Film Laut Bercerita Bawa Kisah Biru Laut ke Layar Lebar, Angkat Tragedi Era 1990-an

Rani Puspitasari Sinaga • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 20:29 WIB
Konferensi Pers Film Laut Bercerita. Foto: Instagram
Konferensi Pers Film Laut Bercerita. Foto: Instagram

RADAR BOGOR — Kisah tentang kehilangan, perjuangan, dan pencarian keadilan hadir di layar lebar melalui film Laut Bercerita.

Diadaptasi dari novel populer karya Leila S. Chudori, film Laut Bercerita ini mengangkat kembali cerita tentang para aktivis mahasiswa yang menjadi korban penghilangan paksa pada era Orde Baru.

Film Laut Bercerita mengikuti perjalanan Biru Laut, seorang mahasiswa sastra yang terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintahan otoriter bersama sejumlah kawan seperjuangannya.

Baca Juga: Tes Fisik Poltekpin 2026 Sudah di Depan Mata? Simak Apa yang Harus Disiapkan Peserta dari Sekarang

Aktivitas mereka membuat kehidupan Laut dan kelompoknya berada dalam ancaman. Mereka harus menghadapi pengawasan, penangkapan secara rahasia hingga kekerasan selama masa penahanan.

Cerita kemudian membawa penonton melihat perjuangan tersebut dari dua sudut pandang yang saling melengkapi.

Kisah Biru Laut dan Perjuangan Asmara Jati

Bagian pertama berfokus pada Biru Laut dan hari-hari terakhirnya sebagai buronan politik.

Penonton diajak mengikuti kehidupan Laut bersama teman-temannya di tempat persembunyian, sebelum situasi berubah menjadi semakin mencekam ketika mereka ditangkap dan ditahan secara rahasia.

Baca Juga: Siswa Giri Taruna 2 Bogor Dibekali AI, Bukan Sekadar Bisa Pakai

Sementara bagian lainnya mengambil sudut pandang Asmara Jati, adik Laut.

Setelah sang kakak menghilang, Asmara berusaha mencari kepastian mengenai keberadaannya. Bersama keluarga korban lainnya, ia terus memperjuangkan kejelasan nasib orang-orang yang hilang.

Perjuangan tersebut salah satunya dilakukan melalui aksi berdiri diam di depan Istana Negara.

Atmosfer Era 1990-an Dihidupkan di Layar

Salah satu daya tarik film ini terletak pada upayanya menghadirkan kembali atmosfer Indonesia pada era 1990-an.

Baca Juga: Kementerian Imipas Telusuri Temuan Foto Diduga Jimmy Masrin di Lapas Cibinong Bogor

Tata artistik, kostum, hingga lanskap visual dirancang untuk mendukung suasana cerita sekaligus membawa penonton masuk ke periode yang menjadi latar peristiwa.

Penampilan para pemeran juga menjadi bagian penting dalam menyampaikan sisi emosional cerita, terutama mengenai penderitaan para korban dan dampak kehilangan yang dirasakan keluarga.

Salah satu adegan yang menjadi simbol kuat dalam cerita adalah tradisi makan malam keluarga pada hari Minggu.

Sebuah piring tetap disiapkan untuk Laut meski dirinya tidak lagi berada di rumah. Piring kosong tersebut menjadi gambaran sederhana tentang kerinduan sekaligus penantian keluarga terhadap anggota keluarga yang hilang.

Baca Juga: Cuma Modal Telur dan Saus Bolognese, Resep ala Chef Devina Ini Bikin Menu Rumahan Naik Kelas

Bukan Sekadar Film, tetapi Pengingat Sejarah

Melalui kisah Biru Laut dan keluarganya, Laut Bercerita tidak hanya menawarkan drama untuk penonton bioskop.

Film ini juga membawa isu sejarah dan hak asasi manusia yang penting untuk kembali dibicarakan, terutama oleh generasi muda.

Kisah penghilangan paksa yang menjadi latar cerita mengingatkan penonton pada pengalaman keluarga korban yang selama bertahun-tahun masih mencari kepastian dan keadilan.

Baca Juga: 18 Hektar Tanah di Kampung Adat Urug Sukajaya Bogor Kini Punya Legalitas

Kehadiran film ini di layar lebar diharapkan dapat menjadi ruang untuk merawat ingatan terhadap berbagai peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia sekaligus mendorong generasi muda untuk memahami pentingnya hak asasi manusia.

Dengan menggabungkan drama keluarga, persahabatan, perjuangan aktivis, dan sejarah, Laut Bercerita membawa kisah kehilangan Biru Laut menjadi pengalaman sinematik yang sekaligus mengajak penonton untuk tidak melupakan masa lalu. (Hendi/Boash)

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
film tragedi layar lebar laut bercerita