RADAR BOGOR - Pukul sembilan malam. Seorang bapak di ruang tengah menerima telepon dari nomor yang tidak ia kenal. Suara di seberang ramah, terlatih, dan menyebut nama bank tempat ia menabung selama dua puluh tahun.
“Barusan ada transaksi mencurigakan di rekening Bapak,” katanya. “Kami bantu amankan. Bapak ikuti saja instruksi saya.”
Jantung bapak itu berdebar. Rekening itu berisi uang pendaftaran sekolah anak untuk tahun depan. Ia tidak sedang setengah sadar. Ia tidak sedang tidur, tidak sedang kesurupan, tidak sedang dibius.
Ia duduk di sofa miliknya sendiri, memegang ponsel yang ia beli dengan uangnya sendiri, dan dalam tiga menit lagi ia akan mengetikkan enam angka yang seharusnya tidak pernah ia ketikkan di hadapan siapa pun.
Baca Juga: Pegawai MBG Asal Purwakarta Terlibat Insiden di KPPG Bogor, Sanksi Keras Disiapkan
Yang hilang dari bapak itu bukan kesadaran. Yang hilang adalah jeda.
Saya tidak sedang menceritakan satu orang tertentu. Adegan ini, dengan varian paket yang tertahan di bea cukai, “pacar” yang bertugas di luar negeri, atau “mentor” trading di grup WhatsApp, berulang dalam 432.637 laporan yang masuk ke Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) hanya dalam tiga belas bulan pertama lembaga itu berdiri, sejak 22 November 2024.
Tapi mari mulai dari satu orang. Angka membuat kita mengangguk. Adegan membuat kita mengerti. Kalau ada satu kalimat yang ingin saya titipkan lewat tulisan ini, kalimatnya pendek: penipu tidak selalu membobol rekening. Sering kali mereka membobol keputusan manusia.
Dan membobol keputusan jauh lebih mudah daripada membobol rekening, karena rekening kita dilindungi berlapis sementara keputusan kita tidak dilindungi apa-apa sama sekali.
Hipnotis yang tidak ada di kamus kedokteran
Kata “hipnotis” di sini bisa disalahpahami, jadi lebih baik saya luruskan di depan. Tidak ada ilmu gaib yang bekerja lewat WhatsApp. Tidak ada orang yang bisa mengendalikan pikiran kita dari kota lain lewat sebuah pesan suara. Hypnosis sebagai praktik klinis punya prosedur dan batasnya sendiri, dan itu bukan yang sedang saya bicarakan.
Baca Juga: Viral Dugaan Penganiayaan di KPPG Bogor Utara, Polisi Turun Tangan Lakukan Penyelidikan
Yang saya maksud dengan hipnotis digital adalah sebuah kondisi yang jauh lebih biasa dan karena itu jauh lebih menakutkan. Seseorang tetap sadar. Tetap memegang ponsel. Tetap merasa dirinya sedang mengambil keputusan sendiri, bahkan merasa sedang mengambil keputusan yang brilian.
Tetapi keputusan itu, langkah demi langkah, sudah diarahkan oleh orang lain sejak berminggu-minggu sebelumnya.
Metafora ini saya pinjam dari hipnotis jalanan yang dulu sering kita dengar ceritanya: orang asing yang tiba-tiba diberi dompet oleh korbannya sendiri, rela menyerahkan kalung, atau mau menandatangani sesuatu yang tidak ia pahami. Kita menyebutnya sihir karena hasilnya terlihat seperti sihir.
Padahal yang bekerja adalah permainan kepercayaan dan tekanan yang terjadi terlalu cepat untuk sempat ditimbang.
Baca Juga: KKS Belum Bertambah Meski SI Muncul, Ini Penjelasan Bansos Tahap 4
Hipnotis digital mengerjakan hal yang sama, hanya dengan waktu yang jauh lebih lapang. Penipu jalanan butuh tiga menit di sebuah gang.
Penipu layar butuh tiga minggu, kadang tiga bulan, dan selama itu ia tidak menyentuh kita sama sekali. Ia hanya perlu membuat kita percaya. Setelah itu, sisanya akan kita kerjakan sendiri, dengan tangan kita sendiri, lewat aplikasi perbankan yang kita buka setiap pagi.
Yang “dihipnotis” di sini bukan kesadaran seseorang. Yang dihipnotis adalah ruang kecil antara rangsangan dan respons, ruang tempat kita biasanya berpikir dulu sebelum bertindak. Ruang itulah yang ditutup, dipersempit, atau diisi dengan kebisingan sampai kita tidak lagi menyadarinya ada.
Yang diserang bukan sistem
Perhatikan baik-baik satu hal yang sering terlewat. Dalam hampir semua kasus penipuan digital, tidak ada satu pun sistem yang diserang. Tidak ada server yang dibobol. Tidak ada celah keamanan yang dieksploitasi. Tidak ada kata sandi yang dicuri.
Baca Juga: Warga Gunung Putri Bogor Temukan Pria 57 Tahun Meninggal Dunia
Penipu tidak perlu membobol rekening Anda jika mereka berhasil membuat Anda mengirim uangnya sendiri.
Penipu tidak perlu mencuri kata sandi Anda jika mereka berhasil membuat Anda menyerahkannya sendiri, lengkap dengan kode OTP yang baru saja muncul di layar, bahkan kadang dengan wajah Anda sendiri yang bergerak menurut permintaan mereka di sebuah video call.
Kita sudah bertahun-tahun memakai bahasa keamanan siber untuk membicarakan urusan yang sebetulnya bukan urusan keamanan siber. Kita bilang “akunnya dibobol” padahal tidak ada yang masuk ke akun kita.
Kita bilang “serangan siber” padahal tidak ada serangan terhadap siber apa pun. Yang terjadi adalah seorang manusia dibujuk oleh manusia lain, memakai naskah, membagi tugas, dan dibayar bulanan.
Dalam literatur keamanan, wilayah ini bernama social engineering, rekayasa sosial. Istilahnya terdengar lembut, hampir mirip nama program pelatihan.
Baca Juga: Rumah Sakit Cariu Masih Sebatas Wacana Lisan, DPRD Bogor Minta Segera Ajukan Resmi
Tetapi isinya sederhana dan kejam: kalau Anda ingin masuk ke sebuah gedung, Anda bisa mendobrar pintunya atau Anda bisa menunggu di lobi sampai ada orang yang baik hati membukakan pintu untuk Anda.
Cara kedua lebih murah, lebih cepat, dan nyaris tidak meninggalkan jejak.
Di sinilah teknologi menempatkan posisinya yang sebenarnya. Teknologi bukan penyebab dan bukan pula obat. Ia hanya alat yang membuat rekayasa sosial bisa dijalankan dengan jangkauan yang dulu mustahil.
Satu penipu jalanan melayani satu korban pada satu waktu. Satu sindikat dengan seratus telepon genggam dan sepuluh rekening penampung melayani ratusan korban serentak, di beberapa negara sekaligus, tanpa pernah bertemu siapa pun.
Di kasus yang diungkap Polda Jawa Timur pada akhir September 2026, penyidik menemukan uang korban mengalir lewat 77 rekening dengan total perputaran Rp3,19 triliun hanya dalam kurun Desember 2025 sampai Mei 2026. Itu bukan kerja seorang penipu. Itu kerja sebuah perusahaan, tanpa kantor dan tanpa nurani.
Harapan yang ditata rapi di layar
Baca Juga: Tundukkan Cong Viettel FC, Mariano Peralta Ungkap Kunci Kemenangan Persib Bandung
Scam investasi adalah contoh paling rapi dari mekanisme ini, jadi kita mulai dari sana.
Yang dijual penipu investasi bukan barang dan bukan jasa. Yang dijual adalah harapan: modal kecil, untung besar, cepat, dan hampir tanpa risiko. Kalimatnya selalu sopan dan selalu berbunyi seperti brosur.
Passive income. Robot trading. Profit harian. Keuntungan konsisten. Kesempatan terbatas. Sesekali yang berbicara adalah seorang teman lama: “Tenang, saya sudah coba, sudah cair.” Di titik terakhir ini, penipuan berhenti terlihat seperti penipuan, karena yang mengajak adalah orang yang kita sayangi.
Lalu dibuatlah panggungnya. Sebuah situs yang terlihat profesional, grafik yang bergerak naik, riwayat transaksi, layanan pelanggan yang cepat membalas, dan grup berisi ratusan orang yang setiap hari melaporkan untung.
Korban memasukkan Rp5 juta. Seminggu kemudian aplikasinya menunjukkan Rp5,7 juta. Ia iseng menarik Rp500 ribu, dan uang itu benar-benar masuk ke rekeningnya.
Baca Juga: Bansos PKH BPNT Tahap 4 Belum Final Closing, KPM Perlu Cek 5 Informasi Ini
Pada detik itulah rasa curiga mati. Dan pada detik itulah korban benar-benar masuk ke dalam jebakan, karena uang Rp500 ribu yang “cair” itu bukan keuntungan dari pasar. Kemungkinan besar itu uang korban lain, atau uang penipu sendiri yang dengan sengaja dibayarkan sebagai modal kepercayaan.
Sebuah perusahaan yang rela membayar Rp500 ribu untuk membuat seseorang berani menyetor Rp200 juta sedang tidak menjual investasi. Ia sedang membeli keputusan kita.
Angka di aplikasi itu penting kita pahami posisinya. Angka di layar tidak sedang memberi informasi. Angka di layar sedang memberi perasaan. Sensasi progres, sensasi menjadi pintar, sensasi akhirnya berhasil. Dan begitu perasaan itu menempel, penarikan tidak bisa masuk lagi.
Saldo diblokir. Muncul denda, lalu pajak, lalu biaya verifikasi, lalu batas minimum pencairan. Setiap satu alasan berarti satu transfer baru.
Baca Juga: Dilantik Jadi Wamentan, Alim Setiawan Beberkan Fokus Kerjanya
Saya sering membayangkan posisi korban di tahap ini, dan saya tidak menemukan alasan untuk tertawa. Ia sudah menyetor banyak. Ia melihat saldonya masih ada, tertulis jelas di sana. Kalau ia berhenti sekarang, seluruhnya hilang.
Kalau ia membayar satu kali lagi, mungkin cair. Secara emosional, langkah selanjutnya terasa satu-satunya langkah yang waras.
Psikologi menyebutnya sunk cost fallacy, kecenderungan melanjutkan sesuatu yang sudah kita biayai terlalu mahal untuk kita tinggalkan, meskipun tanda-tanda kegagalannya sudah terlihat. Penipu tidak menemukan kerentanan itu.
Mereka hanya menemukannya, seperti orang yang menemukan pintu yang memang tidak dikunci.
Dua kasus yang sudah berkekuatan hukum tetap di Indonesia memperlihatkan betapa mahalnya pintu itu.
Baca Juga: Sampah Liar Jadi Sorotan, Tiap Desa di Cileungsi Bogor Diusulkan Punya Mobil Patroli
Indra Kenz divonis sepuluh tahun penjara; putusan banding di Pengadilan Tinggi Banten pada 10 Januari 2023 menguatkan hukuman itu dan membuat keputusan yang lebih penting, yaitu mengembalikan aset terpidana kepada para korban, bukan merampasnya untuk negara.
Jumlah korbannya 144 orang dengan kerugian sekitar Rp83 miliar. Doni Salmanan divonis empat tahun di Pengadilan Negeri Bale Bandung pada 15 Desember 2022, jauh di bawah tuntutan tiga belas tahun jaksa, dengan tuntutan ganti rugi Rp17 miliar untuk korban tidak dikabulkan; Pengadilan Tinggi Bandung kemudian memperberatnya menjadi delapan tahun pada Februari 2023, dan kasasi serta peninjauan kembali di Mahkamah Agung ditolak pada 2023 sampai 2024. Kerugian korbannya sekitar Rp24 miliar.
Keduanya kini sudah berada di luar penjara. Indra Kenz mendapat bebas bersyarat pada 24 September 2026 dan Doni Salmanan pada 6 April 2026.
Yang menarik justru apa yang terjadi setelah vonis. Ganti rugi korban Indra Kenz masih berliku, dan menurut pemberitaan, cara pembagian aset sitaan oleh sebuah paguyuban korban dipersoalkan sampai dilaporkan ke Bareskrim Polri.
Baca Juga: Tak Perlu ke ATM, Ini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 2026
Ini pelajaran yang jarang kita ambil: pengadilan bisa menghukum penipu dalam satu hari, tetapi korban menunggu bertahun-tahun, dan sebagian besar tidak pernah benar-benar selesai.
Ada satu detail dari kasus Quotex yang menurut saya layak direnungkan lebih lama daripada vonis mana pun. Doni Salmanan bergerak sebagai afiliator. Menurut pemberitaan detik, dalam skema seperti ini pengajak bisa mendapat bagian sampai 80 persen dari kerugian orang yang mendaftar lewat tautannya.
Artinya, penghasilan si pengajak naik ketika kerugian si diajak naik. Orang yang mengajak Anda “belajar trading” mungkin bukan sedang berbagi ilmu. Ia sedang menghasilkan uang dari kehilangan Anda.
Pola yang sama, dengan skala yang lebih besar, pernah terjadi di tingkat global lewat OneCoin. Proyek yang dipromosikan sebagai mata uang digital ini dijalankan tanpa blockchain yang bisa diverifikasi, hanya berisi basis data internal yang bisa diubah oleh perusahaan sendiri.
Salah satu tokoh utamanya, Ruja Ignatova, tampil di panggung-panggung mewah dengan julukan “Cryptoqueen”, lalu menghilang pada 2017 dan masuk ke daftar Sepuluh Buronan Paling Dicari FBI dengan imbalan hingga 5 juta dolar bagi siapa pun yang membawa informasi menuju penangkapannya. Ia belum ditemukan. Pelajaran OneCoin bukan soal kripto baik atau buruk.
Baca Juga: Review Service Pertama Motor Nmax Neo S di Dealer Resmi Yamaha, Begini Hasilnya
Pelajarannya: kata-kata seperti blockchain, AI, dan robot trading bukan bukti. Kata-kata itu justru paling berguna bagi orang yang tidak perlu membuktikan apa pun.
Dan jangan lupakan penipu yang datang setelah penipu. Korban yang sudah kehilangan uang, putus asa, dan mencari jalan, akan menemukan orang yang menawarkan jasa “mengembalikan dana yang hilang”.
Ini recovery scam, penipuan kedua yang memang dirancang khusus untuk memburu korban penipuan pertama. Tidak ada pihak ketiga yang bisa menarik kembali uang yang sudah dikirim ke penipu, kecuali lewat proses hukum resmi. Siapa pun yang menjanjikan sebaliknya sedang menjual harapan kedua kepada orang yang sudah kehabisan harapan pertama.
Cinta yang datang lebih dulu, uang belakangan
Kalau scam investasi menyerang harapan, scam asmara menyerang sesuatu yang lebih dalam: kebutuhan kita untuk tidak sendirian.
Banyak orang membayangkan penipuan asmara sebagai orang asing yang langsung bilang cinta lalu minta uang. Jarang begitu.
Baca Juga: KKS Baru Terima Rp1,3 Juta hingga Rp3,3 Juta, Bansos Apa yang Cair?
Biasanya dimulai dengan “Hai.” Lalu “Sudah makan?” Lalu pesan pagi yang datang terus-menerus selama berminggu-minggu, yang mengingat cerita kecil tentang anak kita, yang tahu kapan bertanya dan kapan mendengarkan. Tidak ada satu pun dari itu yang ilegal. Tidak ada satu pun dari itu yang kelihatan berbahaya.
Yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang sulit dibantah oleh siapa pun yang pernah kesepian.
Kita mulai menunggu pesan itu. Kita mulai menceritakan hal yang tidak kita ceritakan kepada pasangan lama. Kita merasa dimengerti oleh seseorang yang tidak pernah kita lihat identitas aslinya. Rasa percaya tumbuh sedikit demi sedikit, hampir tanpa suara, sampai suatu hari ia sudah menjadi struktur besar yang kita tinggali.
Baru kemudian datang masalah. Barang tertahan di bea cukai. Kecelakaan. Rekening diblokir karena sedang berada di luar negeri. Butuh biaya darurat, katanya, hanya sementara. Kata “sementara” selalu dipilih dengan teliti karena kata itu membuat jumlah uang terasa kecil. Setelah transfer pertama, masalah kedua muncul, biasanya lebih besar.
Baca Juga: Bogor Diguncang Gempa Dua Kali, BMKG: akibat Aktivitas Sesar Aktif
Di titik ini saya ingin membuat satu catatan yang menurut saya penting supaya tulisan ini tidak berubah menjadi ceramah.
Bagi korban scam asmara, uang yang dikirim hampir tidak pernah merupakan transaksi finansial dalam arti biasa. Uang itu bisa menjadi bukti cinta, bukti kepercayaan, bukti bahwa hubungan itu nyata. Ia menjadi cara untuk mempertahankan satu-satunya orang yang belakangan ini mau mendengarkan kita.
Menyebutnya “keteledoran” adalah salah membaca peristiwa. Yang terjadi adalah seseorang dibawa ke posisi di mana mengirim uang terasa lebih mengancam jiwanya daripada tidak mengirim.
Penipu memahami ini dan memakainya dengan rapi. Permintaan uang dikemas sebagai ujian: “Kalau kamu benar-benar percaya sama saya...” Pertanyaan awalnya, “Apakah saya harus mengirim uang?”, diam-diam diganti menjadi “Apakah saya mencintai orang ini?” Dua pertanyaan itu tidak sama, dan perpindahan dari satu ke yang lain terjadi begitu halus sehingga korban tidak pernah melihat pintunya ditutup.
Baca Juga: Kemenko Pangan Kawal Penanganan Karhutla di 4 Provinsi, Ribuan Hektare Lahan Jadi Prioritas
Kasus Simon Leviev, yang dikenal luas lewat dokumenter Netflix The Tinder Swindler(2022), memperlihatkan polanya dalam bentuk paling sinis.
Ia menyamar sebagai putra seorang pedagang berlian Israel, menampilkan jet pribadi dan hotel bintang lima, lalu meminta bantuan keuangan kepada perempuan-perempuan yang ia temui di aplikasi kencan dengan cerita bahwa dirinya sedang dalam bahaya.
Uangnya membiayai gaya hidupnya dan dipakai memikat korban berikutnya, sebuah skema Ponzi yang bahan bakarnya bukan uang, melainkan kasih sayang.
Tiga kasus yang diungkap polisi Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan mekanisme yang sama bekerja di lingkungan kita sendiri, dan strukturnya mengagetkan.
Baca Juga: Jelang Bansos PKH BPNT Tahap 4 2026, KPM Wajib Hindari 4 Hal Ini
Di Surabaya, pada 22 Juni 2026, Polda Jawa Timur menangkap tiga orang, sebagian warga negara asing dari Afrika Barat, yang menurut laporan media telah menjadikan 53 perempuan Indonesia korban dengan kerugian sekitar Rp1,1 miliar.
Mereka membangun akun palsu di TikTok, Facebook, Instagram, dan WhatsApp, mengincar perempuan paruh baya, mengirim pesan setiap hari, lalu menjanjikan hadiah mewah berupa jam tangan dan laptop. Syaratnya hanya satu: korban membayar ongkos kirim dan bea cukai. Hadiahnya tidak pernah ada. Ongkos kirimnya nyata, dan itulah keuntungan mereka.
Di Lampung Utara, pada awal Mei 2026, polisi mengungkap 137 warga binaan di sebuah rumah tahanan yang diduga menjalankan penipuan asmara dari dalam penjara. Mereka menyamar sebagai anggota Polri dan TNI, mengajak video call yang bersifat pribadi, lalu merekamnya.
Orang lain dari komplotan yang sama kemudian menghubungi korban, mengaku dari Propam atau Polisi Militer, dan mengancam menyebarkan rekaman itu.
Baca Juga: Warga Bogor Catat, Ini Cara Merawat Roller CVT Motor Matic agar Tidak Cepat Aus
Hasilnya dibagi dengan aturan yang hampir akuntansi: tiga puluh persen untuk pemimpin, sepuluh persen untuk pelaksana lapangan, enam puluh persen untuk pekerja.
Polisi menyita 156 telepon genggam dan sepuluh rekening penampung, dengan kerugian sekitar Rp1,4 miliar dari ratusan korban. Ini sextortion, dan ia mengingatkan satu hal yang nyaman kita lupakan: penipu tidak selalu jauh. Terkadang mereka berada di balik jeruji, dan tetap punya seratus ponsel.
Yang paling kompleks terjadi di Jawa Tengah. Polda Jawa Tengah, bekerja sama dengan FBI, membongkar sindikat yang beroperasi dari Indonesia antara Juli 2025 dan Mei 2026.
Polisi menetapkan 39 tersangka: 28 warga Indonesia, 7 warga Nepal, 4 warga Myanmar. Korbannya sedikitnya 133 warga Amerika Serikat dengan kerugian sekitar 2,32 juta dolar atau Rp41,1 miliar. Pada September 2026, 38 tersangka dilimpahkan ke kejaksaan untuk disidangkan.
Baca Juga: Dospulkam IPB University Belajar dari Kampung Adat Cirendeu, Siapkan Desa Wisata Talas Situgede
Modusnya disebut pig butchering, istilah kasar yang artinya menggemukkan sebelum menyembelih. Pelaku mencari korban lewat aplikasi kencan dan media sosial memakai identitas palsu, membangun kedekatan berminggu-minggu lewat pesan pribadi, lalu menawarkan investasi kripto beruntung tinggi pada platform yang sudah mereka atur sendiri.
“Menggemukkan” berarti fase kepercayaan. “Menyembelih” berarti saat penarikan ditutup. Menurut polisi, para pekerja sindikat digaji Rp15 sampai 20 juta per bulan, dan kelompok ini punya struktur pemasaran yang juga mempekerjakan “model perempuan”, orang-orang yang wajahnya dipakai untuk membuat profil palsu.
Artinya, wajah yang membuat kita jatuh cinta mungkin adalah bagian dari daftar gaji orang lain. Dan pada beberapa operasi sejenis di berbagai negara, orang yang mengobrol dengan korban itu sendiri bukan pelaku bebas, melainkan korban perdagangan manusia yang paspornya disita dan geraknya dibatasi. Dalam rantai ini bisa ada korban di kedua ujung: yang kehilangan uang dan yang kehilangan kebebasan.
Coba bandingkan kedua jalur yang sudah kita telusuri. Scam investasi berjalan dari harapan menuju kepercayaan, lalu ke angka, keputusan, dan kerugian.
Scam asmara berjalan dari kesepian menuju kedekatan, lalu ke kepercayaan, ketergantungan, dan akhirnya keputusan finansial. Bentuknya berbeda, korbannya berbeda, ceritanya berbeda. Yang sama adalah bahwa pada tahap pengambilan uang, korban sedang tidak menghitung. Korban sedang merasa.
Semua modus, satu mekanisme
Baca Juga: Tinggal Kelas Bukan Jaminan, Pemerhati Pendidikan Soroti Pentingnya Pendampingan
Perluasan ini penting supaya tulisan tidak berhenti pada dua contoh. Penipuan digital punya banyak nama, dan masing-masing punya satu tombol yang ia tekan.
Impersonation scam adalah modus yang membuka tulisan ini: orang yang mengaku dari bank, dari OJK, dari polisi, dari kurir paket, atau dari lembaga pemerintah. Tombolnya rasa takut, ditambah kecenderungan kita patuh kepada siapa pun yang terdengar resmi.
Korbannya jarang orang yang tidak paham teknologi. Korbannya adalah orang yang sedang yakin bahwa ia sedang menyelamatkan uangnya sendiri.
Job scam menekan kebutuhan akan pekerjaan: kerja dari rumah, gaji besar, awalnya kelihatan gratis, lalu tiba-tiba muncul biaya pendaftaran, biaya pelatihan, atau permintaan menerima dan meneruskan uang.
Prize scam menekan kegembiraan: kabar menang undian yang tidak pernah kita ikuti, dengan syarat melunasi “biaya administrasi” lebih dulu. Recovery scam, seperti sudah saya singgung, menekan keputusasaan korban penipuan pertama.
Baca Juga: Jangan Tergiur Harga Murah dan Fitur Mewah, Ini 5 Tips Membeli Mobil Bekas
Kalau deretan itu kita susun berdampingan, muncul sesuatu yang tidak terlihat dari satu kasus saja. Yang berbeda antar modus bukan tekniknya, melainkan emosi mana yang dipilih: harap, takut, sepi, kasihan, serakah, gembira, putus asa. Karena itu upaya membuat daftar “tanda-tanda penipuan” selalu terasa ketinggalan setahun. Modusnya berganti. Tombolnya tidak.
Dan tombol tidak akan berganti, karena ia bukan bagian dari teknologi. Ia bagian dari menjadi manusia. Di sinilah satu kekhawatiran terakhir perlu disebut. Video call, yang dulu kita anggap bukti paling akhir tentang identitas seseorang, tidak lagi membuktikan apa pun selain bahwa ada wajah di layar. Wajah bisa ditukar secara langsung, di tengah percakapan.
Yang tersisa hanyalah verifikasi berlapis dan satu kebiasaan lama yang tidak pernah semahal sekarang: menunda keputusan sampai kita bisa menanyakannya kepada orang lain.
Kenapa orang pintar bisa ikut mengantre
Ada satu kalimat yang selalu muncul setiap kali kasus seperti ini ramai: “Kok bisa percaya? Masa orang berpendidikan begitu?”
Baca Juga: Kenapa Dua KDMP di Cileungsi Bogor Berdiri Berdampingan? Ternyata Ini Alasannya
Kalimat itu menenangkan karena membuat kita merasa berbeda dari korban. Sayangnya kalimat itu salah secara faktual. Berdasarkan kasus-kasus yang diungkap polisi, korbannya ibu rumah tangga, karyawan swasta, pensiunan, mahasiswa, dan profesional termasuk dokter serta akuntan. Angka IASC yang saya kutip di depan berbicara tentang ratusan ribu orang, sebuah angka yang secara statistik mustahil hanya berisi orang-orang yang kurang cerdas.
Penipu tidak menyerang kecerdasan. Kecerdasan tidak relevan dengan cara kerja ini, sama tidak relevannya dengan kepintaran yang melindungi seseorang dari pencopet di pasar. Yang diserang adalah kondisi emosional seseorang pada saat penipu mendekat, dan di sinilah perlu kita katakan dengan jelas: penipu tidak memilih korbannya berdasarkan kepintaran, mereka memilih berdasarkan momentum.
Orang yang sedang butuh uang tambahan mudah tergiur untung besar. Orang yang sedang kesepian mudah luluh pada perhatian yang konsisten. Orang yang baru kehilangan pekerjaan mudah percaya pada jalan pintas. Orang yang panik karena mengira rekeningnya dibobol akan menuruti siapa pun yang terdengar tenang dan resmi.
Semua manusia pernah berada di salah satu keadaan itu, pada usia berapa pun, dengan gelar apa pun. Sarjana komputer yang sedang butuh dana darurat bisa lebih mudah masuk ke grup “belajar trading” daripada yang ia kira, karena kepintarannya berada di bidang lain sementara kelemahannya berada di bidang yang sama dengan kita semua.
Yang membuat seorang bapak menuruti telepon di jam sembilan malam, karena itu, bukan ketidaktahuannya tentang internet. Suara di seberang terdengar tahu persis apa yang ia takutkan dan menawarkan jalan keluar dengan nada yang lebih tenang daripada kepanikannya.
Baca Juga: Kabel Mobil Meleleh Saat Korslet? Warga Bogor Wajib Tahu Penyebabnya
Tambahannya, kita jarang membicarakan lawannya secara jujur. Di sisi korban ada satu orang dengan perasaan yang sedang tidak stabil. Di sisi penipu ada tim dengan naskah yang sudah diuji, pembagian tugas, rekening yang dibeli dari warga membutuhkan, anggaran iklan, dan gaji bulanan.
Dalam kasus Polda Jawa Timur, kerugian awal dari tujuh laporan saja sudah mencapai Rp12,9 miliar dan sekitar Rp81,5 miliar dana berhasil diblokir sebelum sempat hilang. Ketika kita bertanya “kenapa tidak cek dulu?”, kita sedang meminta seorang individu mengalahkan sebuah industri.
Pertanyaan “kok bisa percaya?”
Korban scam investasi dan korban scam asmara biasanya kehilangan dua hal, dan yang kedua jarang dihitung. Yang pertama uang. Yang kedua rasa percaya, bukan hanya kepada orang itu, tetapi kepada penilaian mereka sendiri tentang dunia.
Ada seorang kenalan yang bercerita bahwa setelah ditipu lewat janji investasi, ia tidak berani percaya pada tawaran apa pun selama dua tahun, termasuk yang sah. Itu kerugian yang tidak masuk ke laporan mana pun, tidak tercatat di IASC, dan tidak pernah muncul di angka Rp9,1 triliun. Yang rusak bukan saldo. Yang rusak adalah kemampuan seseorang untuk percaya bahwa ia bisa memahami tawaran yang datang kepadanya.
Karena itu sikap kita terhadap korban bukan masalah sopan santun belaka. Ia bagian dari infrastruktur penipuan.
Penipu bergantung pada rasa malu korban. Di kasus Lampung, korban diancam disebarkan rekamannya. Di kasus Surabaya dan kasus Jawa Tengah, korban dibujuk merahasiakan hubungan itu dari keluarga.
Baca Juga: Cara Pasang Komponen Kepala Silinder Vario 125, Warga Bogor Wajib Tahu Urutannya
Dan bahkan tanpa ancaman, sebagian korban diam karena tidak sanggup menanggung kalimat “sudah saya bilang”. Akibatnya, banyak korban tidak pernah melapor. Angka 432.637 laporan itu adalah angka yang dilaporkan saja, dan kita semua tahu jumlah yang sebenarnya jauh lebih besar. Semakin banyak korban memilih diam, semakin murah biaya operasional seorang penipu.
Pertanyaan “kok bisa percaya?” hampir selalu muncul setelah kejadian, ketika kita sudah memegang seluruh fakta. Pertanyaan itu dinilai dengan informasi yang tidak pernah dimiliki korban pada saat ia memutuskan.
Korban memutuskan dalam keadaan informasi terbatas, ditekan waktu, sedang merasa percaya kepada orang yang sedang ia ajak bicara, dan sedang berada di tengah emosi yang kuat. Menilai keputusan itu dengan ketenangan kita hari ini bukan keadilan. Itu hanya kelegaan karena kita mengira diri kita aman.
Tegas saja: memahami korban tidak berarti membenarkan keputusan korban. Tidak ada kewajiban moral untuk menganggap transfer Rp200 juta kepada orang tak dikenal sebagai pilihan yang tepat.
Justru karena saya tidak menganggapnya tepat, saya perlu menjelaskan bagaimana ia bisa terjadi. Selama penyebabnya dipercaya sebagai kebodohan, pencegahannya akan berhenti pada imbauan agar orang jangan bodoh, dan imbauan itu tidak pernah bekerja.
Yang hilang bukan hanya rupiah
Mari kita kembali ke tesis dan mengujinya sampai ke batas terdalam.
Baca Juga: Skema Baru Bansos PKH dan BPNT 2026, 3 Kelompok Penerima Seumur Hidup
Persoalan terbesar dari penipuan digital bukan bahwa seseorang kehilangan uang. Orang kehilangan uang karena banyak sebab, dan kehilangan uang masih bisa dikerjakan ulang, meski lambat. Persoalan terbesar adalah bahwa seseorang bisa dibuat merasa bahwa keputusan yang salah terasa sebagai keputusan yang masuk akal, pada saat ia mengambilnya, dengan bukti-bukti yang tersaji di layar di tangannya sendiri.
Sampai titik ini, seluruh pembahasan kita berpindah tempat. Kita sudah bicara cukup lama tentang aplikasi, rekening, OTP, legalitas, dan izin usaha. Semua itu penting, tetapi itu bukan medan pertempurannya. Medan pertempurannya adalah kualitas keputusan seseorang pada tiga menit paling menentukan dalam hidupnya, dan di situ hampir tidak ada perlindungan apa pun.
Rekening kita dijaga sistem verifikasi berlapis. Transaksi besar butuh OTP. Ada notifikasi, ada limit, ada customer service, ada pemblokiran. Kita membangun semua itu karena kita mengira ancaman datang dari luar, mengendap-endap, mencoba masuk. Kenyataannya ancaman datang dari dalam, berjalan santai, membawa semua data yang kita berikan sendiri.
Saya ingin menguji satu kemungkinan terakhir. Anggaplah suatu hari nanti semua bank memasang pengamanan sempurna, semua platform menghapus iklan penipuan, dan semua aplikasi ilegal hilang dari toko aplikasi. Apakah penipuan berhenti? Tidak. Karena yang dieksploitasi bukan kelemahan aplikasi. Yang dieksploitasi adalah harapan bahwa hidup bisa lebih baik, kebutuhan untuk diperhatikan, ketakutan akan kehilangan, kecenderungan memercayai orang yang bersikap resmi, dan dorongan untuk segera selesai. Semua itu bukan bug. Semua itu kondisi menjadi manusia.
Baca Juga: Rem Cakram Motor Macet dan Kampas Aus, Warga Bogor Wajib Waspada
Literasi digital yang salah kaprah
Kalau diagnosisnya keputusan, maka obatnya tidak bisa berupa daftar larangan.
Selama ini literasi digital kita kebanyakan berhenti pada dua kalimat: jangan klik tautan sembarangan, dan jangan berikan OTP. Keduanya benar. Keduanya harus diulang terus.
Tetapi keduanya bekerja pada level pengetahuan, sementara penipuan bekerja pada level perilaku di bawah tekanan. Orang yang hafal seluruh imbauan keamanan digital masih bisa menjadi korban, dan itu bukan tanda bahwa ia tidak tahu. Itu tanda bahwa tahu dan mampu melakukan bukanlah hal yang sama.
Karena itu literasi digital perlu naik kelas. Ia harus diartikan ulang sebagai kemampuan mempertahankan kualitas pengambilan keputusan di ruang digital, bukan kemampuan mengenali teknologi.
Isinya jauh lebih sulit diajarkan daripada daftar larangan. Menahan diri ketika sesuatu terasa terlalu menguntungkan. Menyadari bahwa emosi sedang mengambil alih, padahal tidak ada yang pernah mengajarkan kita membaca tanda-tanda tubuh kita sendiri saat panik.
Memeriksa lewat jalur yang kita cari sendiri, bukan lewat nomor yang diberikan oleh pihak yang menghubungi kita. Berani mencari pendapat kedua dari orang yang tidak punya kepentingan. Mengenali tekanan waktu sebagai teknik, bukan sebagai fakta. Dan yang paling sulit: memahami bahwa keramaian bukan kebenaran. Seribu orang di sebuah grup WhatsApp yang melaporkan untung bukan bukti legalitas. Seribu orang bisa berada di grup yang salah. Sepuluh ribu orang juga bisa salah.
Baca Juga: Siswa SMK SMAK Bogor Pamerkan Inovasi, dari Permen Bayam hingga Gel Kolagen Ikan
Dari semua kemampuan itu, satu saja yang saya harap pembaca ingat. Ia berupa kata kerja, bukan pengetahuan. Kemampuan untuk berhenti.
Karena kalau kita periksa kembali semua kasus yang sudah kita bahas, dari Bapak di jam sembilan malam sampai 133 korban di Amerika Serikat, tidak ada satu pun yang meminta korban menjadi pintar.
Yang diminta selalu sama: jangan berhenti. Transfer sekarang. Kesempatan tinggal hari ini. Rahasiakan dulu. Jangan cerita ke keluarga. Semua naskah penipu, tanpa terkecuali, dirancang untuk mencegah satu tindakan ini.
Maka kemampuan berhenti adalah tandingan yang tepat untuk hipnotis digital, dan itu jauh lebih layak diajarkan daripada imbauan “hati-hati di internet”. Sekolah dan kampus, tempat saya bekerja sehari-hari, sejauh ini mengajarkan literasi digital sebagai materi yang bisa diuji dengan pilihan ganda. Tetapi keputusan di bawah tekanan emosional tidak bisa diuji dengan pilihan ganda. Ia perlu dilatih, seperti orang melatih diri untuk tidak bereaksi, dan kita hampir tidak pernah memasukkan keterampilan itu ke dalam kurikulum apa pun.
Tidak adil menaruh semuanya di pundak korban
Sekalipun semua yang saya tulis di atas benar, ada satu kejujuran yang sering hilang dari perbincangan ini, dan saya tidak ingin melewatinya.
Pencegahan penipuan hari ini dibebankan hampir seluruhnya kepada individu. Kita dibekali imbauan, dan ketika gagal, kita dipanggil naif. Sementara itu, ekosistem yang membuat penipuan mungkin berjalan terus dirancang oleh pihak-pihak yang tidak pernah ikut dimintai pertanggungjawaban dalam percakapan publik.
Baca Juga: Jangan Asal Pasang, Ini Cara Memasang Ring Piston Motor yang Benar
Tanyakan pada diri sendiri bagaimana 77 rekening penampung bisa dibuka dan dipakai memutar Rp3,19 triliun dalam enam bulan di satu kasus saja, sebagaimana diungkap penyidik Polda Jawa Timur.
Bagaimana seseorang bisa membeli rekening atas nama orang lain? Kenapa nomor rekening yang sudah dilaporkan berulang kali di cekrekening.id masih bisa menerima transfer? Platform apa yang mengizinkan iklan investasi dengan janji keuntungan 200 persen berjalan cukup lama untuk mengumpulkan ratusan korban? Siapa yang menindak aplikasi yang disebar lewat berkas APK karena tidak lolos kurasi toko aplikasi resmi, sementara aplikasi bank kita sendiri tidak bisa dipasang dengan cara itu?
Ini bukan pertanyaan retoris. Setiap jawaban di dalamnya berarti satu tanggung jawab yang bukan milik korban.
Bank dan penyedia pembayaran memegang pintu belakang yang jarang dibicarakan, yaitu rekening penampung yang baru dibuka, transaksi yang berpindah dalam hitungan menit, dan pola yang secara teknis sangat mudah dikenali. Platform digital memegang pintu depan berupa iklan dan akun palsu, dan mereka memiliki data jauh lebih lengkap daripada kita untuk mengenali keduanya.
Regulator sudah bergerak, dan IASC adalah bukti bahwa negara tidak diam: sampai 29 April 2026 lembaga itu menerima 548.093 laporan, memblokir 485.758 rekening dari 932.138 rekening yang dilaporkan, dan menyelamatkan Rp614,3 miliar. Itu prestasi, dan perlu disebut apa adanya.
Baca Juga: Groundbreaking Desember, Akses Menuju PSEL Kayumanis Bogor Disiapkan Lebar 8 Meter
Tetapi lihat kedua angka itu berdampingan. Dana yang berhasil diselamatkan dan dikembalikan, sekitar Rp614,3 miliar, berbanding kerugian yang dilaporkan, yang sudah menembus triliunan. Dari data Januari 2026, hanya sekitar Rp161 miliar yang kembali dari Rp9,1 triliun kerugian, kurang dari dua persen.
Semua kecepatan dan semua koordinasi itu bekerja setelah uang sudah bergerak. Sifat sistem keuangan kita begini: uangnya berpindah dalam hitungan detik, tetapi penanganannya dimulai setelah seseorang cukup sadar untuk melapor.
Di celah itulah tanggung jawab bersama menjadi kata yang wajib, bukan kata yang sopan. Aparat penegak hukum berhadapan dengan sindikat lintas negara yang memakai kripto dan transfer berlapis. Media bertanggung jawab atas cara ia menceritakan korban.
Keluarga bertanggung jawab atas nada suara mereka ketika ada anggota keluarga yang datang dengan malu. Dan yang paling dekat dengan kita semua, ekosistem digital hari ini dirancang untuk membuat orang memutuskan cepat, karena cepat menguntungkan pihak yang menjual. Iklan punya hitungan detik, tawaran punya tenggat, dan setiap antarmuka dirancang menghapus jeda.
Penipuan bukan anomali dari ekonomi yang bergerak cepat. Ia anak kandung yang tidak kita akui.
Menyalahkan individu lebih mudah daripada menata ulang ekosistem. Tetapi yang pertama jelas tidak bekerja, dan yang kedua belum pernah serius dikerjakan.
Jeda
Baca Juga: Kabar Gembira, Bantuan Ponsel Gratis untuk KPM Bansos, Begini Kata Mensos
Saya ingin menutup dengan kembali ke ruang tengah itu, jam sembilan malam, seorang bapak dengan telepon di tangan.
Pertahanan terhadap hipnotis digital bukan aplikasi tambahan, bukan antivirus yang lebih mahal, dan bukan hafalan tips keamanan. Ia adalah satu kemungkinan kecil yang tetap terbuka sampai detik terakhir: bahwa orang itu bisa berkata, “Nanti saya hubungi balik.”
Tiga kata itu tidak membutuhkan pengetahuan teknologi. Tidak membutuhkan keberanian luar biasa. Tidak membuat siapa pun tampak kasar. Dan justru karena itu ia merupakan senjata yang paling tidak disukai penipu, karena ia mengembalikan satu-satunya hal yang mereka kerjakan keras untuk kita ambil: waktu antara mendengar dan memutuskan.
Di ruang itulah kita sebenarnya hidup. Bukan di dalam aplikasi, bukan di dalam rekening, tetapi di dalam jeda kecil yang memungkinkan kita berpikir sebelum bertindak. Setiap bentuk penipuan digital, dari janji untung besar sampai pesan cinta yang datang setiap pagi, adalah upaya terorganisir untuk menutup ruang itu.
Baca Juga: KPM Bogor Tarik Tunai Bansos PKH BPNT Rp1,7 Juta di KKS Bank Mandiri
Dan setiap kali kita berhasil membukanya kembali, untuk diri sendiri atau untuk orang tua kita di rumah, kita sedang melakukan perlawanan yang jauh lebih efektif daripada semua imbauan hati-hati yang pernah kita tulis bersama.
Penipu tidak selalu membobol rekening. Mereka membobol keputusan manusia. Selama kita mengira yang perlu dilindungi adalah rekening, mereka tidak akan pernah kekurangan pekerjaan. (*)
Oleh: Ibnu Muakhori
Dosen ITB Vinus Bogor