RADAR BOGOR – Seni Memahami Kekasih alias SMK akhirnya resmi rilis pada 5 September lalu.
Film produksi IDN Pictures itu mengisahkan cerita yang terinspirasi hubungan cinta yang manis dan sederhana Kalis Mardiasih dan Agus Mulyadi, pasangan penulis.
Berawal dari kumpulan tulisan Agus bertajuk Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih, buku itu dialihwahanakan dengan lebih komplet dan melibatkan sudut pandang Kalis di dalamnya.
Berikut cerita di balik penggarapan SMK, sebagaimana dituturkan Agus dan Kalis dalam kunjungannya ke redaksi Jawa Pos Surabaya pada Kamis (5/9).(fam/c6/len)
Selamat atas penayangan filmnya? Bagaimana perasaan Kalis dan Agus setelah SMK akhirnya rilis?
Agus (A): Tentu saja kepikiran, ya. Sebab, film awalnya adalah buku kumpulan catatan narsis saya selama pacaran.
Berkali-kali saat ditanya perasaan saya tentang film ini, (jawabannya) saya senang sekali.
Ini film memang tentang orang miskin, tapi bujetnya cukup besar.
Kami butuh balik modal, kawan-kawan, sehingga bisa bikin film yang lebih baik.
Kalis (K): Lewat film ini, kami bermaksud menemani teman-teman semua yang sedang memperjuangkan cintanya, yang sudah atau belum bertemu pasangan, yang sedang ragu dalam hubungan.
Semoga bisa memberi kekuatan, ya.
Dari konferensi pers, paracastdan tim produksi sempat cerita, produksi film ini sudah selesai sekitar dua tahun lalu. Apa yang membuat butuh waktu lama untuk rilis? Apakah ada kendala syuting?
A: Tidak ada, lebih ke urusan teknis, seperti menentukan judul. Juga mencari tanggal, pasti ada tawar-menawar, dan pertimbangan dengan pihak bioskop.
Kami sempat akan rilis 10 Agustus, tapi urung karena jadwalnya sudah padet, bareng dengan Deadpool & Wolverine juga.
Saya rasa timing rilis saat ini bagus karena bareng dengan ramainya film-film Indonesia yang mengangkat komedi.
Cerita SMK berdasar buku dan cerita hidup Agus dan Kalis. Kalian terlibat langsungkah dalam penulisan naskah atau casting?
A: Kami memercayakan cerita dan casting kepada tim IDN Pictures.
Setelah deal, saya dan Kalis diwawancarai Bagus Bramanti untuk kepentingan cerita.
Dia cukup teliti saat menuliskan konflik dan drama untuk cerita ini.
Di film ini, kalian juga kali pertama berakting.
Gimana pengalaman akting pertama kalian? Apakah ada kesulitan?
K: Ya, kesulitan. Karena sebelumnya belum pernah mencoba di seni peran.
A: Saya merasa enggak kesulitan. Saya memang penulis, tapi beberapa kali sempat diajak bikin film dan beberapa kali main film.
Kebetulan, saya main diseries-nya TVRI Jogjakarta. Jadi, disuruh akting agak bisa.
Di sini, saya dan Kalis sebagai cameo aja.
Saya sebagai penjual di toko perabot, Kalis sebagai pelanggan.
Peran kami sebenarnya sangat penting, ya Kalis ya?
K: Kami ada di satu-duascene, tapi jadi agak penting karena itu membuat kami jadi punya kesempatan terlibat di lokasi syuting.
Di lokasi itulah, saya bisa ngobrol banyak sama Febby (Rastanty, pemeran Kalis) dan Agus ngobrol dengan Elang (El Gibran, pemeran Agus).
SMK ditulis dan disutradarai oleh laki-laki, padahal mengangkat banyak problem terkait perempuan.
Bagaimana Mbak Kalis memastikan isu itu direpresentasikan dengan tepat?
K: Saya bersyukur, Bagus dan Jeihan (Angga, sutradara) sangat mau mendengarkan masukan dan kekhawatiran saya.
Mereka paham gimana menampilkan isu hubungan Rahayu (sahabat Kalis, diperankan Sisca Saras) dengan jelas, tapi tidak eksplisit. Di film ini, karakter cowoknya green flag. Termasuk Akmal (suami Rahayu, diperankan Rezca Syam) yang ada lah perubahannya di sepanjang film ini. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim