RADAR BOGOR – Peluang UMKM Indonesia untuk memperluas pasar hingga mancanegara terus terbuka seiring meningkatnya kebutuhan terhadap produk bernilai tambah dan berdaya saing.
Untuk mendukung langkah tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membangun ekosistem yang tidak hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga pendampingan dan perluasan akses pasar.
Upaya mendorong UMKM naik kelas tersebut disampaikan Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris Y. S. dalam Indonesia Economic Forum 2026 bertajuk “The Future of Indonesia’s Exports: Transforming Towards Value-Added, Competitive and Sustainable Growth”.
Forum tersebut membahas berbagai strategi untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun, Direktur Utama DSI Luke Thomas Mahony, serta Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi.
Tiga Tantangan UMKM untuk Masuk Pasar Ekspor
Dalam forum tersebut, Dippo menyebut terdapat tiga aspek utama yang menjadi tantangan bagi UMKM ketika ingin memperluas bisnis ke pasar internasional.
Baca Juga: Museum Bank Mandiri Kota Tua, Wisata Sejarah Perbankan di Bangunan Kolonial Bersejarah Tahun 1929
Ketiganya meliputi kapasitas usaha dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses bisnis.
BRI, kata Dippo, berupaya menjawab ketiga kebutuhan tersebut melalui pendekatan yang saling melengkapi.
Pembiayaan diarahkan untuk membantu pengembangan kapasitas usaha, sementara berbagai program pendampingan ditujukan untuk meningkatkan literasi.
Di sisi lain, jaringan bisnis BRI dimanfaatkan untuk membuka peluang pasar yang lebih luas.
“Berangkat dari tiga hal tersebut, kami memberikan pembiayaan untuk membantu kapasitas, kami memberikan program pendampingan untuk membantu literasi, dan kami membuka sebesar-besarnya akses yang kami miliki untuk membantu akses bisnis dari UMKM,” ujar Dippo.
Menurut dia, pembiayaan merupakan salah satu dasar penting bagi UMKM untuk meningkatkan skala produksi dan kualitas produk.
Dengan dukungan modal yang memadai, pelaku usaha memiliki ruang untuk memperbesar kapasitas bisnis sekaligus menyesuaikan produk dengan standar pasar yang lebih luas.
Kredit UMKM BRI Capai Rp1.235,4 Triliun
Komitmen tersebut tercermin dalam penyaluran kredit BRI kepada sektor UMKM. Hingga akhir triwulan II 2026, kredit BRI untuk segmen UMKM tercatat mencapai Rp1.235,4 triliun, atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Porsi tersebut setara dengan sekitar 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group yang disalurkan kepada segmen UMKM.
Meski demikian, Dippo menilai pembiayaan belum cukup untuk membuat UMKM siap bersaing di pasar internasional.
Baca Juga: 7 Tips Aman Naik Motor Listrik Saat Hujan dan Terobos Genangan
Kemampuan mengelola keuangan dan menjalankan tata kelola usaha juga menjadi faktor penting.
Pasalnya, calon pembeli dari luar negeri tidak hanya mempertimbangkan produk yang ditawarkan.
Mereka juga membutuhkan informasi mengenai proses produksi, kondisi keuangan, hingga asal-usul sumber produksi secara transparan.
“Ekspor itu bukan hanya menjual barang. Buyer di luar negeri juga menuntut adanya transparansi keuangan. Kemampuan dari produsen menjelaskan bagaimana cara memproduksi, bagaimana keuangannya, sumbernya dari mana, itu juga penting untuk dilihat dari sisi buyer,” jelas Dippo.
BRI Perkuat Ekosistem Pemberdayaan UMKM
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, BRI menjalankan berbagai program pemberdayaan yang berjalan beriringan dengan pembiayaan.
Hingga Juni 2026, Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Sementara itu, program Klasterku Hidupku telah mencakup lebih dari 44 ribu klaster usaha.
Dari sisi digital, LinkUMKM tercatat telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Adapun program pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM.
Dippo menilai proses membawa UMKM menuju pasar internasional membutuhkan tahapan yang berkelanjutan.
Peningkatan skala usaha dan literasi harus berjalan terlebih dahulu sebelum akses pasar internasional dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Yang paling berat adalah bagaimana secara pelan-pelan kita meningkatkan skala mereka, literasi mereka sampai mereka bisa diakses secara internasional. Ini tidak boleh dibalik. Kalau hari ini kita kasih akses tapi literasinya belum dapat, maka akses itu akan sia-sia juga,” ungkap Dippo.
Baca Juga: 7 Cara Rawat Motor Musim Kemarau di Bogor, Jangan Abai
One BRI Solution Buka Peluang Rantai Pasok
Setelah kapasitas dan kesiapan pelaku usaha diperkuat, tantangan selanjutnya adalah mempertemukan produk UMKM dengan pasar yang tepat.
BRI memanfaatkan ekosistem nasabah dari berbagai segmen melalui pendekatan One BRI Solution.
Skema tersebut memungkinkan pelaku UMKM terhubung dengan nasabah dari segmen korporasi maupun komersial.
Koneksi tersebut membuka peluang bagi UMKM untuk masuk ke rantai nilai yang lebih besar, termasuk mendapatkan akses terhadap jaringan bisnis yang telah memiliki hubungan dengan pasar internasional.
Salah satu implementasinya terlihat melalui BRI UMKM EXPO(RT). Pada penyelenggaraan 2025, ajang tersebut melibatkan lebih dari 1.000 UMKM dan menghasilkan commitment deal melalui business matching senilai USD90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun.
Kegiatan tersebut juga mempertemukan UMKM dengan 506 pembeli terdaftar dari 34 negara.
Kolaborasi BRI Bantu UMKM Perluas Pasar
Dippo turut mencontohkan pengembangan UMKM di sektor perikanan dan industri kayu di Jawa Timur sebagai gambaran pemanfaatan ekosistem tersebut.
Menurutnya, BRI tidak membuka akses pasar internasional secara sendirian. Peluang tersebut dibangun dengan memanfaatkan jaringan nasabah korporasi dan komersial yang telah memiliki hubungan bisnis dengan pembeli di berbagai negara.
Baca Juga: Gempa M 4,4 Guncang Bayah Banten Pagi Ini, Getaran Terasa hingga Palabuhan Ratu
“Ketika mereka berhasil menjual produknya, mereka tidak sendiri. BRI tidak memberikan akses itu sendiri. Kita menggunakan nasabah-nasabah korporasi dan komersial kita yang kebetulan juga memiliki buyer di negara-negara tersebut. Jadi kolaborasi ini contohnya,” kata Dippo.
Melalui pendekatan tersebut, penguatan UMKM diarahkan tidak hanya pada kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga kesiapan menjalankan usaha secara profesional serta terhubung dengan rantai bisnis yang lebih luas. (***)
Editor : Yosep Awaludin