RADAR BOGOR - Perumda BPR Bank Kota Bogor naik status dari Sehat menjadi Sangat Sehat pada triwulan III 2026. Di periode yang sama, aset Bank Kota Bogor tumbuh 7,86 persen secara tahunan menjadi Rp277 miliar.
Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator kinerja Bank Kota Bogor hingga September 2026. Bank milik Pemerintah Kota Bogor itu juga mencatat pertumbuhan kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK), serta permodalan.
Direktur Utama Perumda BPR Bank Kota Bogor, Tommy Indra Gunawan, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko. Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk menjaga ketahanan bank di tengah dinamika ekonomi.
Baca Juga: Dana Investor Singapura Masuk BPR Bank Kota Bogor, Bisa Jadi Sumber Kredit untuk Masyarakat
"Capaian ini adalah hasil dari komitmen kami untuk terus menghadirkan layanan perbankan yang aman dan terpercaya. Kami fokus pada pengelolaan risiko yang prudent dan adaptif guna memastikan BPR tetap tangguh menghadapi tantangan ekonomi. Kami juga berterima kasih atas loyalitas para nasabah dan dukungan penuh dari regulator," ujar Tommy.
Intermediasi Makin Kuat dan DPK Tumbuh 18,01 Persen
Dari sisi penyaluran dana, kredit yang disalurkan Bank Kota Bogor hingga akhir triwulan III 2026 tumbuh 5,26 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) menjadi Rp189 miliar.
Penyaluran kredit tersebut difokuskan pada Kredit Multiguna untuk mendukung konsumsi rumah tangga serta pembiayaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun melalui tabungan dan deposito tumbuh 18,01 persen secara YoY menjadi Rp148 miliar. Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan dana masyarakat yang dihimpun Bank Kota Bogor hingga September 2026.
Seluruh simpanan nasabah tercatat dan dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sesuai ketentuan yang berlaku, hingga Rp2 miliar per nasabah. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari perlindungan terhadap dana nasabah yang ditempatkan di bank.
Ketahanan finansial Bank Kota Bogor juga tercermin dari sejumlah rasio keuangan. Rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat 44,44 persen, yang menunjukkan posisi permodalan bank berada pada level yang kuat.
Kualitas kredit juga tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) net sebesar 2,02 persen. Angka tersebut masih berada di bawah batas 5 persen.
Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) membaik menjadi 128,11 persen dari 143,62 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tommy mengatakan perubahan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari fungsi intermediasi dan pendanaan bank.
"Penilaian likuiditas harus dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan struktur dan stabilitas sumber dana, ketersediaan aset likuid, arus kas masuk dari portofolio kredit, jatuh tempo kewajiban, hingga ketersediaan buffer likuiditas. LDR perlu dipandang sebagai salah satu indikator intermediasi dan funding, bukan satu-satunya indikator kondisi likuiditas," terangnya.
Tingkat Kesehatan Bank Kota Bogor Naik Jadi Sangat Sehat
Selain mencatat pertumbuhan kinerja keuangan, Bank Kota Bogor melakukan pembenahan pada aspek Good Corporate Governance (GCG) dan kepatuhan terhadap regulasi.
Pembenahan tersebut mencakup pemenuhan struktur Dewan Pengawas sesuai ketentuan yang berlaku.
Bank Kota Bogor kini memenuhi kuota keanggotaan Dewan Pengawas dengan komposisi tiga orang anggota Direksi dan tiga orang anggota Dewan Pengawas. Langkah tersebut mengacu pada POJK Nomor 9 Tahun 2024 bagi BPR dengan modal inti paling sedikit Rp50 miliar.
Proses seleksi juga mengacu pada Permendagri Nomor 21 Tahun 2024 dan POJK Nomor 27/POJK.03/2016. Dewan Pengawas diisi oleh para profesional dengan keahlian di bidang manajemen risiko, hukum, keuangan, dan tata kelola sektor publik.
Sesuai ketentuan SEOJK Nomor 11/SEOJK.03/2022 tentang penilaian tingkat kesehatan bank berbasis risiko atau Risk-Based Bank Rating, penguatan struktur pengawasan turut memperkuat aspek tata kelola, profil risiko, rentabilitas, dan permodalan. Penilaian tersebut menjadi bagian dari dasar pengukuran Tingkat Kesehatan Bank (TKS).
Dampaknya, Tingkat Kesehatan Bank (TKS) Bank Kota Bogor meningkat dari nilai komposit 2 dengan predikat Sehat menjadi nilai komposit 1 dengan predikat Sangat Sehat. Perubahan status tersebut menunjukkan adanya peningkatan dalam penilaian kesehatan bank.
"Pemenuhan struktur pengurus ini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan pilar utama untuk membangun trust atau kepercayaan nasabah di tingkat akar rumput. Penguatan fungsi pengawasan internal memastikan hak-hak nasabah penyimpan dana terlindungi dengan baik," pungkas Tommy.
Ke depan, Bank Kota Bogor akan mempercepat digitalisasi layanan dan memperluas inklusi keuangan bagi masyarakat lokal. Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (uma)
Editor : Eka Rahmawati