RADAR BOGOR—Salwan Momika, seorang imigran Irak yang memicu protes Muslim global setelah membakar Al-Quran di Stockholm pada tahun 2023, tewas ditembak.
Sebagaimana dilaporkan oleh The New York Times pada Kamis (30/1/2025), polisi Swedia menemukan korban luka tembak dan kemudian mengkonfirmasi bahwa dia adalah Salwan Momika.
Polisi Swedia menyatakan bahwa tubuh Salwan Momika ditemukan di Södertälje, tidak jauh dari Stockholm. Sepertinya ia ditembak saat melakukan siaran langsung di media sosial TikTok.
Polisi mengumumkan dalam pernyataan resmi yang dilansir The New York Times bahwa mereka memulai penyelidikan pembunuhan Salwan Momika dan menangkap lima orang yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
Menurut informasi, Salwan Momika dikenal luas karena pembakaran Al-Quran di luar masjid pada salah satu hari suci umat Islam pada tahun 2023. Umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Swedia, sangat marah terhadap aksi ini.
Salwan Momika mengatakan bahwa tindakannya adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang perlakuan buruk yang dilakukan oleh kelompok Islamis terhadap minoritas Kristen di beberapa wilayah.
“Tujuan saya bukan untuk menyerang umat Muslim, tetapi untuk mengkritik ajaran dalam Al-Qur'an,” katanya, seperti dikutip Al Arabiya News, Kamis (30/1/2025).
Salwan Momika, yang datang ke Swedia dari Irak pada 2018, mendapat izin tinggal selama tiga tahun pada 2021.
Ia sering mengadakan demonstrasi yang mengkritik Islam dengan menggunakan kebebasan berbicara di Swedia. "Saya ingin melindungi masyarakat Swedia dari pesan-pesan Al-Quran," tambahnya.
Meskipun Salwan Momika mendapatkan izin untuk mengadakan demonstrasi, izin tersebut tidak melarang pembakaran Al-Quran atau benda lain.
Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana hukum Swedia menyeimbangkan kebebasan berbicara dengan perlindungan simbol keagamaan yang dianggap suci oleh sebagian besar orang Muslim.
Salwan Momika dijadwalkan menghadiri sidang di Pengadilan Distrik Stockholm pada hari Kamis, 30 Januari 2025.
Karena tindakannya yang membakar Al-Quran, ia didakwa menghasut kebencian rasial. Namun, karena dia meninggal, sidang tersebut ditunda.
Di tengah situasi ini, kematian Salwan Momika menimbulkan ketegangan lebih lanjut mengenai peran hukum, toleransi agama, dan kebebasan berbicara di negara-negara Barat. (***)
Editor : Yosep Awaludin