RADAR BOGOR - Kekerasan dalam suatu hubungan asmara menimbulkan rasa trauma terhadap korban. Tidak hanya kekerasan dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk verbal, psikologis, hingga kekerasan ekonomi.
Hal ini dibahas dalam Talkshow Psikologi dan Diskusi Publik bertema Memahami Trauma dan Kekerasan Dalam Relasi di Kampus B ITB Vinus Bogor, Cibungbulang.
Acara ini menghadirkan cast film Suamiku Lukaku, Putri Ayudya dan sejumlah narasumber lainnya.
Dr. Richard, salah satu narasumber dari dokter psikologi mengatakan, bahwa ada tiga hal agar dalam suatu hubungan tidak terjadi kekerasan di antara satu sama lain, di antaranya ketertarikan, intimasi, dan komitmen.
Baca Juga: Arus Lalin Arah Suryakencana Kota Bogor Ditutup, Warga Mulai Ramai Saksikan Kirab Mahkota Binokasih
"Kalau tidak ada ketertarikan itu bukan cinta, karena nantinya salah satunya akan melemahkan yang lain, yang kedua adalah intimasi atau keakraban, seperti sahabat, kalau misal salah satu yang menyakiti, berarti itu bukan cinta," ujarnya.
Sementara komitmen, kata dia, merupakan hal paling penting dalam suatu hubungan. Bagaimana kedua belah pihak memiliki rasa cinta yang sejati sehingga diresmikan dalam suatu komitmen seperti pernikahan.
"Kalau misalnya ada kekerasan, ketidaknyamanan salah satu pihak, ada seseorang yang dilukai terus menerus, itu berarti bukan cinta, itu dari sudut pandang psikologi," jelas Richard.
Baca Juga: Cair hingga Rp1 Juta, Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 Masuk Rekening, Cek Saldo KKS Secara Berkala
Sementara itu, Putri Ayudya yang juga memerankan film Suamiku Lukaku menuturkan, bahwa kekerasan dalam relasi seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atau pun kekerasan dalam pacaran (KDP) menjadi topik yang penting untuk dibicarakan.
Sebab, korban sering memendam apa yang dialaminya karena merasa malu dan tidak punya kekuatan untuk menceritakannya ke orang lain.
"Padahal kalau kita merasa ada kekerasan dalam hidup kita, dan kita menyerah, kita tidak membantu diri sendiri, orang lain dan lingkungan kita," katanya.
Menurut data di Indonesia, kata Putri, perempuan menjadi yang paling banyak dilaporkan menjadi korban KDRT. Namun, kasus KDRT yang mana korbannya merupakan laki-laki juga terjadi.
"Dengan adanya budaya patriarki di Indonesia, sering kali laki-laki merasa malu untuk cerita, atau merasa bahwa saya bisa menghadapi ini sendirian. Di luar itu padahal perempuan juga sering merasa ini merupakan pilihan, karena merasa masih sayang, sehingga tidak ingin melapor karena masih sayang dan menganggap pasangannya baik atau hanya khilaf," paparnya.
Selain itu, Putri juga menyebut bahwa ada beberapa bentuk kekerasan dalam relasi baik secara fisik, verbal, psikologis, dan juga ekonomi.
Dalam kesempatan itu, Putri Ayudya mengajak agar korban kekerasan dalam suatu hubungan untuk tidak menyerah dan berani membicarakannya dengan orang terdekat.
"Banyak yang menyerah karena merasa tidak punya harapan, maka semuanya harus kembali ke fitrahnya, semua manusia merupakan makhluk sosial, jadi dalam situasi seperti ini, ceritalah, ke orang terdekat anda, agar menyadari bahwa kita tidak sendirian," tandasnya.
Sementara itu film Suamiku Lukaku mengisahkan tentang Amina, yang diperankan Acha Septriasa, seorang ibu yang hidup dalam tekanan dan penderitaan setelah menikah dengan Irfan, karakter yang dimainkan Baim Wong. Di mata banyak orang, Irfan tampak sebagai sosok pria baik dan penuh perhatian, tetapi di balik pintu rumah, ia justru menjadi pribadi yang menakutkan.(cok)
Editor : Eka Rahmawati