RADAR BOGOR, Presiden Iran, Ebrahim Raisi meninggal dunia setelah sebuah helikopter yang ditumpanginya bersama Menteri Luar Negeri dan pejabat lainnya jatuh pada Minggu (19/5/2024).
Helikopter nahas yang diniki Presiden Iran Ebrahim Raisi Bersama rombonan terjatuh di daerah pegunungan. Lokasi jatuhnya helicopter ini masih dalam wilayah negara Iran akibat cuaca buruk.
Presiden Iran meninggal di tempat dalam usia 63 tahun bersama rombongannya. Tercatat ada Sembilan orang dalam helicopter bersama Ebrahim Raisi.
Dalam perjalanan kariernya, Ebrahim Raisi merupakan seorang tokoh yang mewakili faksi konservatif dan garis keras dalam politik Iran.
Ebrahim Raisi menjabat sebagai presiden selama hampir tiga tahun, dan tampaknya akan mencalonkan diri kembali pada pemilu tahun depan.
Ketokohan Raisi sendiri sebagai Presiden Iran mulai terlihat sejak masih menjabat hakim agung. Raisi juga disebut-sebut sebagai calon penerus Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang kini sudah berusia 85 tahun.
Dia kemudian datang ke Teheran pada tahun 1985. Di Ibu Kota Iran itulah, Raisi menjadi bagian dari komite hakim yang mengawasi eksekusi tahanan politik.
Mendiang Presiden Iran itu sudah lama menjadi anggota Majelis Ahli, sebuah badan yang bertugas memilih pengganti pemimpin tertinggi jika dia meninggal dunia.
Ebrahim Raisi menjadi jaksa agung pada tahun 2014. Dia menjabat selama dua tahun, ketika ditunjuk Khamenei untuk memimpin Haram Suci Razavi.
Bonyad kolosal, atau lembaga amal, memiliki aset miliaran dolar dan merupakan penjaga tempat suci Imam Reza, imam Syiah kedelapan.
Presiden Iran Ebrahim Raisi awalnya mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2017, namun gagal menantang terpilihnya kembali mantan Presiden Hassan Rouhani, yang mewakili kubu sentris dan moderat.
Setelah jeda singkat, Ebrahim Raisi menjadi berita utama sebagai kepala sistem peradilan Iran yang baru ditunjuk langsung Khamenei pada tahun 2019.
Raisi menampilkan dirinya sebagai pembela keadilan dan pejuang melawan korupsi, dan melakukan banyak perjalanan ke provinsi-provinsi untuk mendapatkan dukungan rakyat Iran.
Kemudian, Ebrahim Raisi menjadi presiden pada tahun 2021 di tengah rendahnya jumlah pemilih dan diskualifikasi luas terhadap kandidat reformis dan moderat.
Raisi tampaknya telah mendapatkan pijakan yang kuat untuk dipilih kembali.
Seperti para pejabat tinggi Iran lainnya, retorika paling kerasnya ditujukan Ebrahim Raisi adalah kepada Israel dan Amerika Serikat, yang diikuti sekutu-sekutu Barat mereka.
Ebrahim Raisi menyampaikan banyak pidato sejak dimulainya perang di Gaza pada bulan Oktober 2023.
Raisi bahkan mengutuk “genosida” dan “pembantaian” yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.
Raisi juga meminta masyarakat internasional untuk campur tangan. Hingga saat ini, masih belum diketahui apakah jatuhnya helikopter yang ditumpangi Presiden Iran Ebrahim Raisi ada hubungannya dengan perangnya melawan Israel dan sekutunya atau tidak. (**)
Editor : Alpin.