Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Delegasi Indonesia Advokasi Pengurangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Perempuan di Sidang CSW ke-68 di New York

Omer Ritonga • Jumat, 10 Mei 2024 | 07:48 WIB
Foto bersama seluruh Delegasi Indonesia pada acara Commission on the Status of Women (CSW) ke-68 pada 11-22 Maret 2024, di New York, Amerika Serikat (AS).
Foto bersama seluruh Delegasi Indonesia pada acara Commission on the Status of Women (CSW) ke-68 pada 11-22 Maret 2024, di New York, Amerika Serikat (AS).

RADAR BOGOR - Pada sidang Komite Status Perempuan (CSW) ke-68, yang berlangsung dari 11 Maret hingga 22 Maret 2024 di New York, Amerika Serikat, delegasi Indonesia mendorong penerapan kesetaraan pemberdayaan perempuan dan pengurangan kemiskinan.

Dian Siswarini, Presiden Direktur & CEO PT. XL Axiata Tbk dan Co-Chair W20 Indonesia 2022, menghadiri Sidang CSW ke-68 mewakili perempuan Indonesia bersama dengan Kementerian PPPA RI dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Dian menyampaikan artikel berjudul The Role of Women in Entrepreneurship, yang pada dasarnya membahas bagaimana mendorong pemberdayaan perempuan melalui kewirausahaan untuk menekan angka kemiskinan.

Untuk memberi perempuan yang berwirausaha, termasuk pemilik usaha kecil dan menengah (UMKM), akses ke supply chain, pendidikan, dan konsultasi adalah solusinya. Dengan demikian, mereka akan memiliki lebih banyak uang untuk memperluas usahanya.

Menurut Dian, diharapkan bahwa pemberdayaan perempuan melalui program kewirausahaan akan dapat membantu mengurangi jumlah wanita Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Selain itu, dia menyampaikan kepada penonton dari berbagai negara tentang pencapaian program Sisternet untuk mendukung wanita pendiri melalui kelas, diskusi intensif dengan komunitas pemilik usaha, dan berbagai fasilitas tambahan untuk mendukung UMKM perempuan dalam kaitannya dengan inklusi keuangan.

Lebih dari 3.000 UMKM, 1.000 kelas, dan lebih dari 500.000 perempuan Indonesia telah merasakan manfaat dari program Sisternet dan #Jadilebihbaik.

Lenny N. Rosalin, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), mewakili Menteri PPPA, menyampaikan pernyataan pemerintah Indonesia yang menunjukkan keprihatinan nasional terhadap masalah pengentasan kemiskinan.

Isu kemiskinan berdampak negatif terhadap seluruh masyarakat, baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak, tetapi perempuan dan anak perempuan lebih rentan.

Oleh karena itu, delegasi Indonesia terus memperjuangkan pengentasan kemiskinan untuk membebaskan diri mereka dari kemiskinan dan konsekuensi-konsekuensi yang menyertainya.

Karena Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan, Lenny mengatakan bahwa, salah satu upaya Indonesia untuk mengakhiri kemiskinan, terutama bagi perempuan dan anak perempuan, adalah membuat perencanaan anggaran yang berperspektif gender.

Selain itu, Lenny menyatakan bahwa mereka telah merevitalisasi kebijakan pengarusutamaan gender pada tahun 2021 dengan membuat rencana nasional baru yang bertujuan untuk meningkatkan sistem kelembagaan.

Dengan kata lain, mengembangkan Rencana Aksi Kesetaraan Gender; mengintegrasikan perspektif gender ke dalam kebijakan sektoral dan strategis; mengembangkan instrumen; meningkatkan sumber daya manusia; dan memperkuat lingkungan strategis.

Lenny menyatakan bahwa, pemerintah Indonesia telah memasukkan perspektif gender yang komprehensif dalam strategi tersebut.

Tidak hanya dalam proses perencanaan dan penganggaran, tetapi juga dalam pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, audit, dan pelaporan pertanggungjawaban.

CSW sendiri merupakan pertemuan tahunan terbesar Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.

Tema tahun ini adalah "Meningkatkan Pencapaian Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Perempuan dengan Mengatasi Kemiskinan serta Memperkuat Lembaga dan Pendanaan dengan Perspektif Gender."

Indonesia diundang untuk mempresentasikan Best Practice, diwakili oleh Kemen PPPA, W20 Indonesia, Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), dan profesional perempuan yang ahli di bidang mereka.

Menurut Giwo Rubianto Wiyogo, Ketua Umum Kowani, kehadiran Indonesia dalam forum PBB adalah unik karena PBB memberikan kepercayaan untuk berbagi pengalaman dengan dunia. Kowani, bagian dari badan global ECOSOC, mewakili Indonesia dalam hal ini.

Ia mengucapkan terima kasih kepada Kementerian PPPA karena telah memberinya kesempatan untuk bekerja sama dengan Kowani dalam penyelenggaraan acara sampingan.

"Dan Ibu Dian Siswarini, Presiden Direktur & CEO PT XL Axiata yang bersedia memenuhi undangan untuk hadir sebagai narasumber, serta secara konsisten bersinergi mendukung kemajuan perempuan Indonesia melalui program Sisternet," ungkapnya.

Forum CSW68 dihadiri oleh lebih dari seratus delegasi dari negara-negara anggota PBB dari seluruh. (mer)

Editor : Yosep Awaludin
#xl axiata #sidang #perempuan