RADAR BOGOR - Dunia pernah memiliki banyak pelukis hebat di abad pertengahan.
Salah satunya seniman legendaris dari Italia, Leonardo da Vinci.
Banyak mahakarya mengagumkan dari sang maestro Leonardo da Vinci, diantaranya lukisan ikonik Monalisa.
Monalisa (atau La Gioconda) bukan hanya sekedar lukisan terkenal.
Ini adalah mahakarya teknik Renaisans yang mengubah dunia seni.
Dilukis Leonardo da Vinci pada 1503-1519, karya ini memadukan sains, seni, psikologis dengan cara revolusioner.
Setidaknya ada 5 unsur keabadian Monalisa
Senyum yang “hidup” teknik sfumato
-Teknik pengaburan garis tepi (seperti asap) sehingga ekspresi berubah-ubah tergantung sudut pandang.
-Senyumnya terlihat beda, di lihat dari kiri kanan dan tengah.
-Leonardo mempelajari anatomi mata manusia untuk menciptakan teknik ini.
Komposisi Piramida yang memenangkan
-Posisi tangan, bahu dan kepala Monalisa membentuk segitiga stabil.
-Bentuk piramida memberi kesan harmonis dan tenang secara bawah sadar berkat psikologi visual.
Latar belakang imajiner yang jenius
-Pegunungan dan sungai tidak nyata, tapi campuran imajinasi dan studi geologi Leonardo.
-Membuat mata penonton berkelana antara fokus pada wajah dan latar, memperkuat efek 3D
Pencahayaan yang menipu mata
-Leonardo da Vinci menempatkan sumber cahaya dua arah.
-kiri depan menerangi wajah dan tangan.
-Belakang kanan menciptakan siluet pegunungan.
Detail tak kasat mata yang revolusioner
-Lukisan tampak tanpa alis, tapi scan infra merah membuktikan Leonardo melukisnya halus sekali hingga memudar.
-Tekstur kain di dada Monalisa memiliki pola seperti jaring laba-laba, mustahil dilihat tanpa mikroskop!
Senyum Monalisa tampak seperti misteri terbesar, faktanya teknik stumafo menciptakan ilusi perubahan ekspresi, ini sebuah pencapaian sains optik.
Monalisa sudah terkenal sebelum tahun 1911, pencurian hanya membuatnya tambah populer di kalangan masyarakat umum.
Monalisa bukan kebetulan menjadi ikon.
Setidaknya dengan kecerdasannya, Leonardo merancangnya sebagai laboratorium teknik visual.
Kejeniusannya bukan terletak pada apa yang terlihat, tapi pada bagaimana ia menipu mata dan hati kita.***
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim