RADAR BOGOR - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Bogor memperkuat perhatian terhadap sektor kuliner. Badan Otonom HIPMI Culinary Indonesia (HCI) Kota Bogor resmi dilantik sekaligus meluncurkan program HIPMI Business Series.
Pelantikan HCI Kota Bogor berlangsung di Auditorium Bima Arya, Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Diarsip) Kota Bogor, Minggu, 27 September 2026.
Kepengurusan HCI Kota Bogor yang dipimpin Muhammad Itsbatullah Munir dikukuhkan Sekretaris Umum BPC HIPMI Kota Bogor Teguh Rachman Hakim. Prosesi tersebut turut disaksikan Ketua HCI Jawa Barat Fery Dwi Maryanto.
Pelantikan dirangkaikan dengan peluncuran HIPMI Business Series. Program tersebut dirancang sebagai ruang sinergi, pendampingan, hingga business matching antara HIPMI, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal.
Ketua Program HIPMI Business Series sekaligus Ketua Bidang 7 BPC HIPMI Kota Bogor, Arish Hendrawan, mengatakan program edukasi tersebut akan digelar rutin setiap bulan selama satu tahun ke depan.
“HIPMI Business Series ini hadir sebagai wadah bulanan untuk menjangkau masyarakat dan pelaku usaha di Kota Bogor. Kami merencanakan sedikitnya 16 episode hingga tahun depan, di mana tiap bulannya akan mengusung sektor bisnis berbeda. Untuk edisi pertama, kami berfokus pada industri Food & Beverage (F&B) bekerja sama dengan Dinkukmdagin,” jelasnya.
Pada edisi perdana yang berlangsung selama satu hari tersebut, sebanyak 84 pelaku usaha mengikuti kegiatan. Mayoritas peserta merupakan wirausahawan sektor kuliner binaan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (Dinkukmdagin) Kota Bogor.
Kegiatan mengusung tema “Heritage vs Hype: Membangun Pondasi Operasional dan Reputasi Food & Beverage di Era Transparansi Digital”.
Sejumlah praktisi F&B dihadirkan sebagai narasumber, di antaranya Fery Dwi Maryanto selaku pemilik Mr Group atau Martabak MM yang memiliki sekitar 70 cabang serta Rahardika, pemilik restoran Bakso 7 Pemuda.
Menurut Arish, para pemateri membedah perbedaan strategi dalam mengelola bisnis kuliner yang telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat dengan bisnis yang tumbuh karena tren.
“Dalam sesi talkshow, para pemateri membedah perbedaan mendasar antara strategi mengelola bisnis kuliner legendaris dan bisnis kuliner musiman,” ungkapnya.
Selain strategi bisnis, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kualitas operasional, memanfaatkan momentum public relations (PR), serta mengelola reputasi merek di tengah derasnya arus informasi dan respons konsumen di media sosial.
Tingginya antusiasme peserta membuat HIPMI membuka peluang memindahkan lokasi kegiatan ke Balai Kota Bogor pada agenda berikutnya apabila jumlah peserta terus meningkat.
“Untuk edisi bulan depan, HIPMI Business Series dijadwalkan bakal menggandeng Badan Otonom HIPMI Syariah dengan mengangkat tema potensi bisnis halal, baik di ranah lokal maupun global,” ujarnya.
Arish berharap program tersebut dapat menjangkau lebih banyak sektor usaha, mulai dari konstruksi, event organizer (EO), hingga jasa kesehatan dan kecantikan.
Sementara itu, Ketua HCI Kota Bogor Muhammad Itsbatullah Munir mengatakan organisasinya akan mendorong pelaku UMKM kuliner agar mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan standar bisnis.
“Langkah awal kami adalah berfokus membina para peserta dan anggota yang sudah tergabung saat ini. Kami menargetkan dapat merangkul 100 pelaku usaha kuliner pertama di Kota Bogor melalui kolaborasi erat bersama Dinkukmdagin,” paparnya.
HCI Kota Bogor juga menyiapkan sejumlah program prioritas jangka pendek. Di antaranya fasilitasi pengurusan legalitas usaha secara gratis, seperti PIRT dan sertifikasi halal, serta pelatihan digital marketing dan pengelolaan media sosial.
Tak hanya legalitas, HCI juga menyoroti pentingnya standarisasi tata kelola dapur, higienitas, dan rantai pasok bahan baku. Hal tersebut dinilai penting mengingat Kota Bogor merupakan salah satu destinasi wisata di Jawa Barat.
“Kota Bogor ini destination city. Jangan sampai bisnis kuliner kita tumbuh tapi mengabaikan kebersihan, standar tata cara memasak atau penyimpanan bahan baku. Dengan hadirnya HCI, kami ingin mendampingi UMKM agar standar higienitas dan perizinannya makin rapi, sehingga wisatawan dari luar kota seperti Jakarta merasa nyaman dan aman,” pungkasnya. (ded)
Editor : Eka Rahmawati