RADAR BOGOR - Bayangkan harus mengumpulkan Rp150 juta dari penghasilan yang sebagian besar habis untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagi pekerja dengan gaji setara upah minimum atau UMR, angka tersebut mungkin terasa seperti target yang sulit disentuh.
Namun, Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto mengatakan, target tersebut tetap bisa dikejar selama strategi keuangannya disusun secara realistis.
“Kalau Anda hanya mampu menyisihkan Rp500.000 setiap bulan, untuk mencapai Rp150 juta tanpa memperhitungkan hasil investasi dibutuhkan waktu 25 tahun,” kata Rizki kepada Radar Bogor, Selasa 22 September 2026.
Baca Juga: Kenapa Mocin Punya Akselerasi Galak? Ternyata Ada di Kompresi dan Timing Pengapian
Hitungan tersebut menunjukkan, sekadar menabung dengan nominal tetap belum tentu cukup untuk mengejar target dalam waktu yang relatif singkat.
Karena itu, menurut Rizki, pekerja perlu melihat persoalan finansial dari dua sisi sekaligus, yakni mengendalikan pengeluaran dan meningkatkan pendapatan.
Mengapa Rp150 Juta Terasa Begitu Jauh?
Bagi sebagian pekerja, menyisihkan uang setiap bulan bukan perkara mudah.
Setelah gaji diterima, pendapatan langsung terbagi untuk makan, tempat tinggal, transportasi, listrik, pulsa, kebutuhan pribadi hingga membantu keluarga.
Kenaikan harga kebutuhan pokok juga membuat ruang untuk menabung semakin sempit.
“Jangan langsung menganggap diri kita gagal ketika tidak bisa menabung dalam jumlah besar. Kondisi setiap orang berbeda,” ujar Rizki.
Ia mengatakan, ada pekerja yang tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Sebagian harus membantu orang tua, membiayai pendidikan adik atau memenuhi kebutuhan keluarga lainnya.
“Rumus finansial di buku tidak selalu bisa diterapkan persis sama kepada semua orang. Ada faktor sosial dan keluarga yang juga harus diperhitungkan,” katanya.
Kondisi tersebut membuat target Rp150 juta membutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel.
1. Jangan Terjebak Menghemat Pengeluaran Kecil
Mengurangi pengeluaran kecil memang dapat membantu.
Namun, menurut Rizki, strategi keuangan tidak seharusnya hanya berfokus pada kebiasaan seperti membeli kopi atau jajan.
“Kalau kita bisa menghemat Rp100.000 sampai Rp300.000 per bulan, tentu itu bagus. Tetapi untuk mengejar target Rp150 juta, kita juga harus melihat pengeluaran yang nilainya jauh lebih besar,” jelasnya.
Cicilan kendaraan, biaya tempat tinggal, penggunaan kartu kredit, pinjaman konsumtif hingga layanan beli sekarang bayar nanti dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap kondisi keuangan bulanan.
Karena itu, audit keuangan perlu dilakukan secara menyeluruh.
2. Utang Konsumtif Jadi Prioritas
Sebelum mengejar pertumbuhan investasi, Rizki menyarankan pekerja mengendalikan terlebih dahulu utang konsumtif dengan bunga tinggi.
“Jangan sampai kita sibuk mencari return investasi, sementara utang dengan bunga tinggi masih terus berjalan,” ujarnya.
Menurutnya, beban bunga dapat membuat uang yang seharusnya masuk ke tabungan justru habis untuk membayar kewajiban.
Setelah utang terkendali, barulah seseorang memiliki ruang yang lebih sehat untuk membangun tabungan, dana darurat dan investasi.
3. Atur Anggaran Sesuai Gaji
Rizki juga mengingatkan bahwa pola pembagian anggaran 50:30:20 tidak selalu cocok bagi pekerja bergaji UMR.
“Untuk pekerja dengan penghasilan terbatas, kebutuhan dasar bisa mengambil lebih dari setengah pendapatan. Jadi jangan memaksakan rumus yang tidak sesuai kondisi,” katanya.
Baca Juga: Terjebak Lingkaran Utang? Begini 7 Cara Memutusnya
Sebagai gambaran, seseorang dapat menggunakan sekitar 70-75 persen penghasilan untuk kebutuhan utama, 10 persen untuk hiburan dan kebutuhan fleksibel, serta sekitar 15-20 persen untuk tujuan finansial.
“Yang penting bukan persentasenya harus sama persis, tetapi ada uang yang benar-benar dialokasikan untuk masa depan,” kata Rizki.
4. Cari Kebocoran yang Sering Tidak Disadari
Langkah berikutnya adalah melakukan audit terhadap transaksi selama tiga bulan terakhir.
Periksa kembali biaya langganan aplikasi, biaya administrasi, ongkos transportasi, pesan makanan, belanja impulsif hingga transaksi kecil melalui dompet digital.
“Banyak kebocoran terjadi karena nominalnya kecil dan kita merasa tidak masalah. Padahal kalau dikumpulkan selama satu tahun, jumlahnya bisa cukup besar,” ujarnya.
Penghematan tersebut kemudian dapat dialihkan ke rekening khusus untuk target Rp150 juta.
5. Hemat Tanpa Mengorbankan Kualitas Hidup
Menurut Rizki, menghemat bukan berarti harus menjalani hidup secara ekstrem.
Salah satu caranya adalah mengganti kebiasaan mahal dengan alternatif yang lebih ekonomis.
Misalnya, membawa bekal beberapa kali dalam seminggu.
Jika seseorang bisa menghemat rata-rata Rp15.000 per hari selama 20 hari kerja, terdapat potensi penghematan sekitar Rp300.000 dalam sebulan.
“Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup. Prinsipnya adalah mencari alternatif yang lebih murah tanpa membuat kita merasa tersiksa,” jelas Rizki.
Bagi perantau, biaya kos dan transportasi juga dapat menjadi pos yang dievaluasi.
Jika kondisi memungkinkan, berbagi tempat tinggal atau memilih lokasi yang lebih terjangkau dan memiliki akses transportasi dapat mengurangi pengeluaran bulanan.
6. Dana Darurat Tetap Harus Dibangun
Sebelum mengalokasikan seluruh uang untuk mengejar Rp150 juta, dana darurat perlu disiapkan.
Untuk pekerja lajang, target awal dapat dibuat sekitar tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan. Bagi mereka yang memiliki tanggungan, kebutuhan dana darurat bisa lebih besar.
“Dana darurat berfungsi sebagai benteng. Ketika ada masalah seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendadak, kita tidak perlu langsung berutang,” kata Rizki.
Dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang relatif mudah dicairkan dan sesuai dengan kebutuhan jangka pendek.
7. Terapkan Pay Yourself First
Setelah menerima gaji, Rizki menyarankan agar sebagian uang langsung dipisahkan sebelum digunakan untuk kebutuhan lainnya.
“Jangan menunggu uang tersisa di akhir bulan. Begitu gaji masuk, langsung sisihkan bagian untuk masa depan,” ujarnya.
Baca Juga: Resep Telur Saus Tiram ala Chef Devina Hermawan, Praktis dan Ekonomis untuk Menu Keluarga
Sebagai contoh, pekerja dapat memulai dengan 10-15 persen dari penghasilan.
Jika pendapatan meningkat, jumlah tersebut dapat dinaikkan secara bertahap.
Cara tersebut membuat proses menabung menjadi sistem, bukan sekadar mengandalkan niat.
8. Rp150 Juta Akan Lebih Cepat Jika Penghasilan Bertambah
Menurut Rizki, kemampuan menghemat memiliki batas.
Karena itu, peningkatan penghasilan menjadi bagian penting dalam mengejar target Rp150 juta.
“Kalau hanya mengandalkan penghematan, ruangnya terbatas. Tetapi kalau penghasilan bertambah, kemampuan kita menyisihkan uang juga ikut meningkat,” katanya.
Sumber penghasilan tambahan dapat disesuaikan dengan keterampilan masing-masing.
Pekerjaan seperti administrasi paruh waktu, desain, penulisan, transkripsi, pengelolaan media sosial, jasa titip, pemasaran afiliasi atau pekerjaan lepas dapat menjadi pilihan selama sesuai kemampuan dan tidak mengganggu pekerjaan utama.
“Skill yang kita gunakan setiap hari di kantor sebenarnya bisa menjadi aset. Tinggal bagaimana kemampuan itu ditawarkan kepada orang atau bisnis lain,” ujar Rizki.
9. Jangan Habiskan Penghasilan Sampingan
Pendapatan tambahan akan kurang berdampak jika langsung digunakan untuk meningkatkan gaya hidup.
Rizki menyarankan, agar sebagian besar atau seluruh pendapatan sampingan selama masa mengejar target dialokasikan untuk tabungan dan investasi.
“Kalau penghasilan tambahan naik tetapi pengeluaran juga naik dengan jumlah yang sama, gap kita tidak berubah,” katanya.
Baca Juga: Cara Daftar Agen Perlinsos, Relawan Bantu Warga Perbarui Data Perlindungan Sosial
Misalnya, seseorang memperoleh tambahan Rp1 juta per bulan dari pekerjaan sampingan.
Jika uang tersebut seluruhnya dialihkan untuk target Rp150 juta, dalam satu tahun terdapat tambahan dana Rp12 juta sebelum memperhitungkan hasil investasi.
10. Karier Utama Juga Perlu Didorong
Selain pekerjaan sampingan, peningkatan penghasilan dari pekerjaan utama juga tidak kalah penting.
Rizki mendorong, pekerja untuk meningkatkan keterampilan, menyusun portofolio dan memahami nilai kemampuan mereka di pasar kerja.
“Jangan hanya bekerja bertahun-tahun dengan kemampuan yang sama. Skill harus berkembang karena itu yang kemudian bisa menjadi dasar untuk mendapatkan pendapatan lebih tinggi,” ujarnya.
Perpindahan perusahaan juga dapat menjadi pilihan karier, jika dilakukan dengan perhitungan matang dan mempertimbangkan peluang pengembangan diri, kompensasi serta stabilitas pekerjaan.
11. Investasi Bukan Jalan Pintas
Setelah arus kas lebih sehat dan dana darurat tersedia, investasi dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk membantu mencapai target.
Namun, Rizki mengingatkan agar masyarakat tidak mengejar instrumen yang menawarkan keuntungan cepat tanpa memahami risikonya.
“Tujuan awal investasi bukan mencari keuntungan fantastis, tetapi membuat uang yang sudah kita sisihkan memiliki peluang untuk berkembang,” katanya.
Untuk kebutuhan jangka pendek dan dana yang harus relatif mudah dicairkan, masyarakat dapat mempelajari instrumen seperti reksa dana pasar uang.
Sementara untuk tujuan jangka menengah dan panjang, investor dapat mempelajari berbagai pilihan seperti SBN ritel atau instrumen pasar modal lainnya sesuai profil risiko.
“Jangan pernah menaruh uang pada instrumen yang tidak kita pahami. Pahami dulu cara kerjanya, risikonya dan kapan uang itu akan dibutuhkan,” ujar Rizki.
12. Simulasi Realistis Menuju Rp150 Juta
Untuk melihat gambaran yang lebih masuk akal, perjalanan menuju Rp150 juta dapat dibuat melalui peningkatan setoran secara bertahap.
Sebagai ilustrasi, seseorang mulai mengalokasikan Rp1,5 juta per bulan.
Jika jumlah setoran dinaikkan sekitar 10 persen setiap tahun, dengan asumsi hasil investasi rata-rata 6 persen per tahun, target Rp150 juta dapat didekati sekitar tahun ketujuh.
Perhitungan tersebut bukan jaminan karena hasil investasi sebenarnya dapat naik dan turun, tergantung instrumen yang digunakan.
Jika tidak ada hasil investasi sama sekali dan setoran tetap Rp1,5 juta per bulan, dibutuhkan sekitar 100 bulan atau 8 tahun 4 bulan untuk mengumpulkan Rp150 juta.
Artinya, percepatan tidak hanya berasal dari investasi, tetapi juga dari kemampuan meningkatkan jumlah setoran.
“Yang paling menentukan tetap berapa besar uang yang bisa kita sisihkan secara konsisten. Investasi hanya menjadi salah satu alat untuk membantu pertumbuhan uang tersebut,” kata Rizki.
13. Gambaran Perjalanan 7 Tahun
Pada tahun pertama, fokus utama adalah membenahi arus kas, mengurangi utang konsumtif dan membangun dana darurat.
Tahun kedua menjadi fase memperkuat kebiasaan menabung dan mulai meningkatkan jumlah investasi secara berkala.
Memasuki tahun ketiga dan keempat, peningkatan pendapatan mulai menjadi faktor penting.
Pekerja dapat mencari proyek tambahan, meningkatkan kemampuan atau mengejar peluang karier baru.
Tahun kelima dan keenam menjadi fase mempertahankan tingkat tabungan sekaligus menghindari kenaikan gaya hidup yang terlalu cepat.
Pada tahun ketujuh, dengan asumsi setoran terus meningkat dan hasil investasi sesuai ilustrasi, target Rp150 juta mulai berada dalam jangkauan.
Namun, Rizki menegaskan bahwa tidak semua orang akan mencapai angka tersebut pada waktu yang sama.
“Jangan menjadikan tujuh tahun sebagai angka mutlak. Ada yang bisa lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Yang penting sistemnya berjalan dan terus diperbaiki,” katanya.
14. Konsistensi Lebih Penting daripada Sensasi Cuan
Perjalanan mengumpulkan Rp150 juta bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam semalam.
Akan ada bulan ketika seseorang tidak mampu menyetor sesuai target karena kebutuhan mendadak. Hal tersebut tidak berarti seluruh rencana harus dihentikan.
“Kalau ada satu bulan yang gagal, jangan langsung menyerah. Evaluasi, kemudian lanjutkan lagi bulan berikutnya,” ujar Rizki.
Baca Juga: Misteri Kematian Lansia di Gunung Sindur Bogor Terbongkar, Orang Terdekat Diamankan
Menurutnya, kebiasaan finansial yang bertahan selama bertahun-tahun jauh lebih penting daripada mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat.
Target Rp150 juta pada akhirnya bukan hanya mengenai jumlah uang di rekening.
Proses menuju angka tersebut memaksa seseorang belajar mengatur pengeluaran, mengendalikan utang, membangun dana darurat, meningkatkan penghasilan dan memahami investasi.
“Penghasilan awal memang menentukan titik start, tetapi kebiasaan mengelola uang menentukan bagaimana perjalanan kita berikutnya,” kata Rizki.
Bagi pekerja bergaji UMR, Rp150 juta mungkin terlihat seperti angka yang sangat besar.
Namun, ketika target tersebut dipecah menjadi setoran bulanan, peningkatan pendapatan dan waktu yang cukup, perjalanannya menjadi lebih terukur.
Bukan berarti mudah, apalagi instan.
Tetapi dengan perencanaan yang realistis dan konsistensi, target finansial dapat dikejar sedikit demi sedikit tanpa harus mengorbankan seluruh kualitas hidup. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti