AMLI Bidik Masa Depan Iklan Digital, Pasar OOH Capai Rp5,9 Triliun

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:10 WIB
Strategic Forum INDOOH 2026 diselenggarakan AMLI pada Jumat (9/10/2026) di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Strategic Forum INDOOH 2026 diselenggarakan AMLI pada Jumat (9/10/2026) di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

RADAR BOGOR - Industri periklanan luar ruang atau Out of Home (OOH) di Indonesia, menghadapi peluang besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. 

Namun, pertumbuhan layar digital saja belum cukup. 

Penguatan pengukuran audiens, pemanfaatan data, dan kolaborasi lintas industri menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing sektor ini.

Baca Juga: Status SI dan SPM di SIKS-NG Awal Oktober 2026 Bukan Tahap 4

Hal tersebut menjadi sorotan dalam Strategic Forum INDOOH 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Perusahaan Media Luar-Griya Indonesia (AMLI) pada Jumat (9/10/2026) di JIExpo Kemayoran, Jakarta. 

Forum ini berlangsung dengan dukungan Krista Exhibitions (PT Kristamedia Pratama), sebagai bagian dari pameran Indo Sign, LED & Advertising Expo 2026 / AllPrint Indonesia.

Mengangkat tema “Shaping the Future of Indonesia’s OOH Industry: Global Insights, Local Transformation, & Industry Collaboration”, forum tersebut mempertemukan pelaku industri untuk membahas transformasi media luar ruang, mulai dari digitalisasi hingga pengembangan sistem pengukuran dan periklanan berbasis programmatic.

AMLI Dorong Transformasi Industri OOH

Ketua Umum DPP AMLI, Fabianus Bernadi, menilai perkembangan industri media luar ruang tidak cukup hanya mengandalkan perubahan dari papan iklan konvensional menjadi layar digital. 

Menurutnya, transformasi juga harus mencakup cara industri menawarkan nilai kepada pengiklan.

Ia menekankan, pentingnya pergeseran dari sekadar menjual lokasi pemasangan iklan menjadi menawarkan akses kepada audiens dan pengalaman yang lebih relevan.

“Perubahan industri luar-griya bukan sekadar transisi dari papan statis ke layar digital, melainkan pergeseran mendasar dari sekadar selling location menjadi selling audience & experience. Kita harus membangun standar pengukuran dan ekosistem industri bersama agar OOH Indonesia menjadi pemain utama di kawasan regional,” ungkap Fabianus.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penguatan industri OOH perlu didukung standar pengukuran yang konsisten, pemanfaatan teknologi, serta kerja sama antarpelaku usaha. 

Dengan demikian, efektivitas iklan dapat dinilai secara lebih terukur dan dipertanggungjawabkan kepada pengiklan.

Pasar OOH Indonesia Capai US$330 Juta

Potensi pasar menjadi salah satu pembahasan utama dalam forum ini. 

Managing Director Indonesia di Billups, Agung Prihambodo menyampaikan, nilai pasar OOH Indonesia mencapai US$330 juta atau sekitar Rp5,91 triliun, dengan penetrasi digital mendekati 40 persen.

Baca Juga: PKH Validasi Tahap 3 Cair 12 Oktober 2026, BPNT Murni Kini Dapat PKH Balita

Meski infrastruktur layar digital terus berkembang, adopsi programmatic Digital Out of Home (pDOOH) di Indonesia masih berada di bawah 1 persen. 

Kondisi tersebut, menunjukkan adanya kesenjangan antara kesiapan infrastruktur digital dan pemanfaatan teknologi untuk transaksi iklan secara otomatis.

“Indonesia memiliki pasar OOH yang sangat potensial dengan penetrasi digital mendekati 40%, namun pDOOH kita masih di bawah 1%. Kita telah memiliki infrastruktur layar digital yang masif, kini saatnya membangun infrastruktur programmatic dan common measurement language agar daya saing industri kita sejajar dengan standar global,” ujar Agung.

Pengembangan pDOOH dinilai dapat membuka peluang baru bagi pengiklan untuk merencanakan, membeli, dan mengoptimalkan penayangan iklan digital luar ruang secara lebih fleksibel. 

Namun, penerapannya membutuhkan dukungan data audiens, standar pengukuran, dan sistem transaksi yang dapat digunakan bersama.

Industri Perlu Membuktikan Efektivitas Iklan Digital

Persoalan pengukuran juga menjadi perhatian CEO KLY sekaligus Chairman Indonesia Digital Association (IDA), Dian Gemiano. 

Ia menyoroti pentingnya menghubungkan media fisik dengan ekosistem digital agar kampanye periklanan dapat berjalan lebih terintegrasi.

Menurut Dian, keberadaan layar digital tidak otomatis menjamin efektivitas sebuah kampanye. 

Industri harus mampu menunjukkan bukti mengenai jangkauan audiens dan dampak iklan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: Gerindra Kabupaten Bogor Dukung Rudy Susmanto Lanjutkan Kepemimpinan

“Indonesia tidak memiliki masalah dengan jumlah layar digital, kita memiliki proof problem. Layar pintar tidak bernilai jika kita tidak bisa membuktikan efektivitas dan audiensnya. Kolaborasi IDA dan AMLI hadir untuk membangun tiga hal utama: laporan industri terverifikasi, standar pengukuran bersama, dan kerangka transaksi pDOOH,” ungkap Dian.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan pengiklan yang semakin mengutamakan hasil kampanye. 

Integrasi AdTech, interaktivitas konten, dan data audiens terukur juga berpotensi memperkuat strategi pemasaran omnichannel, yakni pendekatan yang menghubungkan berbagai saluran komunikasi dan periklanan.

AMLI dan IDA Sepakati Kerja Sama Strategis

Salah satu agenda penting dalam Strategic Forum INDOOH 2026 adalah penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara AMLI dan IDA.

Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum AMLI Fabianus Bernadi dan Ketua Umum IDA Dian Gemiano. 

Kerja sama ini menjadi landasan bagi kedua organisasi untuk mendorong pengembangan riset, penyusunan standar pengukuran lintas media, integrasi programmatic DOOH, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia di industri periklanan nasional.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu membangun ekosistem periklanan luar ruang yang lebih transparan dan terukur. 

Dengan adanya acuan bersama, pelaku industri juga berpeluang memperkuat kepercayaan pengiklan sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi digital.

Potensi DOOH di Daerah Masih Terbuka Lebar

Forum ditutup dengan diskusi panel bertajuk “Shaping the Future of OOH Industry & Q&A Session”. 

Sesi ini menghadirkan sejumlah praktisi dari perusahaan anggota AMLI, yakni CEO Playlog Bong Stevian, Founder Prisma Freddy Lauw, dan Marketing Director MKCI Bandung Jhon Gunadi.

Para panelis membahas peluang pertumbuhan media luar ruang di berbagai daerah di luar Jakarta. 

Salah satu data yang disoroti menunjukkan lebih dari 90 persen wilayah memiliki penetrasi DOOH di bawah 5 persen.

Baca Juga: KPM Bogor Pahami, Ini Perbedaan Perlinsos dan Aplikasi Cek Bansos

Angka tersebut menggambarkan masih luasnya ruang pengembangan digitalisasi media luar ruang di tingkat daerah. 

Di sisi lain, perluasan pasar juga membutuhkan transparansi pengukuran, kesiapan teknologi, dan model kerja sama bisnis yang sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.

Melalui Strategic Forum INDOOH 2026, AMLI bersama IDA dan para pelaku industri mendorong transformasi OOH yang tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan jumlah layar, tetapi juga pada kualitas data, efektivitas kampanye, dan kolaborasi yang berkelanjutan.

Langkah tersebut, menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi industri media luar ruang Indonesia di tengah perubahan lanskap periklanan, sekaligus membuka peluang agar pasar nasional semakin kompetitif di tingkat regional. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
AMLI Strategic Forum INDOOH 2026 iklan