RADAR BOGOR - Perubahan dunia kerja membuat kesetiaan pada satu perusahaan, kebiasaan menunggu promosi, hingga ketergantungan pada dana pensiun perlu ditinjau kembali.
Mengembangkan keterampilan dan membangun kemandirian finansial menjadi langkah penting untuk menghadapi persaingan.
Selama bertahun-tahun, menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau karyawan badan usaha milik negara (BUMN) dipandang sebagai salah satu jalan paling menjanjikan menuju kehidupan yang mapan.
Baca Juga: Cole Palmer Perpanjang Kontrak di Chelsea, Bakal Berseragam The Blues hingga 2034
Pekerjaan tetap, penghasilan rutin, jenjang karier yang terstruktur, serta harapan menikmati masa pensiun menjadi alasan banyak orang mengejar posisi tersebut.
Namun, dunia kerja terus berubah.
Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto mengatakan, digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), pekerjaan jarak jauh, dan meningkatnya penggunaan tenaga kerja berbasis proyek membuat persaingan profesional semakin dinamis.
"Kondisi ini, bukan berarti pekerjaan tetap kehilangan nilai," ucapnya kepada Radar Bogor, Minggu 11 Oktober 2026.
Stabilitas dan kepastian penghasilan, tetap menjadi pertimbangan penting bagi banyak orang.
Persoalannya, apakah mengandalkan satu pekerjaan tanpa terus memperbarui keterampilan masih cukup untuk menghadapi perubahan ekonomi?
Ada sejumlah pola pikir lama yang layak dievaluasi agar pekerja tidak hanya bergantung pada jabatan, tetapi juga memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan pasar.
1. Terlalu Setia pada Satu Perusahaan Tanpa Mengembangkan Diri
Bekerja selama puluhan tahun di satu institusi, kerap dianggap sebagai bukti loyalitas dan profesionalisme.
Dalam lingkungan kerja yang menawarkan jenjang karier terstruktur, kesetiaan memang dapat memberikan keuntungan, termasuk pengalaman, stabilitas pendapatan, dan kesempatan menduduki posisi yang lebih tinggi.
Namun, loyalitas bisa menjadi persoalan ketika seseorang berhenti mengembangkan kemampuan karena merasa posisinya sudah aman.
Seorang karyawan yang bertahun-tahun mengerjakan tugas serupa, tanpa mempelajari teknologi baru berisiko mengalami kesenjangan keterampilan.
Baca Juga: Jadwal PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026, Pendaftaran Berakhir 15 Oktober!
Ketika perusahaan mengubah sistem kerja atau membutuhkan kompetensi berbeda, pengalaman panjang saja belum tentu cukup.
Prinsip yang perlu dipahami, setia pada pengembangan diri, bukan sekadar bertahan pada posisi.
Artinya, kata Rizki, pekerja tetap dapat menunjukkan komitmen kepada perusahaan sambil memperluas kemampuan profesional.
Seorang staf administrasi, misalnya, bisa mempelajari analisis data.
Pegawai komunikasi dapat mendalami pemasaran digital, sedangkan tenaga keuangan bisa meningkatkan keterampilan dalam penggunaan perangkat lunak akuntansi modern.
"Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat daya saing," ungkap Rizki.
Pertama, sambung dia, membangun portofolio pekerjaan yang menunjukkan kemampuan dan hasil nyata.
Kedua, mengikuti komunitas profesional untuk mengetahui perkembangan industri.
Ketiga, tegas Rizki, memperbarui profil profesional melalui platform seperti LinkedIn agar pengalaman dan keterampilan lebih mudah dikenali.
Dengan cara tersebut, pekerja tidak hanya memiliki pengalaman di satu kantor, tetapi juga kemampuan yang dapat diterapkan di lingkungan berbeda.
2. Menunggu Promosi Berdasarkan Masa Kerja
Pola pikir kedua, menganggap kenaikan jabatan sebagai sesuatu yang pasti datang setelah seseorang cukup lama mengabdi.
Dalam sistem kerja yang memiliki jenjang kepangkatan, masa kerja memang dapat menjadi salah satu pertimbangan.
Baca Juga: PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026: Ini 12 Syarat Umum dan Ketentuan Khusus
Akan tetapi, jelas dia, perkembangan karier di banyak sektor juga dipengaruhi oleh kompetensi, kebutuhan organisasi, tanggung jawab, serta pencapaian individu.
Di pasar kerja yang semakin kompetitif, kemampuan menyelesaikan persoalan dan menghasilkan dampak terukur menjadi nilai penting.
Seorang profesional yang mampu mempercepat proses kerja, menekan biaya operasional, atau meningkatkan kualitas layanan dapat menunjukkan kontribusi yang lebih konkret daripada sekadar mencantumkan lamanya pengalaman.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, sudah berapa lama bekerja di sini?
Tetapi juga, apa yang berhasil saya tingkatkan selama bekerja?
Perubahan cara pandang ini dapat dimulai dengan mendokumentasikan hasil pekerjaan.
Misalnya, mencatat keberhasilan menyelesaikan proyek, meningkatkan efisiensi proses, mengurangi kesalahan administrasi, atau memperbaiki kepuasan pelanggan.
"Angka dan bukti konkret akan membantu menjelaskan kontribusi seseorang ketika mengikuti evaluasi kinerja atau melamar posisi baru," kata dia.
Pekerja juga dapat memantau kebutuhan pasar melalui situs lowongan kerja dan platform pekerja lepas.
Langkah tersebut, berguna untuk mengetahui keterampilan yang sedang dibutuhkan dan kompetensi apa yang perlu ditingkatkan.
Meski demikian, ukuran keberhasilan tidak selalu harus berupa gaji yang lebih tinggi.
Perkembangan karier juga dapat dilihat dari bertambahnya tanggung jawab, kualitas pekerjaan, kesempatan belajar, dan prospek jangka panjang.
3. Mengukur Produktivitas dari Kehadiran di Kantor
Datang pagi, duduk di meja kerja, dan pulang setelah jam kantor berakhir sering kali menjadi gambaran sederhana tentang kedisiplinan seorang pekerja.
Kehadiran memang penting untuk pekerjaan yang membutuhkan layanan langsung, koordinasi tatap muka, atau penggunaan fasilitas tertentu.
Namun, kehadiran fisik tidak selalu menggambarkan keseluruhan produktivitas.
Perkembangan teknologi, telah memungkinkan sejumlah pekerjaan dilakukan dari lokasi berbeda.
Laporan dapat disusun secara digital, rapat bisa berlangsung secara daring, dan proyek dapat dikelola melalui aplikasi kolaborasi.
Pergeseran ini memperkuat prinsip bahwa produktivitas perlu dinilai dari hasil, bukan hanya dari lamanya seseorang terlihat sibuk.
Seorang karyawan yang menyelesaikan pekerjaan dengan akurat dan tepat waktu bisa memberikan kontribusi besar meskipun tidak selalu bekerja di ruang kantor.
Sebaliknya, berada di kantor sepanjang hari belum tentu menjamin seluruh pekerjaan selesai dengan baik.
Untuk meningkatkan efektivitas kerja, pekerja dapat menetapkan target harian, menentukan prioritas, serta menggunakan aplikasi pengelolaan tugas seperti Trello, Asana, atau Notion.
Kemajuan pekerjaan juga sebaiknya dicatat secara transparan, agar atasan dan anggota tim dapat mengetahui status setiap proyek tanpa harus terus-menerus melakukan pengawasan langsung.
Meski begitu, bekerja jarak jauh bukan solusi untuk semua jenis pekerjaan.
Efektivitasnya tetap bergantung pada karakter tugas, kebijakan perusahaan, kebutuhan koordinasi, dan kesiapan infrastruktur.
"Yang terpenting, membangun kebiasaan kerja yang berorientasi pada hasil dan dapat dipertanggungjawabkan," paparnya.
4. Hanya Mau Mengerjakan Tugas Sesuai Deskripsi Pekerjaan
Pembagian tugas yang jelas diperlukan agar organisasi berjalan tertib.
Setiap pegawai memiliki tanggung jawab, batas kewenangan, dan target yang perlu dipenuhi.
Namun, terlalu terpaku pada deskripsi pekerjaan dapat membatasi kesempatan seseorang untuk belajar dan memahami persoalan yang lebih luas.
Dalam banyak pekerjaan modern, masalah tidak selalu berhenti pada satu departemen.
Tim pemasaran membutuhkan data penjualan, bagian keuangan memerlukan informasi operasional, dan tim produk perlu memahami perilaku konsumen.
Kondisi tersebut membuat kemampuan lintas bidang semakin berguna.
Salah satu pendekatan yang dikenal dalam pengembangan profesional adalah T-shaped skills.
Konsep ini menggambarkan seseorang yang memiliki keahlian mendalam dalam satu bidang sekaligus pemahaman dasar mengenai sejumlah bidang lain.
Sebagai contoh, seorang penulis dapat memperluas kemampuannya dengan mempelajari optimasi mesin pencari (SEO) dan analisis data.
"Seorang akuntan dapat memahami otomatisasi laporan, sedangkan tenaga sumber daya manusia dapat mempelajari analisis data karyawan," jelasnya.
Tujuannya, bukan membuat semua orang menjadi ahli dalam segala hal.
Fokus utamanya, memperluas perspektif dan meningkatkan kemampuan bekerja lintas fungsi.
Ada sejumlah cara untuk mulai membangun keterampilan tersebut.
Pertama, sisihkan waktu secara rutin untuk mempelajari kemampuan baru yang relevan.
Kedua, berdiskusi dengan rekan dari divisi berbeda untuk memahami tantangan mereka.
Ketiga, bersedia terlibat dalam proyek lintas departemen selama tanggung jawab utama tetap terpenuhi.
Kemampuan beradaptasi seperti ini, dapat membantu pekerja menemukan solusi yang lebih menyeluruh sekaligus memperluas peluang pengembangan karier.
5. Menganggap Masa Pensiun Sepenuhnya Menjadi Tanggung Jawab Institusi
Bagi banyak pekerja, masa pensiun merupakan salah satu alasan utama memilih pekerjaan tetap.
Kepastian penghasilan dan manfaat setelah berhenti bekerja memberikan rasa aman dalam merencanakan masa depan.
Namun, perencanaan hari tua tetap membutuhkan perhatian pribadi, terlepas dari status pekerjaan seseorang.
Kebutuhan hidup dapat berubah seiring waktu.
Inflasi berpotensi meningkatkan biaya kebutuhan sehari-hari, sedangkan kondisi kesehatan, tanggungan keluarga, dan usia harapan hidup turut memengaruhi kebutuhan dana pensiun.
Karena itu, mengandalkan satu sumber penghasilan masa tua tanpa memahami manfaat dan keterbatasannya dapat membuat perencanaan keuangan kurang matang.
Prinsip yang lebih bijak, menjadikan pensiun sebagai rencana keuangan jangka panjang yang perlu dipersiapkan sejak dini.
Langkah pertama, menghitung perkiraan biaya hidup setelah pensiun.
Pengeluaran untuk makanan, tempat tinggal, transportasi, kesehatan, dan kebutuhan keluarga perlu diperhitungkan secara realistis.
Selanjutnya, pahami manfaat pensiun yang tersedia dari tempat kerja atau program yang diikuti.
Periksa pula ketentuan kepesertaan, besaran manfaat, dan persyaratan pencairannya agar perhitungan tidak sekadar berdasarkan perkiraan.
Pekerja juga dapat menyisihkan sebagian pendapatan secara rutin untuk tabungan atau investasi jangka panjang sesuai tujuan, kemampuan keuangan, dan toleransi risiko.
Tidak semua instrumen investasi memiliki tingkat risiko yang sama.
Karena itu, penting untuk memahami produk sebelum menempatkan dana dan tidak tergoda oleh janji keuntungan tinggi yang tidak masuk akal.
Membangun sumber penghasilan tambahan juga bisa menjadi pilihan.
Namun, pendapatan sampingan sebaiknya dikembangkan secara realistis dengan memperhitungkan modal, waktu, dan kemungkinan kerugian.
Dengan perencanaan yang matang, manfaat pensiun dari institusi dapat menjadi salah satu bagian dari strategi keuangan, bukan satu-satunya sandaran.
Era Baru Menuntut Kemampuan Beradaptasi, Bukan Sekadar Bertahan
Lima pola pikir tersebut menunjukkan bahwa perubahan dunia kerja bukan hanya persoalan teknologi.
Cara seseorang memandang loyalitas, promosi, produktivitas, keterampilan, dan masa pensiun juga berpengaruh terhadap kesiapan menghadapi masa depan.
Pekerjaan tetap tidak otomatis membuat seseorang tertinggal.
Sebaliknya, bekerja sebagai pekerja lepas atau memiliki banyak sumber penghasilan juga tidak serta-merta menjamin kesuksesan finansial.
Setiap pilihan memiliki kelebihan dan risiko.
Pekerjaan tetap dapat memberikan stabilitas, sementara pekerjaan berbasis proyek menawarkan fleksibilitas sekaligus ketidakpastian pendapatan yang lebih besar.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri ketika kebutuhan pasar berubah.
Pekerja dapat memulainya dengan langkah sederhana yakni mengevaluasi keterampilan setiap enam bulan, menyusun portofolio hasil kerja, mempelajari teknologi yang relevan, dan meninjau kembali rencana keuangan pribadi.
Baca Juga: PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026 Dibuka, Ada 331 Formasi, Berikut Rinciannya
Pada akhirnya, kata Rizki, keamanan karier tidak hanya ditentukan oleh nama besar institusi atau lamanya masa pengabdian.
"Kemampuan yang relevan, integritas, kemauan belajar, serta pengelolaan keuangan yang disiplin turut menentukan kesiapan seseorang menghadapi perubahan," paparnya.
Bertahan di satu tempat bukanlah kesalahan.
Yang berisiko adalah berhenti berkembang ketika dunia di sekitar terus berubah. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti