7 'Predator' yang Bisa Membuat Orang Baik Jadi Korban

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:15 WIB
ILUSTRASI: Waspada terhadap orang yang berperilaku manipulatif.
ILUSTRASI: Waspada terhadap orang yang berperilaku manipulatif.

RADAR BOGOR - Di lingkungan kerja, bisnis, hingga kehidupan sosial, ada situasi ketika kejujuran, rasa sungkan, dan keinginan untuk membantu justru dimanfaatkan oleh pihak lain demi kepentingannya sendiri.

Ada 7 pola perilaku manipulatif atau yang disebut sebagai 'predator'. 

Istilah tersebut, digunakan untuk menggambarkan strategi seseorang dalam memengaruhi orang lain, memanfaatkan hubungan, hingga mempertahankan keuntungan pribadi.

Baca Juga: 6 Rute Transjakarta Berubah, Cek Halte yang Terdampak

Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto mengungkapkan, pentingnya mengenali pola manipulasi agar seseorang tidak mudah menjadi sasaran eksploitasi.

1. Kecerdasan emosional bisa digunakan untuk memengaruhi orang lain

Kecerdasan emosional atau emotional intelligence (EQ) selama ini kerap dikaitkan dengan empati, kemampuan berkomunikasi, dan membangun hubungan yang sehat.

Namun, kemampuan membaca emosi orang lain juga dapat disalahgunakan. 

Seseorang bisa mempelajari ketakutan, ambisi, atau kebutuhan emosional orang lain untuk memengaruhi keputusan mereka.

Dalam lingkungan kerja, misalnya, pujian berlebihan dapat membuat karyawan merasa sangat dihargai. 

Perasaan tersebut, kemudian dimanfaatkan untuk meminta pekerjaan tambahan tanpa kompensasi yang sepadan.

Sebaliknya, ancaman kehilangan pekerjaan atau pengingat bahwa banyak orang sedang mencari posisi serupa dapat digunakan untuk menekan karyawan agar tidak berani menyampaikan keberatan.

Karena itu, keramahan tidak selalu berarti ketulusan. 

"Penting untuk melihat apakah sikap baik tersebut, diikuti dengan penghormatan terhadap batas dan hak orang lain," ucap Rizki kepada Radar Bogor, Selasa 20 Oktober 2026.

2. Hubungan sosial dipandang berdasarkan keuntungan

Pola kedua, berkaitan dengan cara seseorang menilai hubungan berdasarkan manfaat yang bisa diperoleh.

Dalam pola pikir yang sangat transaksional, orang lain berpotensi diperlakukan sebagai sumber uang, akses, status, atau koneksi. 

Hubungan dipertahankan, selama dianggap menguntungkan dan ditinggalkan ketika manfaatnya tidak lagi terlihat.

Baca Juga: Kabar Bansos 20 Oktober 2026: Dua Bantuan Dikabarkan Cair Minggu Ini

"Salah satu bentuk yang perlu diwaspadai, pemberian bantuan yang kemudian digunakan untuk menciptakan tekanan emosional," ungkap Rizki.

Bantuan yang semula tampak tulus dapat berubah menjadi alat untuk menuntut balasan, kata dia, bahkan ketika penerima tidak pernah menyepakati kewajiban tersebut.

Meski demikian, tidak semua hubungan yang mempertimbangkan kepentingan merupakan bentuk manipulasi. 

Kerja sama bisnis dan hubungan profesional memang memiliki unsur timbal balik. 

Masalah muncul, ketika keuntungan pribadi dicapai dengan mengabaikan hak atau merugikan pihak lain.

3. Aturan diperlakukan sebagai celah, bukan batas

Pola ketiga, kecenderungan mencari celah aturan demi keuntungan pribadi.

Alih-alih mematuhi ketentuan, kadang seseorang berusaha menemukan cara untuk menghindari kewajiban atau memperoleh perlakuan khusus. 

Praktik seperti ini, dapat terlihat dalam penyalahgunaan koneksi, pelanggaran prosedur, hingga upaya menghindari tanggung jawab.

Namun, penting membedakan antara pemanfaatan mekanisme hukum yang sah dan tindakan yang melanggar hukum. 

4. Memanfaatkan uang dan tenaga orang lain

Pola keempat, menyoroti penggunaan sumber daya milik pihak lain untuk membangun keuntungan.

Dalam dunia usaha, pemilik bisnis dapat memanfaatkan modal investor, pinjaman bank, dan tenaga karyawan untuk mengembangkan perusahaan. 

Mekanisme tersebut, merupakan bagian dari kegiatan ekonomi yang sah selama dilakukan secara transparan dan memenuhi kewajiban.

Persoalan muncul ketika ketergantungan terhadap modal atau tenaga orang lain digunakan untuk memindahkan risiko secara tidak adil.

Contohnya, karyawan diminta bekerja di luar jam kerja tanpa pembayaran yang semestinya. 

Sementara itu, dalam hubungan pembiayaan, pihak yang meminjam dana dapat menghadapi risiko besar jika perjanjian tidak dipahami dengan baik.

Karena itu, masyarakat perlu memahami kontrak, hak pekerja, kewajiban pembayaran, dan risiko finansial sebelum menyepakati suatu kerja sama.

5. Menciptakan ketakutan untuk menjual solusi

Pola kelima, menciptakan atau memperbesar masalah, kemudian menawarkan produk sebagai jalan keluar.

Strategi ini dapat memanfaatkan rasa takut, ketidakamanan, atau fenomena fear of missing out (FOMO), yakni kekhawatiran tertinggal dari tren atau kesempatan tertentu.

"Contohnya, promosi yang terus menampilkan hitung mundur, klaim stok hampir habis, atau pesan bahwa harga akan segera naik," tuturnya.

Teknik tersebut, dapat membuat konsumen mengambil keputusan secara terburu-buru.

Di pasar, kelangkaan barang juga dapat menjadi persoalan serius apabila terjadi penimbunan atau praktik yang menghambat distribusi. 

Namun, kelangkaan tidak selalu berarti sengaja diciptakan. 

Gangguan produksi, distribusi, dan perubahan permintaan juga dapat memengaruhi ketersediaan barang.

Konsumen sebaiknya memeriksa informasi, membandingkan harga, dan tidak langsung percaya pada klaim promosi yang belum terbukti.

6. Mempertahankan citra dengan kekuatan uang

Pola keenam, berkaitan dengan cara menghadapi kesalahan atau tuduhan.

Dalam situasi yang sehat, pihak yang melakukan kesalahan seharusnya bersedia mengevaluasi tindakan, memperbaiki dampak, dan bertanggung jawab. 

Namun, pola manipulatif dapat muncul ketika seseorang lebih sibuk mempertahankan citra daripada menyelesaikan persoalan.

Sumber daya finansial dapat digunakan untuk menghadirkan pengacara, konsultan, atau tenaga komunikasi profesional. 

Penggunaan jasa tersebut pada dasarnya sah dan tidak otomatis menunjukkan adanya manipulasi.

Masalah terjadi ketika kekuatan finansial digunakan untuk mengintimidasi pihak yang lebih lemah, menyebarkan informasi menyesatkan, atau menghambat proses pencarian keadilan.

Bagi masyarakat, dokumentasi yang baik, penyimpanan bukti, dan pemahaman terhadap jalur pengaduan menjadi langkah penting ketika menghadapi sengketa.

7. Mengorbankan keuntungan jangka pendek demi dominasi pasar

Pola terakhir, membahas strategi bisnis yang berorientasi pada penguasaan pasar.

Perusahaan dengan modal besar dapat menawarkan harga sangat rendah untuk menarik konsumen. 

Strategi ini terkadang memberikan manfaat bagi masyarakat melalui harga yang lebih murah dan persaingan yang semakin ketat.

Namun, apabila harga rendah digunakan secara sistematis untuk menyingkirkan pesaing, lalu harga dinaikkan setelah pasar dikuasai, dampaknya dapat merugikan konsumen dalam jangka panjang.

Situasi tersebut perlu dinilai berdasarkan bukti, termasuk struktur biaya, perilaku harga, posisi pasar, serta dampaknya terhadap pesaing dan konsumen. Harga murah saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya praktik persaingan tidak sehat.

Kebaikan tetap penting, tetapi perlu disertai kewaspadaan

Nah, 7 pola tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada menjadi orang baik, melainkan pada ketidaksiapan menghadapi situasi ketika orang lain memanfaatkan kepercayaan.

Kejujuran, empati, dan sikap saling membantu tetap menjadi nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. 

Baca Juga: ‎27.311 Rumah di Kabupaten Bogor Tidak Layak Huni, Perbaikan Ditarget Selesai Akhir Tahun

Akan tetapi, nilai-nilai tersebut perlu berjalan bersama kemampuan berpikir kritis dan memahami hak diri sendiri.

Seseorang dapat bersikap ramah tanpa harus selalu menyetujui permintaan orang lain. 

Ia juga dapat membantu tanpa menerima kewajiban yang tidak masuk akal, serta bersikap profesional tanpa membiarkan dirinya dieksploitasi.

Pada akhirnya, mengenali manipulasi bukan berarti harus membalas dengan tindakan serupa. 

Justru, kemampuan membedakan kerja sama yang sehat dari eksploitasi menjadi bekal agar seseorang dapat mengambil keputusan secara lebih mandiri. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
Predator bogor ITB Vinus