RADAR BOGOR - Ada orang yang tampil dengan mobil mewah, jam tangan bernilai ratusan juta rupiah.
Tapi, tak sedikit pula pengusaha yang memiliki aset besar justru terlihat sederhana, makan di warung biasa, dan jarang membicarakan kekayaannya.
Pemandangan tersebut kerap membuat orang bertanya-tanya yakni sebenarnya, seperti apa cara seseorang membangun kekayaan?
Kekayaan tidak selalu datang dari sumber yang sama.
Baca Juga: 5 Tanda Biasanya Perusahaan Bersiap PHK Karyawan
Ada yang mengandalkan warisan keluarga, merintis bisnis dari nol, meniti karier profesional dengan gaji tinggi, hingga mengembangkan aset melalui investasi.
Masing-masing memiliki peluang, tantangan, serta risiko yang berbeda.
Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto, melihat perjalanan membangun kekayaan dapat dipahami melalui 4 pola utama.
Perbedaan tersebut terlihat dari sumber pendapatan, kebiasaan mengelola uang, hingga cara seseorang menghadapi risiko finansial.
4 pola ini bukan klasifikasi resmi atau ukuran mutlak kesuksesan seseorang.
Namun, gambaran tersebut dapat membantu memahami bahwa menjadi kaya tidak harus mengikuti satu jalur tertentu.
Lantas, apa saja 4 tipe orang kaya yang kerap ditemui di Indonesia, dan mana yang paling realistis untuk ditiru?
1. Sultan Pamer, Kaya dari Warisan atau Popularitas
Tipe pertama adalah mereka yang identik dengan kehidupan mewah dan gemar memperlihatkan kemampuannya membeli barang mahal.
Media sosial menjadi tempat yang sering digunakan untuk menampilkan mobil premium, perjalanan ke luar negeri, hingga koleksi barang bermerek.
Di balik gaya hidup tersebut, sumber kekayaan bisa sangat beragam.
Sebagian berasal dari bisnis keluarga atau warisan, sementara lainnya memperoleh pendapatan dari pekerjaan di dunia hiburan, endorsement, dan usaha yang dibangun melalui popularitas.
Baca Juga: Cara Cek Bansos PKH BPNT Tahap 4 Tanpa Bolak-balik ke ATM
Bagi figur yang memiliki banyak pengikut, media sosial dapat menjadi aset ekonomi.
Perusahaan membayar mereka untuk mempromosikan produk, sedangkan konten yang menarik perhatian publik berpotensi menghasilkan pendapatan tambahan.
Namun, penampilan mewah tidak selalu mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya.
Barang mahal bisa dibeli dengan uang tunai, hasil usaha, maupun kredit.
Karena itu, jumlah pengikut dan kemewahan yang terlihat di internet bukan ukuran pasti kekayaan bersih seseorang.
Risiko terbesar dari gaya hidup yang berorientasi pada penampilan, tekanan untuk terus mempertahankan citra.
Jika pengeluaran meningkat lebih cepat daripada pendapatan, seseorang bisa terjebak dalam gaya hidup yang sulit dipertahankan.
Bagi masyarakat umum, meniru konsumsi mewah tanpa memahami sumber pendapatannya justru berisiko menimbulkan masalah keuangan.
2. Juragan Hemat, Membangun Kekayaan dari Bisnis
Berbeda dengan figur yang gemar memamerkan kemewahan, tipe kedua adalah pengusaha yang lebih fokus mengembangkan usaha.
Mereka bisa berasal dari berbagai bidang, mulai dari perdagangan, manufaktur, properti, hingga bisnis kuliner.
Sebagian pengusaha memilih tampil sederhana meskipun memiliki aset dan pendapatan yang besar.
Bagi mereka, uang lebih berguna ketika diputar kembali untuk mengembangkan usaha daripada dihabiskan demi mengikuti tren.
Baca Juga: Mercedes Benz E-Class W212 2012 Masih Terlihat Mewah, Mesin V6 Jadi Daya Tarik
Pola membangun kekayaan seperti ini umumnya membutuhkan waktu.
Usaha dirintis, pelanggan dikumpulkan, keuntungan diperoleh, lalu sebagian pendapatan digunakan untuk memperluas kapasitas bisnis.
Rizki Riyanto menyoroti, pentingnya disiplin dalam mengelola pendapatan dan membangun sumber kekayaan yang berkelanjutan.
Dalam konteks usaha, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui pengendalian biaya, pengelolaan arus kas, dan keputusan investasi yang mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang.
Meski demikian, bisnis bukan jalan yang selalu mulus. Pengusaha harus menghadapi persaingan, perubahan permintaan pasar, biaya operasional, hingga risiko kerugian.
Karena itu, karakter yang dibutuhkan bukan sekadar hemat, melainkan kemampuan membaca peluang, mengambil keputusan, dan bertahan menghadapi ketidakpastian.
Bagi orang yang ingin meniru pola ini, memulai usaha tidak harus langsung dengan modal besar.
Bisnis kecil yang dikelola secara konsisten dan memiliki pelanggan nyata dapat menjadi titik awal untuk membangun pengalaman.
3. Profesional Bergaji Tinggi, Kaya dari Keahlian
Tipe ketiga adalah profesional yang memperoleh penghasilan besar melalui keterampilan, pengalaman, dan posisi strategis di dunia kerja.
Mereka bisa berasal dari kalangan dokter spesialis, eksekutif perusahaan, pengacara, ahli teknologi informasi, atau pekerja lain dengan kompetensi yang sangat dibutuhkan industri.
Pendapatan mereka umumnya berasal dari gaji, bonus, tunjangan, serta berbagai fasilitas pekerjaan.
"Semakin tinggi tanggung jawab dan keahlian yang dimiliki, semakin besar pula peluang memperoleh kompensasi yang kompetitif," jelasnya kepada Radar Bogor, Minggu 18 Oktober 2026.
Jalur ini terlihat menarik karena menawarkan pendapatan yang relatif teratur.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik, gaji tinggi dapat digunakan untuk membangun tabungan, membeli aset, dan menyiapkan investasi jangka panjang.
Namun, penghasilan besar tidak otomatis membuat seseorang kaya.
Pengeluaran yang terus meningkat, cicilan konsumtif, dan gaya hidup mahal dapat menghabiskan sebagian besar pendapatan.
Tantangan lainnya adalah tekanan pekerjaan.
Target perusahaan, persaingan karier, dan jam kerja panjang dapat mengurangi waktu untuk keluarga maupun kegiatan pribadi.
Oleh karena itu, profesional yang ingin membangun kekayaan perlu memperhatikan dua hal sekaligus yaitu meningkatkan nilai keahlian dan mengelola pendapatan agar tidak seluruhnya habis untuk kebutuhan konsumsi.
4. Investor, Mengembangkan Kekayaan dari Aset
Tipe keempat, orang yang berusaha meningkatkan kekayaan melalui kepemilikan aset produktif.
Instrumen yang digunakan bisa berupa saham, obligasi, reksa dana, atau aset lain sesuai tujuan dan kemampuan finansial.
Berbeda dari pekerja yang memperoleh pendapatan terutama dari aktivitas harian, investor berharap aset yang dimiliki dapat memberikan hasil dalam jangka waktu tertentu.
Misalnya, saham dapat memberikan keuntungan melalui kenaikan harga dan dividen.
Obligasi berpotensi memberikan pendapatan berupa kupon, sedangkan reksa dana menawarkan pengelolaan investasi melalui manajer investasi.
Meski begitu, investasi bukan jalan pintas menuju kekayaan.
Nilai aset bisa naik dan turun, bahkan mengalami kerugian.
Keuntungan juga tidak selalu datang dalam waktu singkat.
Investor perlu memahami instrumen yang dipilih, memperhitungkan risiko, serta menyesuaikan keputusan dengan tujuan keuangan.
Menggunakan dana kebutuhan sehari-hari atau berutang untuk mengejar keuntungan investasi dapat meningkatkan risiko masalah keuangan.
Rizki Riyanto menekankan, membangun kekayaan perlu disesuaikan dengan kemampuan dan karakter masing-masing.
Dalam investasi, hal itu berarti memahami risiko yang sanggup ditanggung dan tidak sekadar mengikuti tren atau keputusan orang lain.
Mana Tipe Orang Kaya yang Paling Realistis untuk Ditiru?
Keempat pola tersebut, memiliki sumber pendapatan dan tantangan yang berbeda.
Tidak semua orang memiliki kesempatan menerima warisan, merintis perusahaan besar, atau memperoleh gaji tinggi sejak awal karier.
Namun, ada prinsip yang dapat diterapkan oleh siapa saja, yaitu mengelola pengeluaran, meningkatkan keterampilan, membangun sumber pendapatan, dan menyiapkan keuangan untuk jangka panjang.
Bagi pekerja, meningkatkan kompetensi dan menyisihkan sebagian penghasilan bisa menjadi langkah awal.
Bagi calon pengusaha, memahami kebutuhan pasar dan menguji usaha dalam skala kecil dapat membantu mengurangi risiko.
Sementara itu, investasi sebaiknya dilakukan setelah kebutuhan dasar dan kondisi keuangan diperhitungkan.
Memahami instrumen yang dipilih jauh lebih penting daripada mengejar keuntungan yang terlihat besar dalam waktu singkat.
Pada akhirnya, tidak ada satu tipe yang paling unggul untuk semua orang.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Laksa Pak Inin Cihideung Bogor Raih Penghargaan Warisan Budaya Takbenda
Kekayaan yang berkelanjutan bukan hanya soal seberapa besar uang yang dimiliki, tetapi juga bagaimana seseorang memperoleh, mengelola, dan menggunakan uang tersebut.
Sebab, keberhasilan finansial tidak harus dibuktikan melalui mobil mewah atau jabatan tinggi.
Bagi sebagian orang, kemampuan memenuhi kebutuhan, terbebas dari tekanan utang, dan memiliki waktu untuk menikmati hidup justru menjadi bentuk kekayaan yang paling berarti. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti