Sulit Fokus dan Mudah Lupa? Ini 5 Kebiasaan Modern yang Perlu Diwaspadai

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:25 WIB
Kebiasaan yang membuat sulit fokus dan mudah lupa.
Kebiasaan yang membuat sulit fokus dan mudah lupa.

RADAR BOGOR - Merasa sulit berkonsentrasi, gampang lupa, atau kehabisan ide saat bekerja dan belajar? 

Kondisi tersebut bisa dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kurang tidur, stres, hingga kebiasaan sehari-hari yang membuat perhatian terus terpecah.

Di tengah kehidupan digital yang serba cepat, menjaga fokus menjadi tantangan tersendiri. 

Notifikasi ponsel, kebiasaan menonton video pendek, hingga tuntutan untuk selalu produktif kerap membuat seseorang sulit meluangkan waktu untuk berpikir secara mendalam.

Baca Juga: Cek Bansos Tahap 3 dan Daftar Perlinsos Digital di SIKS-NG

Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto menyoroti, sejumlah kebiasaan modern yang perlu diperhatikan karena dapat mengganggu konsentrasi dan performa mental.

Ada 5 kebiasaan yang patut dievaluasi, yakni multitasking berlebihan, konsumsi konten digital tanpa kendali, kurang tidur, pola makan tidak seimbang, serta mengakses konten tak senonoh secara kompulsif.

1. Multitasking, sibuk belum tentu produktif

Membalas pesan sambil mengerjakan tugas, membuka banyak tab di komputer, atau sesekali memeriksa media sosial mungkin terasa seperti cara untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

Namun, ketika beberapa aktivitas membutuhkan konsentrasi tinggi, berpindah-pindah perhatian justru dapat membuat pekerjaan menjadi kurang efisien.

Otak harus menyesuaikan diri setiap kali seseorang beralih dari satu tugas ke tugas lainnya. 

Proses tersebut, membutuhkan waktu dan energi mental, terutama ketika pekerjaan yang dilakukan melibatkan pemikiran mendalam.

Akibatnya, seseorang bisa merasa sibuk sepanjang hari, tetapi hasil pekerjaannya tidak maksimal. 

Waktu yang dibutuhkan untuk kembali memahami tugas setelah terdistraksi juga dapat bertambah.

"Untuk mengatasinya, cobalah menyelesaikan satu pekerjaan penting dalam satu waktu," jelas Rizki kepada Radar Bogor, Selasa 20 Oktober 2026.

Baca Juga: Kenapa Saldo Bansos Cair Oktober 2026 Bukan Tahap 4? Ini Penjelasan Pendamping PKH

Matikan notifikasi yang tidak mendesak dan sisihkan waktu khusus untuk memeriksa pesan.

Metode Pomodoro, misalnya bekerja selama 25 menit kemudian beristirahat selama lima menit, dapat menjadi salah satu pilihan untuk membangun kebiasaan fokus. 

Durasi tersebut, bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

2. Terlalu sering menonton video pendek bisa mengganggu fokus

TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menawarkan hiburan yang mudah diakses. 

Namun, kebiasaan menggulir video tanpa batas waktu dapat mengambil porsi besar dari waktu istirahat, belajar, maupun bekerja.

Seseorang yang awalnya hanya berniat menonton beberapa video bisa menghabiskan waktu jauh lebih lama dari rencana. 

Pergantian konten yang cepat juga membuat perhatian terus berpindah dari satu hal ke hal lain.

Jika kebiasaan ini mengurangi waktu untuk membaca, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan, kemampuan mempertahankan perhatian pada aktivitas tersebut bisa terasa semakin menantang.

Meski demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh konten video pendek otomatis merusak otak. 

Dampaknya perlu dilihat dari durasi penggunaan, jenis konten, serta apakah kebiasaan tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Bansos yang Cair 20 Oktober 2026: PIP Termin 3, Bansos yang Aktif Lagi, dan KKS BSI Aceh

"Langkah sederhana yang bisa dilakukan, menetapkan batas waktu penggunaan media sosial," jelas Rizki. 

Mengganti sebagian waktu scrolling dengan membaca buku, mengikuti kursus, atau melakukan aktivitas tanpa layar juga dapat membantu membangun rutinitas yang lebih seimbang.

Memberi ruang untuk beristirahat tanpa terus menerima rangsangan digital menjadi bagian penting dalam menjaga perhatian.

3. Kurang tidur bukan tanda kerja keras

Budaya kerja yang mengagungkan begadang sering membuat tidur dianggap sebagai kegiatan yang bisa dikorbankan demi mengejar target.

Padahal, tidur memiliki peran penting dalam menjaga daya ingat, konsentrasi, pengambilan keputusan, dan kestabilan emosi. 

Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah terdistraksi serta kesulitan menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian.

Ketika tubuh kelelahan, pekerjaan yang biasanya terasa sederhana pun bisa membutuhkan waktu lebih lama. 

Karena itu, mengurangi waktu tidur belum tentu membuat seseorang lebih produktif.

Orang dewasa umumnya dianjurkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam, meskipun kebutuhan setiap individu dapat berbeda.

Membangun jadwal tidur yang konsisten, mengurangi penggunaan ponsel menjelang tidur, dan menyediakan waktu istirahat yang cukup merupakan langkah yang lebih baik dibandingkan memaksakan diri bekerja hingga larut malam.

Produktivitas tidak hanya ditentukan oleh berapa lama seseorang berada di depan layar, tetapi juga oleh kondisi tubuh dan pikirannya ketika bekerja.

4. Pola makan tidak seimbang dapat memengaruhi energi dan konsentrasi

Makanan yang dikonsumsi sehari-hari turut memengaruhi kesehatan tubuh, termasuk fungsi otak.

Kebiasaan mengandalkan makanan tinggi gula, makanan ultra-proses, serta kurang mengonsumsi sayur dan buah perlu dievaluasi apabila berlangsung terus-menerus.

Pola makan yang kurang seimbang dapat berkaitan dengan masalah kesehatan metabolik dan berpotensi memengaruhi fungsi kognitif dalam jangka panjang.

Sementara itu, rasa mengantuk setelah makan, sulit berkonsentrasi, atau tubuh terasa lemas tidak selalu disebabkan oleh makanan tertentu. 

Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi kurang tidur, ukuran porsi makan, aktivitas fisik, dan faktor kesehatan lainnya.

Untuk menjaga asupan tetap seimbang, masyarakat dapat mulai dengan langkah sederhana, seperti menambah sayuran dan buah, memilih sumber protein yang cukup, serta membatasi minuman dengan kandungan gula tinggi.

Minum air yang cukup dan menjaga jadwal makan juga dapat membantu mendukung kondisi tubuh selama beraktivitas.

Tidak perlu langsung mengubah seluruh pola makan secara drastis. 

Perubahan kecil yang konsisten lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

5. Akses konten tak senonoh kompulsif perlu mendapat perhatian

Kebiasaan mengakses konten tak senonoh juga menjadi salah satu aspek gaya hidup digital yang perlu dibahas secara hati-hati, terutama ketika penggunaannya terasa sulit dikendalikan.

Konten tak senonoh, tidak otomatis mengakibatkan penurunan kecerdasan atau kerusakan otak pada setiap orang. 

Namun, penggunaan yang kompulsif dapat menjadi masalah apabila mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, atau keseharian.

Seseorang mungkin merasa kesulitan menghentikan kebiasaan tersebut, meskipun sudah berulang kali mencoba. 

Penggunaan konten tak senonoh juga dapat menjadi cara untuk melarikan diri dari stres, kesepian, atau emosi yang tidak nyaman.

Dalam situasi seperti ini, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengenali pemicu kebiasaan, mengurangi akses yang memudahkan penggunaan berlebihan, dan mencari aktivitas alternatif yang lebih sehat.

Jika kebiasaan tersebut terus mengganggu kehidupan sehari-hari atau menimbulkan tekanan psikologis, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan.

Mulai dari satu perubahan kecil

Kelima kebiasaan tersebut, memiliki satu kesamaan yakni semuanya berkaitan dengan cara seseorang mengelola perhatian, waktu, dan kebutuhan tubuh di tengah kehidupan modern.

Namun, sulit fokus dan mudah lupa tidak selalu berarti seseorang mengalami kerusakan otak. 

Keluhan tersebut dapat dipengaruhi oleh stres, kecemasan, kurang tidur, masalah kesehatan, maupun berbagai faktor lain.

Karena itu, penting untuk tidak langsung menyalahkan satu kebiasaan atau menganggap semua orang mengalami dampak yang sama.

"Masyarakat dapat mulai mengevaluasi rutinitas harian, dan memilih satu perubahan yang paling memungkinkan untuk dilakukan," papar Rizki. 

Baca Juga: Warga Bogor Catat, 10 Dokumen Kependudukan Ini Bisa Diurus Secara Online

Misalnya, mengurangi notifikasi, membatasi waktu menonton video pendek, atau memperbaiki jadwal tidur.

Jika gangguan konsentrasi dan daya ingat berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mencari penyebabnya.

Menjaga kesehatan otak bukan sekadar menghindari kebiasaan buruk, melainkan membangun pola hidup yang mendukung kemampuan berpikir, belajar, dan menjalani aktivitas dengan lebih baik. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor ITB Vinus kebiasaan otak