat ini.

Sementara, aset produktif berpotensi menghasilkan nilai atau pendapatan di masa mendatang.

Karena itu, membangun kekayaan biasanya tidak hanya berbicara mengenai berapa besar pendapatan seseorang, tetapi juga bagaimana uang tersebut dikelola.

Sebagian orang memilih mengalokasikan uang untuk investasi, mengembangkan bisnis, membeli aset yang menghasilkan pendapatan atau memperkuat tabungan.

Baca Juga: Update Pencairan BPNT Bank Mandiri 17 September 2026, Khusus KKS Baru Keluaran Mei 2026

Pilihan tersebut mungkin tidak terlihat menarik di media sosial.

Namun, dalam jangka panjang, keputusan finansial yang konsisten dapat memberikan fondasi yang lebih kuat dibandingkan sekadar mengejar simbol kemewahan.

Kemewahan Terbesar Bisa Jadi Adalah Kebebasan

Pada titik tertentu, definisi mengenai kemewahan dapat berubah.

Ketika seseorang tidak lagi sibuk membuktikan keberhasilannya kepada orang lain, uang dapat digunakan untuk membeli sesuatu yang jauh lebih sulit diperoleh: kebebasan waktu.

Kebebasan tersebut bisa berarti memiliki pilihan untuk mengurangi pekerjaan yang tidak disukai, menyediakan lebih banyak waktu bersama keluarga, mengejar minat pribadi atau menghadapi keadaan darurat tanpa langsung mengalami tekanan finansial.

Dalam perspektif ini, kekayaan bukan sekadar jumlah barang yang berada di rumah atau harga kendaraan yang terparkir di garasi.

Kekayaan juga berkaitan dengan seberapa besar kendali seseorang terhadap kehidupannya sendiri.

Cara Sederhana Menerapkan Prinsip Stealth Wealth

Menerapkan prinsip stealth wealth tidak berarti seseorang harus menolak semua barang mahal atau menjalani kehidupan yang serba sederhana.

Intinya adalah memastikan keputusan konsumsi tidak semata-mata didorong keinginan mendapatkan pengakuan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengevaluasi setiap pembelian dengan pertanyaan sederhana:

“Saya membeli barang ini karena memang membutuhkannya, atau karena ingin orang lain melihat saya memilikinya?”

Pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan kebutuhan pribadi dari tekanan sosial.

Selanjutnya, pengeluaran dapat disusun berdasarkan prioritas.

Tabungan dan investasi bisa ditempatkan sebagai bagian dari rencana keuangan, bukan sekadar menggunakan sisa uang setelah semua keinginan terpenuhi.

Memilih barang berdasarkan fungsi, kualitas dan daya tahan juga dapat menjadi bagian dari pola konsumsi yang lebih rasional.

Pada akhirnya, membangun kekayaan tidak selalu membutuhkan panggung.

Tidak semua aset harus terlihat.

"Tidak semua keberhasilan harus diumumkan," kata dia.

Dan tidak setiap pencapaian membutuhkan pengakuan dari orang lain.

Stealth wealth mengajarkan, kondisi finansial yang kuat justru dapat memberikan ketenangan untuk tidak terus-menerus membuktikan sesuatu kepada dunia.

Sebab, ketika tujuan utama bergeser dari terlihat kaya menjadi benar-benar memiliki keamanan finansial, uang tidak lagi sekadar digunakan untuk membangun citra, tetapi untuk menciptakan pilihan dan kebebasan di masa depan. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
ITB Vinus keuangan kaya