Tetap Bisa Ngopi, Warga Bogor Bisa Coba 7 Cara Nabung Tanpa Bikin Bokek

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 06:17 WIB
ILUSTRASI: Berbagai cara menabung uang.
ILUSTRASI: Berbagai cara menabung uang.

RADAR BOGOR - Buat sebagian orang, menabung terasa seperti pilihan yang sulit. 

Ingin punya dana simpanan, tetapi di saat yang sama masih ingin ngopi, nongkrong, makan di luar, atau sesekali membeli barang yang disukai.

Dilema itu, sering berakhir dengan satu kesimpulan yakni gaji habis lebih dulu, sementara tabungan tak kunjung bertambah.

Padahal, menabung tidak selalu berarti harus memangkas seluruh kesenangan. 

Baca Juga: Bukti Pencairan PKH Validasi dan BPNT Tahap 3 2026, Cek 10 Kriteria yang Tidak Boleh Terima Bansos

Ada sejumlah cara sederhana yang memungkinkan pengeluaran tetap berjalan, tapi sebagian uang tetap diamankan untuk masa depan.

Baca Juga: Bukti Pencairan PKH Validasi dan BPNT Tahap 3 2026, Cek 10 Kriteria yang Tidak Boleh Terima Bansos

Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor membagikan, sejumlah strategi yang dapat diterapkan untuk membangun kebiasaan menabung tanpa harus mengubah gaya hidup secara drastis.

“Menabung itu bukan soal hidup susah, tetapi soal cara,” ucapnya kepada Radar Bogor, Jumat 25 September 2026.

Lantas, bagaimana caranya agar uang tetap bisa disisihkan tanpa merasa sedang menjalani hidup terlalu hemat?

1. Gunakan Sistem Transfer Otomatis

Cara pertama yang dapat diterapkan adalah membuat transfer otomatis ke rekening tabungan setiap kali menerima penghasilan.

Sebagai contoh, seseorang dapat mengalokasikan 10 persen dari gajinya untuk langsung dipindahkan ke rekening khusus tabungan. 

Jika gaji diterima setiap tanggal 1, transfer otomatis dapat dijadwalkan pada hari berikutnya.

Dengan cara tersebut, uang yang sudah dialokasikan untuk menabung tidak terlalu lama berada di rekening utama. 

Risiko uang terpakai untuk kebutuhan konsumtif pun dapat ditekan.

Kebiasaan ini, membuat seseorang secara perlahan terbiasa menjalani kebutuhan sehari-hari dengan sisa penghasilan setelah tabungan disisihkan.

2. Coba Metode Round Up Saving

Strategi berikutnya adalah menabung dari pembulatan setiap transaksi atau yang dikenal dengan istilah round up saving.

Misalnya, ketika membeli makanan seharga Rp27.000, transaksi tersebut dibulatkan menjadi Rp30.000. 

Selisih Rp3.000 kemudian dimasukkan ke tabungan.

Baca Juga: 3 Hal Penting Terkait KKS yang Wajib Diketahui Seluruh KPM Bansos

Begitu pula ketika membeli barang seharga Rp112.000, selisih dari nominal pembulatan yang ditentukan dapat disisihkan.

Nominalnya memang terlihat kecil. 

Namun, jika dilakukan secara rutin dari berbagai transaksi, uang tersebut dapat terakumulasi menjadi jumlah yang lebih besar.

3. Pangkas Pengeluaran Kecil yang Jarang Disadari

Pengeluaran kecil sering kali tidak terasa ketika dilakukan satu per satu. 

Masalahnya, biaya tersebut dapat menjadi cukup besar ketika dikumpulkan dalam satu bulan.

"Contohnya adalah berlangganan beberapa layanan hiburan sekaligus, meskipun tidak semuanya digunakan secara rutin," kata Rizki.

Baca Juga: Kakanwil Ditjenpas Jawa Barat Pastikan Fasilitas Ferdy Sambo di Lapas Cibinong Bogor Tak Istimewa

Seseorang dapat mengevaluasi kembali layanan yang masih benar-benar dibutuhkan. 

Paket yang terlalu besar juga bisa diganti dengan pilihan yang lebih sesuai dengan pemakaian.

Langkah sederhana seperti ini memungkinkan seseorang mengurangi pengeluaran tanpa harus merasa kehilangan seluruh hiburan yang biasa dinikmati.

4. Terapkan Sistem Amplop Digital

Metode amplop yang dulu banyak digunakan untuk mengatur uang secara tunai kini dapat diterapkan dalam bentuk digital.

Caranya dengan membagi penghasilan ke dalam beberapa pos sesuai kebutuhan. 

Misalnya, Rp500.000 untuk makan di luar, Rp300.000 untuk hiburan, dan Rp200.000 untuk transportasi.

"Setiap pos memiliki batas masing-masing," ungkap Rizki.

Ketika anggaran hiburan sudah habis, misalnya, pengeluaran untuk kebutuhan tersebut dihentikan sampai periode anggaran berikutnya.

Sistem ini membantu seseorang tetap memiliki ruang untuk bersenang-senang, tetapi tidak membiarkan pengeluaran melebar ke pos lain.

5. Buat Tantangan Menabung Mingguan

Bagi orang yang membutuhkan motivasi agar konsisten, tantangan menabung mingguan bisa menjadi pilihan.

Nominalnya dapat dimulai dari jumlah kecil. 

"Misalnya, Rp10.000 pada minggu pertama, Rp20.000 pada minggu kedua, kemudian Rp30.000 pada minggu berikutnya," tutur Rizki.

Baca Juga: Sidak Ombudsman di Lapas Cibinong Bogor Viral, Pakar Desak Transparansi 

Jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. 

Hal terpenting bukan memaksakan nominal besar, melainkan menjaga konsistensi.

Cara ini juga memberikan rasa pencapaian karena perkembangan tabungan dapat dipantau setiap minggu.

6. Manfaatkan Diskon dan Cashback Secara Cerdas

Diskon dan cashback sebenarnya dapat membantu menghemat uang, tetapi hanya jika digunakan untuk kebutuhan yang memang sudah direncanakan.

Kesalahan yang sering terjadi, membeli barang hanya karena harganya sedang turun. 

Akibatnya, uang yang seharusnya dihemat justru keluar untuk barang yang tidak diperlukan.

Sebaliknya, jika memang sudah berencana membeli suatu barang dan kebetulan mendapatkan potongan harga, selisihnya dapat dialihkan ke tabungan.

Baca Juga: Menko Yusril Minta Temuan Ombudsman di Lapas Cibinong Bogor Diperiksa Terbuka

"Sebagai ilustrasi, barang yang semula dianggarkan Rp250.000 ternyata dapat dibeli dengan harga Rp200.000. Selisih Rp50.000 dapat langsung disisihkan," kata Rizki.

Dengan begitu, keuntungan dari promo tidak berhenti sebagai diskon, tetapi juga menjadi tambahan dana yang masuk ke tabungan.

7. Jangan Abaikan Uang Receh dan Kembalian Digital

Uang dengan nominal kecil sering dianggap tidak berarti. 

Padahal, jika dikumpulkan secara rutin, jumlahnya dapat menjadi tambahan tabungan.

Kembalian Rp1.000 atau Rp2.000, misalnya, dapat dimasukkan ke celengan atau dompet digital khusus. 

Begitu pula dengan cashback kecil yang diterima setelah melakukan pembayaran.

Prinsipnya sederhana, uang kecil yang biasanya tidak diperhitungkan jangan langsung dianggap tidak berguna.

Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut dapat membentuk tambahan dana tanpa terasa terlalu membebani pengeluaran sehari-hari.

Rekening Khusus Bisa Membantu Menahan Godaan

Selain tujuh cara tersebut, ada satu strategi lain yang dapat diterapkan, yakni membuat rekening khusus yang tidak digunakan untuk transaksi harian.

Rekening tersebut sebaiknya dipisahkan dari rekening utama. 

Bahkan, aksesnya bisa dibuat sedikit lebih rumit, misalnya tidak menggunakan kartu ATM dan tidak dihubungkan langsung dengan dompet digital yang biasa digunakan.

Tujuannya bukan untuk mempersulit kehidupan, tetapi membuat seseorang tidak mudah mengambil uang yang sudah disisihkan.

Ketika tabungan terlalu mudah terlihat dan diakses, godaan untuk menggunakannya dapat muncul sewaktu-waktu. 

Sebaliknya, dengan memisahkan rekening, uang yang sudah ditabung secara psikologis terasa bukan bagian dari dana belanja sehari-hari.

“Anggap itu bukan uang yang akan dipakai. Biarkan dia bekerja diam-diam tanpa dilihat dan tanpa diganggu,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam strategi tersebut.

Transfer otomatis juga dapat diarahkan ke rekening khusus ini, sehingga proses menabung berlangsung secara rutin tanpa harus dilakukan secara manual setiap bulan.

Menabung Bukan Berarti Harus Berhenti Menikmati Hidup

Pada akhirnya, persoalan menabung bukan semata-mata mengenai seberapa besar seseorang harus mengurangi pengeluaran.

Yang lebih penting, sambung Rizki,bagaimana membangun sistem agar sebagian penghasilan dapat disisihkan secara konsisten.

Kebiasaan sederhana seperti transfer otomatis, pembulatan transaksi, mengevaluasi langganan, membatasi anggaran, hingga menyimpan cashback dapat dilakukan secara bertahap.

Seseorang pun tetap dapat menikmati aktivitas seperti ngopi, makan bersama teman atau sesekali berbelanja, selama pengeluaran tersebut sudah diperhitungkan dalam kondisi keuangannya.

Baca Juga: Sering Lupa Balas Pesan? Bisa Jadi Ini 8 Karakter Psikologis yang Kamu Miliki

“Menabung itu bukan tentang seberapa besar pendapatan Anda, tetapi seberapa disiplin dan konsisten kamu menyisihkan sebagian kecilnya,” papar Rizki.

Dengan kata lain, menabung tidak harus selalu identik dengan hidup serba terbatas. 

Konsistensi justru menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan keuangan dalam jangka panjang.

Memulai dari satu metode yang paling mudah dilakukan bisa menjadi langkah awal. 

Setelah terbiasa, beberapa strategi lain dapat digabungkan agar pengelolaan uang menjadi semakin teratur. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor ITB Vinus menabung uang