Aneh Suami Istri Kerja Tapi Uang Habis Terus, Coba 8 Strategi Jitu

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 11:19 WIB
ILUSTRASI: Pasangan suami istri bekerja tapi uang selalu habis.
ILUSTRASI: Pasangan suami istri bekerja tapi uang selalu habis.

RADAR BOGOR - Memiliki dua sumber penghasilan dalam rumah tangga seharusnya bisa menjadi modal untuk membangun kondisi finansial yang lebih kuat. 

Namun, kenyataannya tidak sedikit pasangan yang tetap merasa uang selalu habis meski suami dan istri sama-sama bekerja.

Situasi seperti ini, kerap baru terasa ketika memasuki akhir bulan. 

Tagihan sudah dibayar, kebutuhan sehari-hari terpenuhi, tetapi tabungan tidak kunjung bertambah.

Baca Juga: PPPK Dosen dan PPPK Paruh Waktu Ternyata Berbeda, Ini Aturan yang Wajib Dipahami

Alih-alih membahas penyebabnya bersama, pasangan justru bisa mulai saling bertanya ke mana uang pergi dan siapa yang paling banyak mengeluarkan biaya.

Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto, mengatakan persoalan tersebut tidak selalu berkaitan dengan besarnya penghasilan.

Menurutnya, masalah dapat muncul ketika suami dan istri tidak memiliki sistem pengelolaan keuangan yang disepakati bersama.

“Masalah utamanya bukan pada nominal angka yang tertera di slip gaji, melainkan pada ego kepemilikan yang masih sangat kuat,” kata Rizki kepada Radar Bogor, Rabu 23 September 2026.

1. Dua penghasilan, tetapi dua arah keuangan

Menurut Rizki, pasangan yang sama-sama bekerja memiliki keuntungan karena terdapat dua sumber pemasukan.

Namun, keuntungan tersebut dapat berubah menjadi persoalan ketika masing-masing pihak merasa memiliki kebebasan penuh terhadap penghasilannya tanpa membicarakan tujuan keuangan keluarga.

Dalam kondisi seperti itu, pengeluaran rumah tangga berpotensi tumpang tindih. 

Suami membayar sejumlah kebutuhan, sementara istri melakukan pengeluaran lain, tetapi keduanya tidak memiliki gambaran utuh mengenai kondisi keuangan keluarga.

Akibatnya, pemasukan yang sebenarnya cukup justru sulit menghasilkan tabungan atau aset dalam jangka panjang.

Baca Juga: Kebakaran Hebat di Kebayoran Lama, 150 Warga Kehilangan Tempat Tinggal

Rizki mengibaratkan, kondisi tersebut seperti sebuah usaha yang memiliki dua kasir, tetapi tidak memiliki pembukuan dan koordinasi yang jelas.

“Begitu pula dengan rumah tangga. Mengelola dua gaji tanpa satu sistem perencanaan yang padu itu ibarat menjalankan bisnis tanpa pembukuan yang jelas,” ujarnya kepada Radar Bogor.

2. Jangan jadikan gaji pasangan sebagai alasan untuk lebih boros

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah munculnya rasa aman semu karena rumah tangga memiliki dua penghasilan.

Ketika suami dan istri sama-sama menerima gaji, pengeluaran konsumtif terkadang dianggap tidak terlalu berisiko karena masih ada pemasukan dari pasangan.

Padahal, jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, tambahan pendapatan tidak otomatis berubah menjadi tambahan kekayaan.

Kenaikan penghasilan justru bisa diikuti peningkatan gaya hidup. 

Barang yang sebelumnya dianggap tidak perlu mulai dibeli, frekuensi makan di luar bertambah, begitu pula pengeluaran untuk hiburan dan kebutuhan personal.

Karena itu, menurut Rizki, pasangan perlu membedakan antara uang untuk kebutuhan saat ini dan uang yang sengaja disiapkan untuk masa depan.

3. Tentukan tujuan sebelum membagi gaji

Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan pasangan adalah membicarakan tujuan finansial bersama.

Pembicaraan tersebut bukan sekadar menentukan siapa yang membayar listrik, cicilan, belanja rumah, atau biaya internet.

Lebih jauh, pasangan perlu memiliki gambaran mengenai kehidupan yang ingin dibangun dalam beberapa tahun mendatang.

Misalnya, apakah keluarga ingin membeli rumah, menyiapkan dana pendidikan anak, membangun dana darurat, atau mempersiapkan kebutuhan masa pensiun.

Baca Juga: Karier Dosen PPPK Jadi Sorotan, Bukan Hanya Soal Gaji dan Status

“Langkah pertama yang wajib diambil bukan menentukan siapa yang membayar tagihan, melainkan menyatukan visi besar tentang mau dibawa ke mana hidup kalian dalam 10 tahun ke depan,” tutur Rizki.

Dengan tujuan yang jelas, pembagian penghasilan akan lebih mudah disusun karena setiap rupiah memiliki fungsi yang lebih terarah.

4. Tak harus semua uang dicampur

Transparansi finansial dalam rumah tangga juga tidak berarti seluruh uang pribadi harus kehilangan ruang.

Rizki menyebut pasangan tetap dapat memiliki alokasi uang pribadi yang dapat digunakan tanpa harus mempertanggungjawabkan setiap pengeluaran kecil.

Namun, kebutuhan pokok, kewajiban keluarga, tabungan, dana darurat, dan target finansial bersama harus lebih dulu disepakati.

Dengan cara tersebut, pasangan tetap memiliki kebebasan personal sekaligus menjaga kepentingan keluarga.

Hal yang paling penting adalah kedua pihak mengetahui kondisi keuangan secara terbuka, termasuk pemasukan, kewajiban, utang, tabungan, dan target yang sedang dikejar.

5. Buat rekening khusus untuk masa depan

Untuk mencegah uang tabungan terpakai kembali, pasangan dapat mempertimbangkan rekening terpisah yang dikhususkan untuk tujuan jangka panjang.

Rekening tersebut dapat digunakan untuk menampung dana darurat, tabungan rumah, pendidikan anak, maupun investasi sesuai kemampuan dan profil risiko masing-masing.

Dengan pemisahan tersebut, uang untuk kebutuhan sehari-hari tidak bercampur dengan dana yang seharusnya disimpan.

Baca Juga: Kompetisi Fotografi BRI inFrame 2026 Resmi Dibuka, Ini Tema dan Subtemanya

Rizki menyebut pembagian fungsi penghasilan dapat membantu pasangan memiliki sistem keuangan yang lebih sederhana.

“Satu penghasilan berfungsi sebagai bahan bakar harian dan penghasilan lainnya berfungsi sebagai mesin pertumbuhan kekayaan,” jelasnya.

Namun, pembagian tersebut tidak harus selalu diterapkan secara kaku. 

Kondisi pendapatan, utang, kebutuhan keluarga, dan kestabilan pekerjaan masing-masing pasangan tetap perlu menjadi pertimbangan.

6. Evaluasi keuangan secara rutin

Setelah sistem dibuat, pasangan juga perlu melakukan evaluasi secara berkala.

Tidak harus dalam suasana formal. 

Pembicaraan sederhana setiap akhir pekan atau setiap awal bulan sudah dapat menjadi kesempatan untuk melihat apakah pengeluaran masih sesuai rencana.

Pasangan dapat mengecek berapa pemasukan yang diterima, kebutuhan apa saja yang sudah dibayar, pengeluaran yang tidak direncanakan, serta berapa dana yang berhasil disisihkan.

Evaluasi juga dapat mencegah persoalan kecil berkembang menjadi konflik besar.

Jika terdapat pengeluaran yang dianggap terlalu besar, pembahasannya sebaiknya dilakukan sebagai evaluasi bersama, bukan sebagai ajang mencari siapa yang salah.

7. Bangun target yang ingin dicapai bersama

Target finansial yang konkret dapat menjadi motivasi bagi pasangan untuk lebih disiplin.

Daripada hanya mengatakan ingin “menabung lebih banyak”, pasangan dapat menentukan tujuan yang lebih spesifik, misalnya mengumpulkan uang muka rumah dalam beberapa tahun atau menyiapkan dana pendidikan anak.

Target tersebut kemudian dapat diterjemahkan menjadi jumlah tabungan yang harus disisihkan setiap bulan.

Dengan demikian, dua penghasilan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga membangun fondasi kehidupan keluarga di masa mendatang.

8. Kunci utamanya adalah transparansi

Pada akhirnya, persoalan keuangan rumah tangga bukan hanya soal siapa yang memiliki gaji lebih besar.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana suami dan istri melihat pemasukan tersebut sebagai bagian dari tujuan bersama.

Menurut Rizki, keterbukaan mengenai kondisi finansial dapat membantu pasangan membangun rasa percaya dan mengurangi potensi konflik akibat kesalahpahaman.

“Transparansi finansial bukan berarti Anda kehilangan kebebasan, melainkan memberikan keamanan bagi pasangan untuk tahu bahwa masa depan sedang diperjuangkan bersama,” katanya.

Baca Juga: Macet vs Tanjakan, Mana yang Lebih Bikin Mobil Cepat Rusak? Kenali Komponen yang Paling Terbebani

Dua gaji memang dapat menjadi kekuatan besar bagi sebuah keluarga. 

Namun, tanpa perencanaan, penghasilan tambahan juga bisa habis mengikuti kebutuhan dan gaya hidup yang terus meningkat.

Karena itu, yang menentukan bukan sekadar berapa banyak uang yang masuk setiap bulan, tetapi bagaimana pasangan menyepakati tujuan, membagi tanggung jawab, mengendalikan pengeluaran, dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan.

Dengan sistem yang jelas, pengelolaan gaji tidak lagi menjadi sumber kecurigaan atau pertengkaran. 

Sebaliknya, uang dapat menjadi alat untuk memperkuat kerja sama pasangan dalam membangun kehidupan keluarga yang lebih terencana. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor ITB Vinus gaji