RADAR BOGOR - Bertahun-tahun duduk di bangku sekolah, mengerjakan tugas, dan mengejar nilai bagus ternyata tidak selalu membuat seseorang siap menghadapi persoalan keuangan.
Setelah mulai bekerja, banyak orang justru dihadapkan pada masalah yang terasa akrab yakni gaji cepat habis, tabungan sulit bertambah, dan cicilan terus membayangi setiap bulan.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting.
Baca Juga: Kepala BGN Sudaryono: MBG Harus Beriringan dengan Pendidikan Gizi
Mengapa seseorang bisa memiliki pendidikan tinggi dan pekerjaan yang baik, tetapi masih kesulitan mengatur uangnya sendiri?
"Salah satu jawabannya adalah literasi keuangan," jelas Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto kepada Radar Bogor, Senin 19 Oktober 2026.
Kemampuan mencari penghasilan memang penting, kata dia, tetapi memahami cara membelanjakan, menyimpan, dan mengembangkan uang juga menentukan kondisi finansial seseorang dalam jangka panjang.
Persoalan tersebut, relevan bagi masyarakat yang sedang menghadapi kenaikan biaya hidup, kebutuhan keluarga, dan tuntutan untuk mempersiapkan masa depan.
"Memiliki penghasilan saja belum tentu cukup, jika tidak disertai perencanaan keuangan yang baik," kata Rizki.
Lantas, apa saja pelajaran tentang uang yang perlu dipahami agar hasil kerja keras tidak habis begitu saja?
Inilah 7 hal mendasar yang layak dipelajari sejak dini.
1. Memahami Uang Tidak Cukup Hanya dengan Mencarinya
Banyak orang mengenal uang sejak kecil sebagai alat untuk membeli makanan, pakaian, dan berbagai kebutuhan.
Namun, memahami cara kerja uang sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar mengetahui nominal yang tertera pada lembaran rupiah.
Dalam ilmu ekonomi, uang memiliki tiga fungsi utama, yaitu sebagai alat tukar, satuan hitung, dan penyimpan nilai.
Uang mempermudah transaksi, membantu masyarakat membandingkan harga, serta memungkinkan daya beli dipindahkan ke masa mendatang.
Ada pula fungsi uang sebagai standar pembayaran yang ditangguhkan, misalnya dalam transaksi kredit dan pembayaran utang.
Memahami fungsi tersebut membantu seseorang melihat uang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, bukan sekadar sesuatu yang harus terus dikumpulkan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah daya beli.
Jumlah uang yang sama belum tentu dapat membeli barang dalam jumlah yang sama pada waktu berbeda.
Ketika harga barang dan jasa meningkat, kemampuan uang untuk membeli kebutuhan dapat menurun.
Karena itu, mengelola keuangan bukan hanya soal berapa banyak uang yang diterima setiap bulan, melainkan juga bagaimana menjaga agar penghasilan tersebut mampu memenuhi kebutuhan sekarang sekaligus mempersiapkan masa depan.
2. Mengandalkan Gaji Saja Bisa Membatasi Pilihan Finansial
Sejak memasuki dunia kerja, kebanyakan orang mengandalkan penghasilan aktif.
Uang diperoleh dengan menukar waktu, tenaga, keterampilan, atau keahlian dengan imbalan tertentu.
Penghasilan dari pekerjaan merupakan fondasi penting dalam kehidupan finansial.
Namun, jika seluruh kebutuhan bergantung pada satu sumber pendapatan, kondisi keuangan dapat menjadi rentan ketika seseorang kehilangan pekerjaan, mengalami penurunan penghasilan, atau tidak dapat bekerja untuk sementara waktu.
Karena itu, sebagian orang berupaya membangun sumber penghasilan tambahan melalui usaha, investasi, atau kepemilikan aset produktif.
Salah satu istilah yang sering muncul dalam pembahasan keuangan adalah pendapatan pasif.
Istilah ini merujuk pada penghasilan yang tidak selalu mengharuskan pemiliknya terlibat aktif setiap saat, misalnya pendapatan sewa properti atau royalti dari karya tertentu.
Meski demikian, pendapatan pasif bukan berarti uang datang tanpa usaha, modal, risiko, atau pengelolaan.
Properti tetap membutuhkan perawatan, sedangkan investasi saham tidak menjamin dividen atau keuntungan secara rutin.
Membangun sumber pendapatan tambahan juga tidak harus dimulai dengan modal besar.
Langkah awalnya dapat berupa meningkatkan keterampilan, mengembangkan pekerjaan sampingan, atau menyisihkan sebagian penghasilan untuk membangun aset sesuai kemampuan.
Tujuannya bukan sekadar memiliki banyak sumber pemasukan, melainkan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan dan memperluas pilihan finansial di masa depan.
3. Gaji Naik, tetapi Mengapa Uang Tetap Habis?
Kenaikan gaji sering dianggap sebagai tanda bahwa kondisi keuangan seseorang semakin baik. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
Ketika pendapatan meningkat, sebagian orang ikut menaikkan standar hidupnya.
Tempat tinggal menjadi lebih mahal, kendaraan berganti, frekuensi makan di luar bertambah, dan berbagai langganan baru mulai dianggap sebagai kebutuhan.
Fenomena ini, dikenal sebagai lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup.
Pengeluaran meningkat seiring bertambahnya pendapatan sehingga uang yang tersisa tidak banyak berubah.
Bayangkan, sambung dia, seseorang yang sebelumnya menerima gaji Rp5 juta per bulan.
Ia masih bisa menyisihkan uang, karena terbiasa tinggal di kos sederhana dan menggunakan transportasi yang terjangkau.
Beberapa tahun kemudian, gajinya naik menjadi Rp10 juta.
Namun, ia juga mengambil cicilan kendaraan, pindah ke tempat tinggal yang lebih mahal, dan menambah pengeluaran untuk hiburan.
Akibatnya, kenaikan penghasilan tidak otomatis membuat kondisi keuangannya lebih kuat.
Untuk menghindari jebakan ini, setiap kenaikan pendapatan sebaiknya diikuti evaluasi anggaran.
Baca Juga: Jelang Piala Asia 2027, AFC Gelar Rapat Darurat! Opsi Mundur ke 2028 Mencuat
Sebagian tambahan penghasilan dapat dialokasikan untuk dana darurat, pelunasan utang berbunga tinggi, dan investasi sesuai tujuan serta toleransi risiko.
Hal yang perlu diingat, pendapatan dan kekayaan bukanlah hal yang sama. Pendapatan menunjukkan uang yang diterima, sedangkan kondisi kekayaan perlu dilihat dari keseluruhan aset, kewajiban, dan kemampuan keuangan seseorang.
Gaji besar memang memberi peluang lebih luas, tetapi kebiasaan mengelola uang menentukan seberapa besar manfaat yang benar-benar bisa dirasakan.
4. Jangan Keliru Membedakan Aset dan Liabilitas
Dalam pembahasan literasi keuangan populer, konsep aset dan liabilitas sering dikaitkan dengan Robert Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad.
Kiyosaki dikenal mempopulerkan pendekatan sederhana untuk membedakan sesuatu yang menghasilkan arus kas dan sesuatu yang membebani keuangan.
Pendekatan ini dapat membantu masyarakat memahami pentingnya arus kas, meskipun bukan definisi akuntansi formal.
Dalam akuntansi, aset merupakan sumber daya yang dikuasai entitas.
Sedangkan, liabilitas adalah kewajiban yang harus dipenuhi.
Rumah yang ditempati sendiri tetap dapat dikategorikan sebagai aset, meskipun pemiliknya harus membayar cicilan, pajak, dan biaya perawatan.
Karena itu, tidak tepat jika semua rumah pribadi atau kendaraan langsung disebut bukan aset.
Penilaian kondisi finansial, perlu mempertimbangkan nilai kepemilikan, utang, biaya pemeliharaan, dan manfaat yang diperoleh.
Meski demikian, sudut pandang arus kas tetap berguna dalam mengambil keputusan.
Rumah yang disewakan, misalnya, dapat menghasilkan pemasukan.
Namun, keuntungan sebenarnya baru terlihat setelah memperhitungkan cicilan, pajak, perawatan, dan risiko properti tidak tersewa.
Hal serupa berlaku untuk saham.
Kepemilikan saham dapat memberikan potensi keuntungan dari kenaikan harga atau dividen, tetapi nilainya juga bisa turun dan dividen tidak selalu dibagikan.
Sebelum membeli barang mahal atau mengambil cicilan jangka panjang, penting untuk menilai apakah keputusan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.
"Jangan sampai sebuah barang terlihat meningkatkan status sosial, tetapi justru membuat anggaran bulanan semakin sempit," tegas Rizki kepada Radar Bogor.
5. Menabung Penting, tetapi Inflasi Perlu Diperhitungkan
Kebiasaan menabung, salah satu fondasi kesehatan keuangan.
Namun, masih banyak orang yang belum memperhitungkan pengaruh inflasi terhadap daya beli uang yang disimpan.
Inflasi, kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan.
Ketika inflasi terjadi, jumlah uang yang sama cenderung hanya mampu membeli lebih sedikit barang dibandingkan sebelumnya.
Sebagai ilustrasi, seseorang memiliki tabungan Rp10 juta dengan bunga 2 persen per tahun.
Jika diasumsikan bunga tersebut tetap dan belum memperhitungkan pajak, biaya, maupun efek lain, nilai tabungannya menjadi Rp10,2 juta setelah satu tahun.
Namun, jika inflasi pada periode yang sama mencapai 5 persen, daya beli tabungan tersebut justru menurun secara riil.
Contoh ini menunjukkan, pertumbuhan nominal uang tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan daya beli.
Meski demikian, bukan berarti menabung merupakan tindakan yang merugikan.
Tabungan tetap penting untuk kebutuhan jangka pendek, dana darurat, dan pengeluaran yang harus segera dibayar.
Untuk tujuan keuangan jangka panjang, seseorang dapat mempertimbangkan instrumen investasi yang sesuai dengan jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan toleransi risikonya.
Tidak ada instrumen yang selalu menguntungkan atau sepenuhnya bebas risiko.
Karena itu, memahami karakteristik produk keuangan menjadi langkah penting sebelum menempatkan uang.
Selain inflasi, kewajiban pajak juga perlu dipahami.
Wajib pajak sebaiknya mengetahui penghasilan yang dikenai pajak, ketentuan yang berlaku, serta biaya atau pengurang yang secara sah diperbolehkan.
Perencanaan pajak yang legal berbeda dari penghindaran kewajiban pajak secara melawan hukum.
6. Bunga Majemuk Bisa Membantu Investasi, tetapi Juga Memperbesar Utang
Salah satu konsep penting dalam keuangan adalah bunga majemuk.
Konsep ini memungkinkan hasil yang diperoleh sebelumnya ikut menghasilkan keuntungan pada periode berikutnya.
Efeknya sering digambarkan seperti bola salju.
Pada tahap awal, pertumbuhannya terlihat kecil.
Namun, jika berlangsung dalam waktu lama dan hasilnya terus diinvestasikan kembali, pertumbuhan dapat semakin besar.
Sebagai contoh, investasi awal sebesar Rp10 juta dengan asumsi imbal hasil 10 persen per tahun akan berkembang menjadi sekitar Rp25,9 juta setelah 10 tahun apabila seluruh hasil diinvestasikan kembali.
Angka tersebut merupakan simulasi matematis, bukan jaminan keuntungan investasi.
Imbal hasil nyata dapat berubah-ubah, bahkan negatif, serta dapat dipengaruhi pajak dan biaya.
Dari contoh itu, terlihat bahwa waktu dan konsistensi dapat berperan penting dalam perencanaan keuangan jangka panjang.
Namun, bunga majemuk juga dapat bekerja melawan peminjam.
Utang dengan bunga tinggi, terutama jika pembayaran minimum membuat pokok utang sulit berkurang, dapat berkembang menjadi beban yang semakin berat.
Karena itu, sebelum berinvestasi secara agresif, seseorang sebaiknya memahami kewajiban utangnya terlebih dahulu.
Selain bunga majemuk, konsep daya ungkit atau leverage juga perlu dipahami. Dalam bisnis, daya ungkit dapat berasal dari teknologi, sistem kerja, modal, atau tenaga tim yang membantu memperbesar hasil.
Sebagai contoh, sebuah usaha yang memiliki prosedur operasional jelas dapat tetap berjalan meskipun pemiliknya tidak mengawasi setiap kegiatan secara langsung.
Namun, penggunaan utang sebagai daya ungkit finansial juga meningkatkan risiko kerugian.
Semakin besar kewajiban yang harus dibayar, semakin besar pula tekanan ketika pendapatan tidak sesuai harapan.
7. Bangun Dana Darurat Sebelum Mengejar Keuntungan Besar
Keinginan memperoleh keuntungan besar terkadang membuat seseorang terburu-buru berinvestasi.
Padahal, fondasi keuangan yang sehat sebaiknya dibangun terlebih dahulu.
Salah satu fondasi terpenting adalah dana darurat, yakni simpanan yang disiapkan untuk menghadapi kejadian tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan medis, atau perbaikan mendesak.
Besarnya dana darurat bergantung pada kondisi setiap orang.
Sebagai panduan umum, individu dengan penghasilan relatif stabil dan tanggungan terbatas dapat mulai menargetkan dana setara tiga hingga enam bulan pengeluaran.
Mereka yang memiliki tanggungan keluarga, penghasilan tidak tetap, atau risiko pekerjaan lebih tinggi mungkin membutuhkan cadangan lebih besar.
Dana tersebut, sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang relatif mudah dicairkan dan memiliki risiko yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Investasi berisiko tinggi kurang cocok untuk menjadi tempat utama dana darurat, karena nilainya dapat turun ketika uang justru dibutuhkan.
Setelah cadangan keuangan terbentuk, seseorang dapat menyusun tujuan berikutnya, seperti melunasi utang berbunga tinggi, mempersiapkan pendidikan, mengumpulkan uang muka rumah, atau berinvestasi untuk masa pensiun.
Bagi yang ingin membangun usaha, langkah awal juga perlu dilakukan dengan perhitungan matang.
"Bisnis bukan sekadar menjual produk atau membuka toko, melainkan mengelola arus kas, memahami kebutuhan pelanggan, mengendalikan biaya, dan membangun proses kerja yang dapat dipertahankan," papar Rizki.
Sistem usaha yang baik dapat mengurangi ketergantungan pada pemilik.
Namun, tidak ada bisnis yang benar-benar bebas dari risiko atau dapat dipastikan menghasilkan uang tanpa pengawasan.
Kuncinya, sambung dia, membangun fondasi yang kuat sebelum mengambil risiko yang lebih besar.
Literasi Keuangan Perlu Dipelajari Sepanjang Hidup
Persoalan keuangan tidak selesai hanya dengan mendapatkan pekerjaan yang baik atau menaikkan pendapatan.
"Seseorang juga perlu memahami cara menyusun anggaran, mengendalikan pengeluaran, mengelola utang, membangun dana darurat, dan memilih investasi berdasarkan tujuan," jelas Rizki.
Pendidikan formal tetap memiliki peran penting.
Namun, pengetahuan praktis tentang uang juga perlu dikembangkan melalui pembelajaran mandiri, pengalaman, dan sumber informasi yang dapat dipercaya.
Tidak semua orang harus menjadi investor besar atau pengusaha, untuk mencapai kehidupan finansial yang lebih baik.
Bagi sebagian orang, kemampuan membayar kebutuhan tanpa berutang, memiliki cadangan ketika terjadi keadaan darurat, dan mempersiapkan masa pensiun sudah merupakan kemajuan yang berarti.
Langkah awalnya dapat sederhana yakni catat pengeluaran, evaluasi kebiasaan belanja, sisihkan uang secara konsisten, dan pahami produk keuangan sebelum menggunakannya.
Baca Juga: Cuma 125 Unit di Dunia, Royal Enfield Hypershift Classic 650 Masuk Indonesia
Pada akhirnya, tujuan literasi keuangan bukan sekadar membuat seseorang semakin kaya.
Lebih dari itu, kata Rizki, pengetahuan tersebut membantu setiap orang mengambil keputusan yang lebih rasional, menghadapi ketidakpastian, dan menggunakan uang untuk mendukung kehidupan yang ingin dibangun.
Sebab, bekerja keras tetap penting.
Namun, memahami cara mengelola hasil kerja keras itulah yang membantu seseorang menjaga manfaatnya untuk hari ini dan masa depan. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti