RADAR BOGOR - Penyanyi legendaris Korea Selatan, Cho Yong-pil, kembali menorehkan sejarah melalui film dokumenter “Cho Yong-pil, This Moment Forever – Record of That Day” yang tayang di KBS2 pada 8 Oktober.
Film dokumenter tersebut mencatat rating pemirsa nasional mencapai 7,3% dengan puncak 9,1% menurut Nielsen Korea—mendominasi slot tayangnya dan melanjutkan kesuksesan program sebelumnya yang mencapai 18,2%.
Pencapaian ini menegaskan kembali status Cho Yong-pil sebagai 'Raja Penyanyi Topeng' yang tak tergantikan.
Program ini bukan sekadar fim dokumentasi konser, melainkan catatan emosional perjalanan hidup dan karier seorang legenda musik yang telah menyatukan bangsa lewat lagu-lagunya selama puluhan tahun.
Film dokumenter ini menyoroti keseharian Cho Yong-pil yang kini berusia 75 tahun dalam mempersiapkan konser “This Moment Forever” di Gocheok Sky Dome—konser yang menjadi simbol semangatnya menghidupkan kembali gairah musik Korea.
Di balik panggung megah, dokumenter ini menampilkan kisah-kisah personal dari para penggemar dan rekan-rekan musisi yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
“Memories of That Day” bukan hanya tentang seorang penyanyi besar, tetapi juga tentang orang-orang yang tumbuh bersama musiknya.
Dari penggemar yang menemukan penghiburan dan keberanian lewat lagu-lagunya, hingga band “The Great Birth” yang telah menemaninya selama 32 tahun, dokumenter ini menjadi jembatan emosional antar generasi.
Kembalinya Cho Yong-pil ke konser tunggal yang disiarkan publik, 28 tahun setelah “Big Show” tahun 1997, menjadi momen nostalgia lintas usia.
Lagu-lagu legendaris seperti “Short Hair,” “Mona Lisa,” dan “Come Back to Busan Port” kembali menggema, menyatukan suara keluarga yang bernyanyi bersama di rumah dan penonton lansia yang melambaikan tongkat penyemangat di arena konser.
Melalui lagu “That’s Okay” dan “Where Your Footsteps Stop” dari album ke-20-nya, ia menenangkan hati para pendengarnya dengan pesan sederhana namun hangat.
Bagi banyak orang, pertunjukan ini bukan sekadar konser, melainkan “panggung nasional” di mana seluruh rakyat Korea bernyanyi bersama.
Para penyanyi muda pun tak ketinggalan memberikan penghormatan. Lee Seung-chul menyebut, “Cho Yong-pil adalah genre tersendiri”.
Insooni memujinya sebagai “sebuah tantangan dan inovasi,” sementara IU menegaskan, “Dia adalah sosok unik yang dicintai oleh semua generasi.”
Kisah di balik layar turut menampilkan dedikasi luar biasa dari ratusan staf KBS yang bekerja keras demi menyempurnakan setiap detail konser—mulai dari tata cahaya, suara, hingga desain subtitle agar pengalaman menonton terasa seperti ikut bernyanyi bersama di rumah.
Kolaborasi Cho Yong-pil dengan Orkestra Simfoni KBS pun menciptakan perpaduan antara musik pop dan klasik yang menggugah.
“Pada Chuseok ini, musik Cho Yong-pil memenuhi Korea. Ini bukan sekadar kenangan, tetapi momen penuh emosi saat ini,” ujar tim produksi KBS.
Film dokumenter ini menjadi pengingat bahwa musik bukan hanya hiburan, melainkan bagian dari perjalanan emosional sebuah bangsa—dan Cho Yong-pil, dengan suara dan hatinya, kembali membuktikan bahwa sejarah bisa dinyanyikan. (Yunma/SV IPB)
Editor : Yosep Awaludin