3 Cara Warga Bogor Meraih Kebebasan Finansial Tanpa Terjebak Angka

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 11:52 WIB
ILUSTRASI : Bebas finansial
ILUSTRASI : Bebas finansial

RADAR BOGOR - Banyak orang mengira, kebebasan finansial hanya bisa diraih ketika penghasilan sudah besar dan tabungan terus bertambah. 

Namun, kenyataannya, kenaikan pendapatan tidak selalu membuat seseorang merasa lebih tenang.

Ada kalanya penghasilan meningkat, tabungan mulai terkumpul, bahkan utang perlahan berkurang. 

Tetapi di saat yang sama, pikiran justru semakin penuh karena muncul target baru yang tidak ada habisnya.

Baca Juga: V-Belt Motor Matic Cepat Putus? Warga Bogor Wajib Tahu Penyebabnya, Ternyata Bukan Cuma karena Usia

Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto menyoroti kondisi tersebut, sebagai bagian dari persoalan dalam cara seseorang memandang kebebasan finansial.

Menurut Rizki, kebebasan finansial tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya uang yang dimiliki. 

Ada aspek lain yang tidak kalah penting, yakni kemampuan mengendalikan kebutuhan, menentukan prioritas, serta menciptakan keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Kebebasan Finansial Tak Selalu Soal Banyak Uang

Selama ini, ukuran keberhasilan finansial sering dikaitkan dengan angka. 

Mulai dari jumlah penghasilan bulanan, nilai tabungan, persentase investasi hingga target dana pensiun.

Masalahnya, target tersebut bisa terus bergerak. 

Ketika penghasilan naik, standar kebutuhan ikut meningkat.

Begitu pula saat tabungan bertambah, muncul keinginan baru yang membuat seseorang kembali merasa belum cukup.

Dalam kondisi seperti itu, seseorang bisa saja mengalami tekanan meski secara finansial sebenarnya sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Baca Juga: DPRD Bogor Soroti APBD 2026, Anggaran Pengadaan Tanah yang Belum Mendesak Diminta Ditunda

Rizki menggambarkan, kebebasan finansial seharusnya tidak hanya dilihat dari kemampuan memiliki aset dalam jumlah besar atau menikmati gaya hidup mewah.

“Bebas finansial itu bukan soal punya miliaran, rumah gede atau liburan mewah, tapi soal merasa cukup di waktu yang pas dengan cara yang pas,” jelas Rizki kepada Radar Bogor, Kamis 24 September 2026.

Persoalan ini berkaitan dengan konsep psikologi yang dikenal sebagai hedonic treadmill. 

Istilah tersebut menggambarkan kecenderungan manusia untuk cepat terbiasa dengan peningkatan kondisi atau kepemilikan, sehingga kepuasan yang dirasakan dapat kembali menurun dan muncul keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar.

Akibatnya, pencapaian finansial yang sebelumnya dianggap sebagai tujuan justru bisa berubah menjadi standar baru.

Ketika Gaya Hidup Ikut Naik

Kenaikan penghasilan sebenarnya dapat memberikan ruang finansial yang lebih besar. 

Namun, manfaat tersebut bisa berkurang apabila gaya hidup ikut meningkat secara terus-menerus.

Pengeluaran yang awalnya dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri perlahan dapat berubah menjadi kebutuhan rutin.

Langganan berbagai layanan, kebiasaan membeli makanan atau minuman di luar, hingga pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa menjadi beban jika tidak pernah dievaluasi.

Karena itu, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menghitung kembali seluruh pengeluaran dalam satu bulan.

Baca Juga: Hati-hati Keliru, 4.770 Formasi CPNS 2026 Ternyata Bukan untuk Umum, Ini Rinciannya

Pisahkan antara kebutuhan pokok dan pengeluaran yang sebenarnya muncul karena kebiasaan. 

Dari sana, seseorang dapat melihat pos mana yang benar-benar memberikan manfaat dan mana yang hanya menguras anggaran.

Bukan berarti setiap orang harus menjalani hidup dengan sangat hemat. 

Intinya adalah memahami alasan di balik setiap pengeluaran.

Pertanyaan sederhananya: apakah barang atau layanan tersebut memang dibutuhkan, atau hanya dibeli karena sudah menjadi kebiasaan?

3 Langkah untuk Membangun Keuangan yang Lebih Seimbang

Rizki dalam materi tersebut merangkum sejumlah langkah yang dapat diterapkan untuk membangun kehidupan finansial yang lebih terarah.

1. Tentukan Versi “Cukup” untuk Diri Sendiri

Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, standar finansial orang lain tidak selalu cocok diterapkan dalam kehidupan sendiri.

Langkah pertama adalah menghitung biaya hidup yang benar-benar dibutuhkan setiap bulan. 

Mulai dari makanan, tempat tinggal, transportasi hingga kebutuhan rutin lainnya.

Dengan mengetahui angka tersebut, seseorang dapat melihat seberapa besar kebutuhan sebenarnya untuk menjalani hidup secara nyaman.

Cara ini juga membantu agar target finansial tidak terus berubah hanya karena membandingkan diri dengan orang lain.

2. Evaluasi Kebutuhan yang Tidak Penting

Langkah berikutnya adalah meninjau kembali pengeluaran yang sifatnya tidak wajib.

Bukan berarti semua kesenangan harus dihilangkan. 

Namun, penting untuk membedakan antara pengeluaran yang memang memberikan manfaat dengan pengeluaran yang dilakukan hanya karena kebiasaan atau mengikuti lingkungan.

Semakin mampu seseorang mengendalikan kebutuhan yang tidak perlu, semakin besar pula ruang yang tersedia untuk menabung, berinvestasi atau menikmati waktu bersama keluarga.

Pada titik ini, rasa cukup menjadi bagian penting dalam pengelolaan keuangan.

3. Bangun Sistem Keuangan Sederhana

Kebiasaan kecil juga berperan dalam membentuk kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Beberapa sistem sederhana yang dapat diterapkan antara lain menabung otomatis sejak awal bulan, membuat anggaran mingguan yang realistis, serta memisahkan rekening untuk kebutuhan sehari-hari dan tabungan.

Dengan sistem tersebut, pengelolaan uang tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan spontan setiap kali menerima penghasilan.

Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten pada akhirnya dapat membantu menciptakan kondisi keuangan yang lebih teratur.

Ambisi Tetap Penting, tetapi Harus Punya Arah

Mengejar kondisi finansial yang lebih baik bukan sesuatu yang salah. 

"Memiliki target penghasilan, membangun usaha, menabung dan berinvestasi tetap menjadi bagian penting dalam perencanaan masa depan," jelasnya.

Namun, target tersebut perlu disertai pemahaman mengenai alasan di baliknya.

Seseorang bisa saja mengejar penghasilan tinggi, karena ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga. 

Di sisi lain, ada pula yang mengejar materi karena tekanan lingkungan, kebutuhan mendapatkan pengakuan atau keinginan untuk terlihat berhasil di media sosial.

Perbedaan alasan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menjalani prosesnya.

Karena itu, pertanyaan yang perlu sesekali diajukan bukan hanya “berapa banyak yang harus saya punya?”, tetapi juga “untuk apa saya mengejar semua ini?”

Bukan Sekadar Saldo di Rekening

Pada akhirnya, kebebasan finansial tidak selalu identik dengan saldo rekening dalam jumlah fantastis.

Kemampuan mengelola pengeluaran, menghindari utang yang tidak perlu, memiliki ruang untuk menabung, serta menentukan prioritas hidup juga menjadi bagian dari kebebasan finansial.

Ketika kebutuhan dapat dikendalikan dan tujuan hidup lebih jelas, tekanan untuk terus mengejar angka yang lebih besar juga dapat berkurang.

Baca Juga: SKD Sekolah Kedinasan 2026 Dimulai, 103.647 Peserta Berebut Formasi CPNS

Pesan utama yang disampaikan Rizki, pentingnya membangun keseimbangan. 

Ambisi tetap dapat dipertahankan, tetapi tidak harus membuat seseorang kehilangan kendali atas waktu, energi dan kehidupannya sendiri.

Dengan begitu, perjalanan menuju kondisi finansial yang lebih baik bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan lebih banyak uang, tetapi juga bagaimana menggunakan uang secara sadar dan sesuai dengan kebutuhan.

Sebab, semakin jelas seseorang memahami apa yang benar-benar dibutuhkan, semakin mudah pula menentukan kapan harus mengejar lebih banyak dan kapan harus merasa cukup. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor ITB Vinus finansial Penghasilan