Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ini Alasannya Kamu Wajib Nonton Film Ghost in the Cell: Eksperimen Berani Joko Anwar yang Brutal, Satire dan Menghibur

Maulidia • Sabtu, 18 April 2026 | 13:58 WIB
Film Ghost in the Cell
Film Ghost in the Cell

 


RADAR BOGOR - Film terbaru garapan Joko Anwar, Ghost in the Cell, menjadi salah satu rilisan paling menarik dari perfilman Indonesia tahun ini.

Setelah sebelumnya sukses dengan berbagai karya yang kuat secara atmosfer dan cerita, Joko Anwar kembali menghadirkan pendekatan berbeda lewat film yang memadukan horor, komedi, hingga kritik sosial dalam satu paket yang cukup “liar”.

Secara premis, film Ghost in The Cell mengambil latar di sebuah lembaga pemasyarakatan yang penuh kekerasan dan konflik. Kehidupan para narapidana digambarkan keras, brutal, dan jauh dari kata manusiawi.

Baca Juga: KPM Wajib Tahu! Inilah Daftar '12 PAS' Kelompok Prioritas Bansos 2026, Cek Selengkapnya di Sini

Situasi mulai berubah ketika seorang tahanan baru, mantan jurnalis dengan masa lalu kelam masuk dan memicu serangkaian kejadian tak masuk akal.

Kematian demi kematian terjadi secara misterius, menghadirkan nuansa horor yang tidak sekadar menakut-nakuti, tetapi juga membangun rasa tidak nyaman yang konsisten.

Yang menarik, Joko Anwar tidak menjadikan jumpscare sebagai senjata utama. Sebaliknya, ia bermain di wilayah atmosfer, tekanan psikologis, dan visual yang intens.

Elemen gore dihadirkan cukup berani, namun tetap terasa memiliki fungsi dalam cerita, bukan sekadar sensasi.

Baca Juga: Kulineran Sambil Ngopi di Tengah Hamparan Sawah, Rumasa Hillside Bogor Hadirkan Nuansa Ala Rumah Nenek Mirip di Ubud

Fakta Menarik Film Ghost in the Cell

Di sisi lain, film Ghost in the Cell justru terasa unik karena berani menyelipkan komedi di tengah kengerian.

Humor yang muncul cenderung satir kadang absurd, kadang menohok dan berhasil mencairkan ketegangan tanpa merusak suasana. Perpaduan ini mungkin tidak akan cocok untuk semua penonton, tetapi justru menjadi identitas kuat film ini.

Dari segi akting, performa para pemain menjadi salah satu kekuatan utama. Abimana Aryasatya tampil menonjol sebagai pusat emosi cerita, menjaga narasi tetap terarah di tengah banyaknya karakter dan konflik.

Baca Juga: Hidden Gem Unik Nyempil di Gang, Spot Hangout Keren Ada Pemandangan Air Terjun di Uncle Jo X Bar Warung Jambu Bogor

Chemistry antar pemain juga terasa solid, membuat dunia dalam film ini hidup meski dipenuhi kekacauan.

Secara visual, “Ghost in the Cell” tampil dengan kualitas sinematik yang matang. Tata artistik, tone warna, serta pengambilan gambar terasa digarap serius dan konsisten, bahkan memberi nuansa yang mendekati standar film internasional.

Hal ini sejalan dengan pencapaiannya yang telah diputar di Berlin International Film Festival dan rencana distribusi globalnya.

Namun, di balik segala kelebihannya, film ini tidak sepenuhnya rapi. Struktur cerita yang padat terkadang berubah menjadi chaos yang sedikit sulit diikuti.

Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Sistem, BRI Jadi Pelopor Sertifikasi ISO/IEC 25000 di Indonesia

Meski demikian, justru di situlah letak keberaniannya, Joko Anwar tampak sengaja membiarkan kekacauan itu menjadi bagian dari pengalaman menonton.

Lebih dari sekadar horor, film Ghost in the Cell jadi sarat dengan kritik sosial. Isu kekuasaan, sistem yang rusak, hingga realitas kehidupan yang timpang disampaikan lewat dialog-dialog tajam dan situasi yang terasa dekat dengan kehidupan nyata.

Pada akhirnya, “Ghost in the Cell” adalah film yang berani, tidak konvensional, dan penuh eksperimen. Ia mungkin tidak sempurna, tetapi berhasil menawarkan pengalaman menonton yang berbeda, menghibur sekaligus menggugah.***

Editor : Maulidia
#film #joko anwar #Ghost In The Cell