RADAR BOGOR - Tak semua orang yang dulu dikenal sebagai siswa paling pintar, akhirnya menjadi orang yang paling cepat mencapai kebebasan finansial.
Sebaliknya, ada pula mereka yang semasa sekolah biasa saja, tetapi mampu membangun karier, bisnis, maupun kondisi keuangan yang mapan ketika memasuki usia 30 tahun.
Perbedaan tersebut memunculkan satu pertanyaan menarik, apakah keberhasilan hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kerja keras?
Baca Juga: Inovasi Sosial dari Pongkor Mendunia, SS SUNDUNG ANTAM Raih Predikat EXCELLENT di IQPC 2026
Dalam kehidupan nyata, kerja keras memang penting.
Namun, bekerja tanpa strategi dan kemampuan mengendalikan keinginan jangka pendek dapat membuat seseorang terus sibuk tanpa benar-benar membangun kondisi finansial yang lebih kuat.
Ketua Program Studi Kewirausahaan Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Beti Renitawati menilai, kerja keras perlu ditopang dengan kemampuan lain agar dapat membawa seseorang menuju tujuan yang ingin dicapai.
“Kerja keras hanyalah mesin,” kata Beti Renitawati kepada Radar Bogor, Kamis 17 September 2026.
Menurutnya, mesin tersebut membutuhkan bahan bakar yang tepat agar dapat bergerak menuju tujuan.
Termasuk, dalam perjalanan membangun kesuksesan finansial.
Belajar Menunda Kepuasan Sejak Dini
Salah satu konsep psikologi yang sering dikaitkan dengan kemampuan tersebut adalah delay gratification, yaitu kemampuan menahan keinginan mendapatkan kesenangan saat ini demi memperoleh manfaat yang lebih besar di kemudian hari.
Konsep ini, kata Beti, populer setelah eksperimen marshmallow yang dilakukan psikolog Walter Mischel dan timnya pada anak-anak di Stanford pada akhir tahun 1960-an.
Dalam eksperimen tersebut, sambung dia, anak diberi pilihan antara menikmati satu marshmallow segera atau menunggu untuk mendapatkan tambahan marshmallow.
Gambaran sederhananya terlihat mudah, tetapi bagi anak-anak yang mengikutinya, keputusan tersebut menjadi latihan untuk menghadapi godaan yang ada di depan mata.
Baca Juga: 7 Metode Rahasia Mekanik Agar Aki Mobil Lebih Awet Bertahun-tahun
Kemampuan menunda keinginan inilah yang kemudian banyak dibahas dalam psikologi, terutama ketika dikaitkan dengan pengendalian diri dan pencapaian tujuan jangka panjang.
Namun, penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hubungan antara kemampuan menunda kepuasan dan keberhasilan hidup dipengaruhi banyak faktor lain.
Kondisi lingkungan, latar belakang keluarga, kesempatan pendidikan serta faktor sosial juga dapat berperan.
Artinya, seseorang tidak otomatis menjadi sukses hanya karena mampu menolak satu marshmallow.
'Marshmallow' Modern Ada di Sekitar Kita
Jika dulu godaan dalam eksperimen berbentuk makanan, jelas Beti, kehidupan modern menghadirkan bentuk yang jauh lebih beragam.
Ada tombol belanja dalam satu klik, layanan paylater, promosi tanpa henti hingga tren gaya hidup yang muncul setiap hari di media sosial.
Ya, godaan untuk mendapatkan kepuasan secara cepat menjadi semakin mudah.
Seseorang baru menerima penghasilan, misalnya, lalu tergoda menggunakannya untuk membeli barang yang sebenarnya tidak masuk dalam kebutuhan utama.
Jika pola tersebut terus berlangsung, menurut Beti, pendapatan yang meningkat belum tentu membuat kondisi keuangan ikut membaik.
Siklusnya bisa menjadi sederhana yakni bekerja, mendapatkan uang, menghabiskannya, kemudian kembali bekerja karena tidak memiliki cadangan yang cukup.
Kerja Keras Perlu Diikuti Strategi Keuangan
Kerja keras tetap menjadi bagian penting dalam membangun karier dan penghasilan.
"Persoalannya adalah apa yang dilakukan setelah pendapatan berhasil diperoleh," tuturnya.
Baca Juga: Pendidikan Dokter Spesialis Berpotensi Dualisme, MGBKI Sampaikan Kekhawatiran ke MK
Alih-alih langsung menaikkan gaya hidup setiap kali penghasilan meningkat, kata Beti, sebagian pendapatan dapat dialokasikan untuk kebutuhan jangka panjang.
Pilihan tersebut bisa berupa membangun dana darurat, meningkatkan keterampilan, pendidikan, maupun investasi sesuai tujuan dan profil risiko masing-masing.
Dengan cara itu, pendapatan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi modal untuk menciptakan peluang pada masa mendatang.
Efek Bunga Berbunga Membutuhkan Waktu
Konsep menunda kepuasan, sering dikaitkan dengan compound interest atau bunga berbunga.
Secara sederhana, keuntungan yang diperoleh dan kemudian tetap diinvestasikan dapat ikut menghasilkan keuntungan berikutnya.
Dalam jangka panjang, pertumbuhan tersebut dapat menjadi lebih besar dibandingkan jika seluruh hasil investasi selalu diambil untuk konsumsi.
Namun, hasil investasi tidak selalu positif dan tidak ada instrumen investasi yang bebas risiko.
Karena itu, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu dan kemampuan menanggung risiko.
Baca Juga: UMKM Masih Ekspansif, Indeks Bisnis BRI Tembus 102,1 pada Triwulan II 2026
Hal yang paling penting dari konsep tersebut adalah waktu dan konsistensi.
Semakin dini seseorang mulai membangun kebiasaan keuangan yang sehat, semakin panjang pula waktu yang tersedia untuk mengembangkan aset.
FOMO Bisa Membuat Pengeluaran Tak Terkendali
Tantangan lain yang sering dihadapi anak muda adalah fear of missing out atau FOMO.
Ketika lingkungan sekitar mulai menggunakan barang terbaru, berlibur ke tempat tertentu atau mengikuti tren gaya hidup, seseorang bisa merasa harus melakukan hal yang sama agar tidak dianggap tertinggal.
"Media sosial dapat memperkuat tekanan tersebut karena pengguna terus melihat berbagai pencapaian orang lain," jelas Beti
Padahal, apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan kondisi finansial seseorang secara utuh.
Karena itu, membandingkan kehidupan sendiri dengan potongan kehidupan orang lain dapat menghasilkan standar yang tidak realistis.
Kebiasaan Kecil Bisa Melatih Pengendalian Diri
Kemampuan menunda kepuasan bukan sesuatu yang harus langsung diterapkan melalui keputusan finansial besar.
Latihan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.
Misalnya, menunda pembelian yang tidak mendesak selama beberapa hari, membatasi penggunaan media sosial ketika sedang bekerja, atau menyisihkan sebagian penghasilan sebelum membelanjakannya.
Tujuannya bukan menghilangkan seluruh kesenangan dalam hidup.
Baca Juga: Oli Rembes di Sisi Kanan Mesin? Jangan Disepelekan, Seal Kruk As Bisa Jadi Biang Masalah
Justru, pengendalian diri berarti seseorang mampu menentukan kapan harus menikmati uang dan kapan perlu mengutamakan tujuan yang lebih panjang.
Sukses Sebelum 30 Bukan Sekadar Punya Banyak Uang
Mencapai kondisi finansial yang baik sebelum usia 30 tahun, tak harus diterjemahkan sebagai memiliki mobil mewah, rumah besar atau rekening dengan angka fantastis.
Ukuran keberhasilan setiap orang berbeda.
Bagi sebagian orang, kesuksesan mungkin berarti memiliki dana darurat yang memadai.
Bagi yang lain, bisa berupa bisnis yang mulai stabil, keterampilan yang bernilai tinggi, investasi yang sesuai tujuan atau terbebas dari tekanan utang konsumtif.
"Yang terpenting, memiliki arah yang jelas dan mampu membuat keputusan finansial secara sadar," bebernya.
Pada akhirnya, perjalanan menuju kesuksesan bukan hanya soal siapa yang paling pintar atau siapa yang bekerja paling lama.
Kerja keras perlu disertai strategi, pengendalian diri dan kemampuan melihat manfaat jangka panjang dari keputusan yang dibuat hari ini.
Sebab, ditegaskan Beti, dalam perjalanan membangun kehidupan yang lebih mapan, keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memiliki arti lebih besar daripada satu pencapaian besar yang hanya terjadi sesekali. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti