RADAR BOGOR - Film Avatar: Fire and Ash mendapatkan skor terendah dari kritikus dalam sejarah franchise Avatar di Rotten Tomatoes.
Meskipun film ketiga Avatar ini mendapat sambutan hangat dari penonton, kritikus menganggapnya kurang memuaskan daripada dua film sebelumnya.
Sebagaimana dilaporkan oleh Screen Rant pada Sabtu 20 Desember 2025, berikut lima alasan utama mengapa Avatar: Fire and Ash menerima penilaian kritikus terendah.
Pengembalian Konflik dalam Film Sebelumnya
Kritikus menganggap Fire and Ash mengulang konflik utama dari dua film sebelumnya terlalu banyak.
Tidak dianggap bahwa pola konflik antara keluarga Sully dan pihak manusia membawa dinamika baru.
Metode serupa digunakan untuk menangani masalah kolonialisme dan perebutan wilayah. Ini membuat cerita film kurang segar.
Karakter Baru Dianggap Kurang Kuat
Sepertinya suku Na'vi yang agresif yang dipimpin Varang tidak memiliki pengaruh emosional yang signifikan. Kritikus berpendapat bahwa karakter antagonistik ini kurang matang.
Latar belakang dan motivasinya tidak sekuat karakter dalam film sebelumnya. Akibatnya, ketegangan yang paling tinggi hilang dari konflik utama.
Cerita dengan fokus yang melebar dan tidak terarah
Avatar: Fire and Ash memiliki banyak subplot yang dianggap mengganggu jalan cerita utama. Sepertinya perjalanan emosional anak-anak Jake Sully tidak teratur.
Beberapa adegan dianggap terlalu panjang tetapi tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk plot. Akibatnya, ritme film terasa tidak teratur.
Bergantung Terlalu Banyak pada Visual Spektakuler
Meskipun film ini mendapat pujian dari segi visual, kritikus mengatakan bahwa film ini terlalu bergantung pada keindahan Pandora dan bahwa elemen cerita tidak seimbang dengan kualitas teknisnya.
Efek visual dianggap menutupi kelemahan naskah dan pengembangan cerita. Akibatnya, film terasa lebih seperti tontonan visual daripada pengalaman naratif yang kuat.
Tidak inovatif dibandingkan film sebelumnya
Avatar : Fire and Ash, film ketiga, tidak membawa perubahan yang signifikan. Kritikus mengharapkan metode baru untuk penceritaan dan tema.
Film ini, bagaimanapun, dianggap bermain aman dan mengikuti pendekatan lama, yang membuatnya dianggap sebagai bagian paling buruk dari seri Avatar. (**)
Editor : Yosep Awaludin