RADAR BOGOR — Kendala finansial atau modal dan keterbatasan teknologi kerap disebut sebagai masalah yang membuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sulit berkembang. Namun, kesiapan mental dan kapasitas personal pelaku usaha juga menjadi faktor yang menentukan perkembangan bisnis.
Hal itu mengemuka dalam diskusi interaktif program pemberdayaan bisnis yang disiarkan melalui Podcast Bicara Bogor.
Public Affairs and Sustainability Danone Indonesia, Dian Savita, mengatakan, UMKM memiliki peran penting dalam menjaga perputaran ekonomi. Menurutnya, sektor usaha tersebut juga terbukti mampu bertahan saat menghadapi masa sulit, termasuk pandemi.
Baca Juga: Danone Indonesia dan Kampus Bisnis Umar Usman Hadirkan Damping Award 2024 bagi Pelaku UMKM Bogor
“Usaha mikro, kecil, dan menengah inilah yang paling bertahan dan menyelamatkan roda ekonomi kita,” kata Dian dalam Podcast Bicara Bogor di Radar Bogor, Jumat, 25 September 2026.
Menurut dia, UMKM juga menjadi salah satu sektor yang menyerap banyak tenaga kerja, khususnya di sektor nonformal. Karena itu, pembinaan terhadap pelaku usaha perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Sektor ini menjadi wadah penyerapan tenaga kerja yang sangat besar di sektor non-formal,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Penanggung Jawab Program Damping UMKM sekaligus Direktur Kampus Bisnis Umar Usman, Rendika Rezky, mengatakan persoalan pelaku usaha tidak selalu berkaitan dengan modal maupun teknologi.
Menurut dia, faktor personal dan pola pikir pelaku usaha kerap menjadi kendala dalam mengembangkan bisnis.
“Masalah terbesarnya justru sering kali datang dari aspek personal pelaku usahanya sendiri,” tegas Rendika.
Rendika menjelaskan, pelaku usaha perlu mengubah cara pandang dari sekadar berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi membangun bisnis yang memiliki arah pertumbuhan.
“Bagaimana mengubah cara pandang dari sekadar ‘berdagang untuk makan hari ini’ menjadi pola pikir wirausaha yang profesional dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang,” jelasnya.
Karena itu, pendampingan bagi pelaku UMKM dinilai perlu dilakukan secara lebih intensif. Pelaku usaha tidak cukup hanya mendapatkan materi pelatihan, tetapi juga membutuhkan pendampingan dalam menjalankan bisnis.
Melalui ekosistem Damping UMKM, peserta mendapatkan konsultasi di Damping Center, inkubasi bisnis, hingga akses pemasaran produk melalui Damping Mart. Program tersebut disebut telah menjangkau lebih dari 11.000 wirausahawan di berbagai daerah.
Program tersebut juga terhubung dengan Damping Award 2024 sebagai ajang apresiasi bagi pelaku usaha yang telah melakukan pengembangan bisnis.
Bagi pemilik UMKM di kawasan Bogor, kesempatan mengikuti kompetisi tersebut dibuka tanpa biaya. Peserta tidak harus merupakan alumni program pendampingan dan dapat berasal dari pelaku UMKM umum di Bogor.
Penilaian peserta akan melihat sejumlah aspek, mulai dari pertumbuhan omzet, administrasi hingga dampak lingkungan. Pemenang nantinya mendapatkan fasilitas promosi untuk membantu memperluas jangkauan pasar produknya.
Melalui pendampingan dan penguatan kapasitas pelaku usaha, UMKM diharapkan mampu mengembangkan bisnis secara berkelanjutan. Perubahan pola pikir menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan sebelum pelaku usaha memperbesar skala bisnisnya. (Raissa Magang Radar Bogor)
Editor : Eka Rahmawati