RADAR BOGOR - Sutradara terkenal Mamoru Hosoda, yang dikenal melalui karya-karya seperti Toki wo Kakeru Shoujo (The Girl Who Leapt Through Time) dan Ryuu to Sobakasu no Hime (Belle), mengumumkan film anime terbarunya, Hateshinaki Scarlet (Scarlet).
Film Hateshinaki Scarlet dijadwalkan untuk rilis pada musim dingin 2025, menjadi debut musim dingin pertama Hosoda setelah karya-karya musim panasnya yang menjadi ciri khas dalam portofolionya.
Dalam Hateshinaki Scarlet, Hosoda mengeksplorasi tema kehidupan dan kematian yang sangat mendalam.
Meskipun plot pasti masih dirahasiakan, Hosoda menggambarkan proyek ini sebagai "sebuah karya hiburan dengan aksi, romansa, dan petualangan, yang bertujuan untuk menginspirasi penonton agar terus maju di dunia yang penuh ketidakpastian".
Terinspirasi oleh karya klasik dunia, film ini memperkenalkan Scarlet, seorang putri yang teguh menghadapi dunia yang keras dan dilanda perang dalam pencarian harapan tanpa batas.
Pendekatan visual dalam film ini juga berbeda dari karya-karya Hosoda sebelumnya.
Sutradara ini ingin menciptakan tampilan yang melampaui anime 2D tradisional dan animasi CGI Hollywood, menciptakan gaya yang inovatif dan memperluas batasan animasi.
Hateshinaki Scarlet akan didistribusikan secara global, dengan TOHO menangani rilis di Jepang dan Sony Pictures mengurus distribusi internasional.
Menariknya, Sony Pictures juga ikut mendanai film ini, menandakan model kolaborasi baru untuk anime Jepang di skala global.
Produser Yuuichirou Saitou dari Studio Chizu berharap film ini dapat "memperluas peluang sinema Jepang di pasar global," serupa dengan kolaborasi Studio Ghibli dengan Disney di masa lalu.
Visual teaser super yang diperkenalkan di konferensi pers memberi gambaran tentang karakter Scarlet. Seorang putri yang membawa pedang, pakaian compangnya, dan tatapan tajamnya mencerminkan ketahanannya di dunia yang penuh kesulitan.
Hosoda juga memberi petunjuk tentang karakter kunci kedua, yang kemungkinan berasal dari era yang berbeda, menunjukkan bahwa film ini akan mengeksplorasi hubungan melalui dinamika "buddy" atau "road movie".
Judul Hateshinaki Scarlet mencerminkan tema waktu dan ruang yang tak terbatas, dengan Hosoda terinspirasi oleh sastra klasik dan fiksi ilmiah, seperti novel Komatsu Sakyou yang diterbitkan pada 1966, Hateshinaki Nagare no Hate ni (At the End of the Endless Stream).
Hosoda menekankan komitmennya untuk mendorong batasan animasi, baik secara tematik maupun visual.
"Ini akan menjadi salah satu tema paling menantang yang pernah saya hadapi, menyentuh emosi universal yang dapat dirasakan oleh penonton di seluruh dunia," ujarnya.
Meskipun dengan ambisi besar, Hosoda mengakui bahwa menyelesaikan proyek Hateshinaki Scarlet tepat waktu tetap menjadi tantangan besar.
Hateshinaki Scarlet menjanjikan menjadi karya penting dalam karier Hosoda, menggabungkan teknik animasi canggih, narasi yang menarik, dan aspirasi global.***
Editor : Halimatu Sadiah