7 Cara Memutar Uang Kecil Jadi Besar, Bisa Mulai Rp100 Ribu

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 10:07 WIB
Tips menginvestasikan uang agar berkembang.
Tips menginvestasikan uang agar berkembang.

RADAR BOGOR - Banyak orang merasa sulit memperbaiki kondisi keuangan, karena penghasilan yang dimiliki masih terbatas. 

Padahal, menurut Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto, persoalan finansial tidak selalu berkaitan dengan besar kecilnya pendapatan.

Rizki mengatakan, hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana seseorang memperlakukan dan mengarahkan uang yang sudah dimilikinya. 

Bahkan, kebiasaan tersebut dapat dimulai dari nominal kecil.

Baca Juga: Siswi SMA Kosgoro Bogor Bawa Pulang Emas dari Kejuaraan Pencak Silat Internasional

“Banyak orang sibuk mencari cara mendapatkan lebih banyak uang, tapi belum belajar bagaimana cara mengembangkan uang yang sudah ada,” kata Rizki kepada Radar Bogor, Senin 21 September 2026.

Menurut dia, pengetahuan mengenai pengelolaan uang sering kali tidak diperoleh secara memadai sejak sekolah maupun lingkungan keluarga. 

Seseorang biasanya lebih banyak diajarkan cara mendapatkan penghasilan, jelas dia, tetapi belum tentu memahami apa yang harus dilakukan setelah uang tersebut berada di tangan.

Kondisi itu terlihat dari kebiasaan sebagian orang ketika menerima gaji. 

Pada awal bulan, uang terasa cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

Namun, setelah membayar tempat tinggal, tagihan, cicilan, kebutuhan keluarga, transportasi, makanan hingga belanja, saldo rekening perlahan menipis sebelum tanggal gajian berikutnya.

Masalah tersebut kemudian sering dianggap sebagai akibat dari penghasilan yang terlalu kecil.

Padahal, kenaikan pendapatan tidak selalu menyelesaikan persoalan apabila gaya hidup dan pengeluaran ikut meningkat.

Rizki pun membagikan tujuh cara yang dapat diterapkan untuk mulai mengelola dan mengembangkan uang dari nominal kecil.

1. Ketahui ke Mana Uang Pergi

Langkah pertama adalah memahami arus keluar-masuk uang.

Rizki mengibaratkan kondisi keuangan seperti sebuah ember yang digunakan untuk menampung air.

Baca Juga: 7 Penyebab AC Mobil Tiba-Tiba Tidak Dingin, Jangan Buru-Buru Isi Freon

Penghasilan merupakan air yang masuk ke dalam ember, sedangkan pengeluaran adalah lubang yang membuat air keluar.

Jika ember terus diisi tanpa memperhatikan kebocoran, air akan tetap berkurang.

Begitu pula dengan keuangan. Pengeluaran kecil yang terlihat sepele bisa menjadi besar jika terjadi berulang kali.

Karena itu, mencatat transaksi menjadi penting untuk mengetahui pos mana yang paling banyak menyerap uang.

Dengan memiliki catatan keuangan, seseorang dapat melihat kondisi finansial secara lebih jelas dan menentukan bagian mana yang perlu diperbaiki.

2. Jangan Tunggu Ada Sisa untuk Menabung

Kebiasaan yang sering terjadi adalah menggunakan uang untuk kebutuhan dan keinginan terlebih dahulu, kemudian menabung apabila masih ada sisa.

Menurut Rizki, pola tersebut justru membuat seseorang sering kali tidak memiliki uang yang tersisa untuk disimpan.

Ia menyarankan, agar sebagian uang langsung dialokasikan begitu penghasilan diterima. Nominalnya tidak harus besar.

Baca Juga: Penerimaan Pajak Digital 2026 Capai Rp57,23 Triliun, Ini Rinciannya

Menyisihkan Rp100 ribu, misalnya, dapat menjadi langkah awal jika memang sesuai dengan kemampuan keuangan.

“Yang sedang anda bangun adalah kebiasaan mengalokasikan uang sebelum uang tersebut habis,” ujarnya.

Dengan cara tersebut, seseorang tidak perlu menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang sehat.

3. Pisahkan Uang Berdasarkan Fungsinya

Saldo besar di rekening belum tentu berarti seseorang memiliki banyak uang yang bebas digunakan.

Persoalan dapat muncul ketika uang untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, tabungan, maupun tujuan lainnya berada di tempat yang sama tanpa pembagian yang jelas.

Rizki menyarankan agar uang diberikan fungsi masing-masing.

Misalnya, ada alokasi untuk kebutuhan rutin, dana darurat, tujuan jangka menengah, dan pengembangan aset jika kondisi keuangan sudah memungkinkan.

Dengan pembagian tersebut, seseorang dapat lebih mudah mengetahui uang mana yang boleh digunakan dan mana yang harus dipertahankan.

“Setiap uang punya pekerjaan. Karena uang yang enggak punya pekerjaan biasanya gampang dikasih pekerjaan baru, dan pekerjaan barunya sering kali check out,” kata Rizki.

4. Gunakan Uang Untuk Tingkatkan Kemampuan

Memutar uang tidak selalu berarti langsung membeli saham, emas, kripto, atau instrumen investasi lainnya.

Menurut Rizki, salah satu bentuk penggunaan uang yang dapat memberikan manfaat jangka panjang adalah meningkatkan kemampuan diri.

Sebagian uang dapat digunakan untuk mengikuti pembelajaran, membeli perlengkapan kerja, memperbaiki portofolio, atau mengembangkan keterampilan yang berpotensi menghasilkan pendapatan.

Misalnya, seseorang memiliki kemampuan desain, menulis, mengedit video, membuat konten, atau menjual jasa tertentu.

Pengeluaran untuk meningkatkan keterampilan maupun peralatan kerja dapat menjadi upaya memperbesar kemampuan menghasilkan pendapatan.

“Uang kecil digunakan untuk menciptakan kapasitas yang lebih besar,” jelasnya.

Namun, peningkatan kemampuan juga perlu dibarengi pengelolaan keuangan yang baik.

Sebab, kenaikan penghasilan tanpa pengendalian pengeluaran berpotensi kembali membawa seseorang pada persoalan yang sama.

5. Jangan Langsung Naikkan Gaya Hidup Saat Penghasilan Bertambah

Penghasilan tambahan bisa berasal dari bonus, pekerjaan lepas, menjual barang yang tidak lagi digunakan, maupun aktivitas lainnya.

Ketika mendapatkan uang tambahan, seseorang biasanya memiliki pilihan untuk langsung menggunakannya untuk konsumsi atau mengarahkannya ke tujuan finansial yang lebih besar.

Rizki mengingatkan, agar peningkatan penghasilan tidak otomatis diikuti peningkatan gaya hidup.

Sebagian uang tambahan dapat digunakan untuk memperkuat dana darurat, membayar utang, membeli peralatan kerja, menambah modal usaha, atau dialokasikan ke instrumen investasi yang telah dipahami risikonya.

Dengan begitu, kenaikan pendapatan tidak hanya menghasilkan peningkatan konsumsi, tetapi juga dapat memperkuat kondisi finansial dalam jangka panjang.

6. Beri Waktu dan Pahami Risiko

Keinginan mendapatkan hasil besar dalam waktu singkat, menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai ketika seseorang baru mulai mengelola uang.

Rizki menekankan, uang yang dikelola dalam jumlah kecil memang tidak selalu memberikan hasil yang langsung terlihat.

Kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten mungkin belum terasa pada bulan pertama atau kedua.

Namun, seiring waktu, kebiasaan tersebut dapat membentuk fondasi keuangan yang lebih kuat.

Dalam investasi, ia juga mengingatkan bahwa keuntungan tidak pernah lepas dari risiko.

Karena itu, seseorang perlu memahami instrumen yang digunakan, termasuk risiko dan biaya yang menyertainya.

Jangan sampai seseorang mengejar keuntungan besar ketika kondisi keuangan dasarnya belum siap, seperti belum memiliki dana darurat atau masih memiliki utang konsumtif yang berat.

7. Putar Kembali Hasil yang Sudah Diperoleh

Langkah terakhir, tidak selalu menghabiskan seluruh hasil dari uang atau aktivitas yang menghasilkan pendapatan.

Rizki menggambarkannya seperti sebuah pohon.

Setelah pohon menghasilkan buah, tidak seluruh buah harus diambil untuk dikonsumsi.

Sebagian dapat digunakan kembali untuk merawat dan mengembangkan pohon tersebut.

Baca Juga: Sebelum Air Kareo Bogor Memerah, Juru Kunci Mengaku Mimpi Ada 3 Sosok

Konsep serupa dapat diterapkan dalam keuangan.

Jika memiliki usaha kecil dan memperoleh keuntungan, sebagian hasil dapat dikembalikan sebagai modal.

Bagi pekerja lepas, sebagian penghasilan tambahan dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan atau perlengkapan kerja.

Sementara bagi seseorang yang telah menggunakan instrumen investasi, keputusan terhadap hasil investasi tetap perlu mempertimbangkan tujuan keuangan dan risiko yang dimiliki.

Menurut Rizki, prinsip tersebut berkaitan dengan efek compounding, yaitu ketika hasil yang diperoleh tetap berada dalam sistem dan berpotensi menghasilkan kembali.

Namun, pertumbuhan tersebut membutuhkan waktu dan konsistensi, bukan hasil instan.

Uang Kecil Bukan Alasan untuk Tidak Mulai

Dari tujuh langkah tersebut, Rizki menekankan, tujuan utamanya bukan mengubah uang Rp100 ribu menjadi jutaan rupiah dalam waktu singkat.

Hal yang lebih penting adalah membangun sistem dan kebiasaan dalam mengelola uang.

Seseorang perlu mengetahui dari mana uang datang, ke mana uang pergi, berapa yang dapat disisihkan, serta apa tujuan dari setiap alokasi yang dibuat.

“Yang sedang Anda bangun bukan cuma saldo. Anda sedang membangun sebuah sistem. Sistem yang membuat uang punya tujuan,” ungkap Rizki.

Ia menilai, fase ketika seseorang masih memiliki uang terbatas justru dapat menjadi proses belajar untuk mengatur keuangan.

Pada tahap tersebut, seseorang dapat belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, mencatat pengeluaran, menentukan prioritas, menunda kesenangan, serta menyisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan.

Karena itu, seseorang tidak perlu menunggu memiliki uang dalam jumlah besar untuk mulai belajar mengelolanya.

“Kalau anda menunggu punya uang banyak baru belajar mengelola uang, anda sebenarnya sedang menunda latihan yang paling penting,” ujarnya.

Mulai dari Nominal yang Realistis

Rizki menyarankan, agar masyarakat tidak terbebani dengan keharusan langsung memiliki tabungan besar atau investasi dalam jumlah tertentu.

Langkah awal dapat dimulai dengan mengetahui kondisi keuangan saat ini, mencatat pengeluaran, mengurangi kebocoran yang masih bisa dikendalikan, kemudian menyisihkan nominal yang realistis secara rutin.

Menurut dia, konsistensi lebih penting daripada memaksakan nominal yang terlalu besar tetapi tidak mampu dipertahankan.

Pada akhirnya, perubahan kondisi finansial tidak selalu dimulai dari kenaikan penghasilan yang besar.

Kebiasaan kecil dalam memperlakukan uang juga dapat menjadi bagian dari proses membangun kondisi keuangan yang lebih terarah.

“Mulai dari sistem kecil, mulai dari catatan kecil, mulai dari nominal kecil, mulai dari kebiasaan kecil,” kata Rizki.

Dengan demikian, uang yang sedikit bukan berarti tidak memiliki manfaat.

Selama diarahkan dengan tujuan yang jelas, uang kecil dapat menjadi bagian dari proses membangun kebiasaan finansial dan membuka ruang untuk pertumbuhan keuangan secara bertahap. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor ITB Vinus uang