Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Waduh, Pakar Sebut Pemanasan Global Terjadi Lebih Cepat, Ambang Batas 2°C Bisa Tercapai pada 2045

Siti Dewi Yanti • Kamis, 6 Februari 2025 | 10:53 WIB
Profesor James Hansen dari Universitas Columbia
Profesor James Hansen dari Universitas Columbia

RADAR BOGOR – Target global untuk membatasi kenaikan suhu bumi hingga 2°C di atas level praindustri kini dinilai tak lagi realistis.

Ilmuwan menyatakan bahwa pemanasan global bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Profesor James Hansen dari Universitas Columbia menyatakan, perhitungan sebelumnya tidak sepenuhnya mempertimbangkan efek pengurangan polusi dari sektor pelayaran.

Hal itu ternyata berperan dalam menghalangi sinar matahari dan menekan kenaikan suhu.

Dalam analisis terbarunya, Hansen memperkirakan bahwa dunia kemungkinan akan mencapai ambang batas 2°C pada 2045.

’’Kita telah membuat kesepakatan buruk, sebuah ’Bargain Faustian’,’’ ujarnya.

’’Dan, kini saatnya kita menanggung konsekuensinya,’’ lanjutnya.

Sebagai informasi, Bargain Faustian merujuk pada kesepakatan yang memberikan keuntungan jangka pendek, tetapi membawa konsekuensi besar di kemudian hari.

Dalam konteks ini, pakar iklim tersebut mengibaratkan ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil yang berkonsekuensi serius terhadap percepatan krisis iklim.

Hansen menyoroti bahwa kebijakan internasional untuk mengurangi emisi sulfur dari industri pelayaran justru mempercepat laju pemanasan global.

Penghapusan polutan itu, meskipun berdampak positif bagi kesehatan manusia, secara tidak langsung telah membuat suhu bumi meningkat lebih cepat dari perkiraan.

Profesor Jeffrey Sachs dari Universitas Columbia menambahkan, kenaikan suhu yang mengejutkan itu terjadi karena berkurangnya polusi udara yang tidak terduga dampaknya.

’’Saat ini kita memiliki titik acuan dan arah baru untuk memahami ke mana kita akan menuju,’’ tuturnya.

Namun, tidak semua ilmuwan sepenuhnya sepakat.

Dr Zeke Hausfather menilai proyeksi Hansen lebih mencerminkan skenario terburuk dibandingkan dengan perkiraan utama komunitas ilmiah.

’’Kita tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa Hansen salah, tetapi pendekatannya mewakili batas terburuk dari berbagai estimasi yang tersedia,’’ ujarnya.

Selain itu, Hansen memperingatkan bahwa pemanasan global yang lebih cepat dapat memicu pencairan es di kutub utara dalam skala lebih besar, yang berpotensi menyebabkan terganggunya sirkulasi arus laut Atlantik (Atlantic Meridional Overturning Circulation/AMOC).

Dia memperkirakan, jika tren itu berlanjut, sistem arus laut yang sangat penting bagi stabilitas iklim global tersebut dapat terhenti dalam waktu 20 hingga 30 tahun ke depan.

’’Jika AMOC terhenti, kita akan menghadapi ’titik tanpa kembali’, yakni kenaikan permukaan laut beberapa meter dan dampak lain yang sulit dikembalikan,’’ tegasnya.

Untuk mengatasi krisis itu, Hansen menyerukan kebijakan biaya dan dividen karbon, di mana bahan bakar fosil dikenai pajak dengan hasil yang dikembalikan kepada masyarakat.

’’Masalah mendasarnya adalah limbah dari bahan bakar fosil masih dibuang ke atmosfer secara gratis,’’ katanya. (din/c7/bay)

Editor : Siti Dewi Yanti
#Profesor James Hansen #Universitas Columbia #pemanasan global