RADAR BOGOR – Jagat hiburan digital belakangan ini dihebohkan oleh film original terbaru Netflix bergenre horor-thriler, The Last House.
Meski berhasil bertengger di peringkat pertama daftar Top 10 Movies di Netflix, Film The Last House ini justru memicu gelombang kritik pedasdari para penikmat film.
Di platform ulasan film popular, IMDb, The Last House harus menelan pil pahit dengan skor rating yang tergolong rendah, yakni 5,6 dari 10.
Fenomena high-viewership, low-rating ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan deretan ulasan penonton di media sosial, kekecewaan audience berakar pada beberapa poin utama pada filmnya.
Banyak penonton mengaku dibuat pusing saat mencoba memahami ke mana sebenarnya alur cerita akan dibawa. Narasi yang dibangun sejak awal terasa melompat-lompat tanpa arah yang jelas.
Baca Juga: Kabar Bansos Tahap 3 Hari Ini: Status di SIKS-NG Mayoritas SI, Cek Saldo KKS Segera
Bukannya menghadirkan teka-teki yang seru untuk dipecahkan, eksekusi naskahnya justru terkesan berantakan dan membuat penonton kehilangan focus di pertengahan film.
Diiklankan sebagai film horror, The Last House justru gagal menyajikan atmosfer mencekam yang dijanjikan.
Minimnya unsur ketegangan, jump scare yang cenderung membosankan, serta pembangunan nuansa misteri yang tawar membuat pecinta genre horror merasa terpedaya.
Penonton yang mengharapkan bulu kuduk berdiri harus gigit jari karena elemen horornya terasa sangat tanggung.
Faktor pendukung yang tak kalah penting seperti keterikatan (chemistry) antar pemeran utama juga dinilai sangat kurang.
Hubungan antarkarakter terasa kaku dan canggung, sehingga emosimaupun dinamika konflik yang dibangun gagal tersampaikan dengan baik ke layar kaca.
Akibatnya, penonton kesulitan untuk berempati atau merasa terhubung dengan nasib para tokohnya.
Baca Juga: Mahasiswa Soroti Kondisi Jalan di Jawa Barat, Begini Jawaban Dedi Mulyadi
Fenomena melejitnya The Last House ke posisi puncak membuktkan bahwa rasa penasaran public dan dorongan hype di media sosial masih menjadi magnet terbesar untuk menarik jumlah penonton.
Namun, perolehan rating ini juga menjadi pengingat bahwa kepuasan penonton tetap bergantung pada kualitas naskah dan eksekusi cerita yang matang. (Rana/Tazkia)
Editor : Yosep Awaludin