Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sinopsis dan Curhatan Para Pemain Film Pengepungan di Bukit Duri yang Bakal Tayang 17 April 2025

Eli Kustiyawati • Senin, 14 April 2025 | 08:31 WIB
Film thriller Pengepungan di Bukit Duri
Film thriller Pengepungan di Bukit Duri

RADAR BOGOR - Film thriller Pengepungan di Bukit Duri garapan Joko Anwar ini bukan cuma soal aksi menegangkan dan suasana mencekam.

Di balik layar, film Pengepungan di Bukit Duri justru jadi ruang refleksi buat para pemainnya.

Mereka mengaku banyak belajar dan ikut terbawa suasana emosional dari cerita Pengepungan di Bukit Duri yang mereka bawakan.

Film ini dijadwalkan rilis tanggal 17 April 2025, dan berkisah tentang Edwin (diperankan Morgan Oey), yang menyamar jadi guru di SMA Duri demi mencari keponakannya yang hilang.

Tapi bukan tugas gampang, karena murid-murid di sana terkenal brutal.

Ketika akhirnya Edwin menemukan keponakannya, kota justru dilanda kerusuhan besar, dan mereka terjebak di sekolah yang penuh bahaya.

Morgan Oey: “Kekerasan itu nyata dan terus diwariskan”

Morgan, yang memerankan karakter utama Edwin, bilang kalau film ini sangat relate dengan isu kekerasan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Ia merasa kisah di film ini masih sangat dekat dengan kenyataan sekarang, terutama buat para remaja.

“Dari zaman saya sekolah sampai sekarang, budaya kekerasan masih ada. Kita bisa lihat sendiri di media sosial, efek dari trauma masa lalu itu masih terasa banget,” ujar Morgan setelah pemutaran film di Jakarta.

Menurutnya, karakter Edwin mencerminkan keresahan yang nyata: kekerasan di kalangan remaja yang susah diberantas karena akar masalahnya sangat kompleks.

Omara N. Esteghlal: “Kita sering jadi budak sistem”

Omara, yang memerankan Jefri, juga punya unek-unek. Ia menyoroti gimana masyarakat sering kali menyalahkan keadaan, tapi ogah mengakui bahwa mereka juga bagian dari sistem yang rusak.

“Kita diajarkan untuk hormat sama sistem yang sebenarnya udah nggak layak dihormati. Budaya feodal masih kental banget. Mau berekspresi aja susah karena sistem itu membatasi kita,” curhatnya.

Hana Malasan: “Guru sering dijadikan kambing hitam”

Hana yang berperan sebagai Guru Diana, merasa sangat terhubung dengan perannya.

Datang dari keluarga akademisi, Hana mengaku sejak lama sudah resah sama kondisi dunia pendidikan di Indonesia.

“Sering banget guru yang disalahin saat sistem pendidikan gagal. Padahal mereka juga korban. Mereka ingin bantu, ingin memperbaiki, tapi sistemnya sendiri yang menghalangi,” ujar Hana.

Menurut Hana, film ini bisa jadi ajang refleksi sekaligus bahan diskusi tentang gimana seharusnya pendidikan dijalankan.

Dengan durasi 1 jam 58 menit, Pengepungan di Bukit Duri menawarkan lebih dari sekadar drama thriller.

Film Pengepungan di Bukit Duri membuka ruang obrolan tentang luka sosial, sistem rusak, dan perjuangan mereka yang masih punya harapan di tengah kekacauan.***

Editor : Eli Kustiyawati
#film #Thriller #joko anwar #Pengepungan di Bukit Duri