RADAR BOGOR - Anime adaptasi dari novel ringan atau webtoon semakin banyak diproduksi, termasuk anime Skill Abnormal (Hazurewaku no "Joutai Ijou Skill" de Saikyou ni Natta Ore ga Subete wo Juurin suru made).
Namun, sayangnya, anime Skill Abnormal ini mendapat kritik dari para penonton karena kualitas animasinya, terutama terkait perpaduan elemen 2D dan 3D yang dianggap kurang menyatu.
Kritikan ini pun menjadi perhatian utama penggemar, yang merasa bahwa perpaduan teknik animasi yang berbeda malah membuat tayangan anime Skill Abnormal ini menjadi kurang nyaman ditonton.
1. Ekspektasi Tinggi dan Kekecewaan Penggemar
Anime ini sebenarnya cukup dinantikan oleh para penggemar yang telah mengikuti cerita Skill Abnormal dari novel atau manga-nya.
Banyak yang berharap adaptasi anime-nya akan memberikan visual yang memukau serta aksi yang mendebarkan, mengingat cerita ini memiliki banyak elemen fantasi dan adegan pertempuran yang menuntut animasi yang dinamis.
Namun, ekspektasi tinggi tersebut tidak sepenuhnya terpenuhi.
Saat tayang perdana, beberapa penonton langsung merasakan adanya ketidaksesuaian antara animasi 2D dan 3D yang terlihat cukup mencolok.
Skill Abnormal menggabungkan 2D untuk karakter utama dan elemen 3D untuk latar belakang atau beberapa monster serta efek, yang sayangnya terlihat kurang halus.
Akibatnya, adegan-adegan aksi yang seharusnya terlihat seru dan intens justru terasa kaku dan kurang realistis.
2. Kelemahan pada Pencampuran Teknik Animasi 2D dan 3D
Teknik animasi 2D dan 3D pada dasarnya memang cukup berbeda dalam hal detail, pergerakan, dan pencahayaan.
Saat dua teknik ini digabungkan, diperlukan ketelitian tinggi agar keduanya dapat menyatu tanpa mengurangi kualitas visual.
Dalam anime Skill Abnormal, perpaduan ini terlihat tidak konsisten, karakter 2D yang memiliki garis tegas dan warna yang solid tampak kontras dengan elemen 3D yang kadang terlihat lebih halus atau bahkan kurang detail.
Diketahui, anime Skill Abnormal ini sudah tayang sejak 5 Juli - 27 September 2024 dengan 12 episode.***
Penulis: Ai Wasilah/Magang-IUQI
Editor : Halimatu Sadiah