JAKARTA-RADAR BOGOR, Korea Utara dan Korea Selatan memiliki hubungan yang tidak baik, bahkan Kim Jong Un mengancam jika melewati perbatasan sedikit akan terjadi perang, seperti yang dikatakan di dalam sidang Majelis Rakyat Tertinggi atau Supreme People’s Assembly (SPA).
Baca Juga: Kim Jong Un Akui Gagal Perbaiki Ekonomi Korea Utara
Dalam sidang SPA, Kim Jong Un ungkap Korea Selatan musuh utamanya dan mengatakan jika lewati perbatasan sedikit saja berarti perang.
Selain itu pimpinan tertinggi Korea Utara tersebut juga memerintahkan penghancuran jalur kereta api dan monumen antar-Korea sekaligus memperingatkan risiko perang dengan Korea Selatan.
Tidak sampai disitu, Kim juga memerintahkan menutup semua kemungkinan untuk pembicaraan perdamaian serta kerjasama dalam bentuk apapun.
Dengan tegas Kim mengatakan jika Republik Korea menginvasi wilayah darat, wilayah udara, atau perairan teritorial kami bahkan hanya 0,001 mm, itu akan dianggap sebagai provokasi perang.
Kim juga mengatakan jika bahwa Korea Selatan musuh utamanya konstitusi harus diamandemen untuk menentukan secara spesifik di mana DPRK dapat menjalankan kedaulatannya.
“Dokumen tersebut harus mencerminkan bagaimana Korea Utara akan sepenuhnya menduduki, menundukkan dan memulihkan wilayah Korea Selatan dan memasukkannya ke dalam wilayah Korea Utara,” tegas Kim.
Baca Juga: Korea Utara Kecam AS, Kebijakan Joe Biden Disebut Picu Permusuhan
Dalam memuluskan rencananya, Kim kembali memerintahkan untuk memproduksi lebih banyak senjata nuklir sebagai persiapan dan kembali mengatakan jika Korea Utara tidak akan pernah secara sepihak memulai perang tanpa alasan.
Menanggapi pernyataan Kim, Hong Min yang merupakan peneliti senior di Institut Korea mengatakan jika pernyataan tersebut merupakan hal paling inovatif yang pernah diproklamirkan Kim Jong Un sejak berkuasa.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sang-sin Lee selaku seorang ilmuwan politik di KINU bahwa kondisi garis perbatasan selatan sangat memprihatinkan.
“Ini artinya mereka bermaksud memperlakukan masalah NLL sebagai sengketa wilayah di masa depan,” terangnya.
Meskipun menginginkan perang, dalam pidatonya, Kim juga menjelaskan jika pihaknya tidak mau sebagai pemicu.
Sedangkan Yoon Suk-yeol selaku Presiden Korea Selatan melemparkan kritiknya atas pernyataan Kim.
Yoon mengatakan jika langkah Korea Utara yang mendefinisikan negaranya sebagai negara yang bermusuhan merupakan upaya untuk menunjukan anti-nasional dan ahistoris.
Sejauh ini Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat telah meningkatkan latihan militer gabungan yang dikatakan sebagai latihan invasi di masa depan sebagai respons terhadap uji coba senjata tersebut.
Robert Carlin yang merupakan mantan pejabat Departemen Luar Negeri dan Siegfried Hecker yang merupakan ilmuwan nuklir meyakini bahwa Korea Utara memang menginginkan perang.
“Dengan kata lain, kami tidak melihat tema persiapan perang di media Korea Utara yang muncul sejak awal tahun lalu sebagai gertakan khas dari Republik Demokratik Rakyat Korea,” jelasnya seperti dilansir oleh aljazeera. (NET/Firda-PKL)
Editor: Yosep
Editor : Administrator