RADAR BOGOR – Tidak semua panggilan harus dijawab. Dalam The Bell : Panggilan Untuk Mati, satu panggilan justru jadi awal dari teror yang sulit dihentikan.
Film The Bell : Panggilan Untuk Mati ini mengangkat ide dari mitos lama yang dipercaya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya seperti tersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk kembali.
Dari situlah kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan, semuanya berawal dari satu hal yang terlihat sederhana.
Baca Juga: Hapus Nama Grup dari Bio Instagram, Nasib Manon di KATSEYE Jadi Tanda Tanya Besar Penggemar
Ketegangannya tidak langsung terasa besar di awal. Cerita dibangun pelan, tapi pasti, sampai akhirnya situasinya berubah jadi semakin mengancam.
Penonton diajak mengikuti bagaimana sesuatu yang awalnya biasa saja bisa berkembang jadi masalah yang serius.
Yang bikin menarik, cerita seperti ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal kecil yang sering dianggap sepele justru jadi sumber ketakutan.
Dari situ, rasa penasaran terus dibangun tanpa harus terburu-buru memperlihatkan semuanya.
Berdasarkan informasi melalui Instagram @thebell.film, film ini juga terinspirasi dari legenda lokal tentang sosok menyeramkan yang dikenal sebagai Penebok.
Sosok ini dipercaya sebagai arwah yang membawa ancaman dan kerap dikaitkan dengan kejadian kematian misterius.
Baca Juga: Perankan Pahlawan Asal Makassar Emmy Saelan, Beby Tsabina Siap Kembali ke Layar Lebar
Dalam kisahnya, ada pula benda keramat berupa lonceng yang diyakini mampu menahan kekuatan jahat tersebut.
Namun saat perlindungan itu melemah, teror pun kembali muncul dan mulai memakan korban.
Film ini disutradarai oleh Jay Sukmo dan diproduksi oleh Multi Buana Kreasindo bersama Sinemata. Kursi produser diisi oleh Rendy Gunawan dan Aris Muda.
Sejumlah nama ikut terlibat sebagai pemain, di antaranya Mathias Muchus, Bhisma Mulia, Safira Ratu Sofya, Givina Lukita, Shalom Razade, Septian Dwi Cahyo, hingga Nadya Alma.
The Bell: Panggilan Untuk Mati dijadwalkan tayang di bioskop pada 07 Mei 2026, dan jadi salah satu film horor yang layak ditunggu. (Dian/Vokasi IPB)
Editor : Yosep Awaludin