RADAR BOGOR - Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan militer memunculkan pertanyaan besar soal suksesi kepemimpinan di Iran.
Sejumlah nama ulama dan tokoh penting kini disebut berpeluang menggantikan posisi strategis tersebut.
Ali Khamenei yang meninggal dunia pada Sabtu 28 Februari 2026 waktu setempat, telah dikonfirmasi oleh pemerintah Iran serta Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Iran pun menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta 7 hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan.
Donald Trump dalam pernyataannya di media sosial menyebut, Ali Khamenei telah meninggal dunia dalam operasi militer.
Ada sejumlah kandidat yang dinilai berpotensi memimpin Iran selanjutnya, meski tidak mengungkapkan secara spesifik nama yang dimaksud.
Seiring kabar tersebut, perhatian global kini tertuju pada proses suksesi kepemimpinan di Iran.
Berdasarkan sistem politik Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh lembaga ulama yang dikenal sebagai Majelis Pakar, dengan syarat kandidat merupakan ulama Syiah berpengaruh.
Sebelum wafat, Ali Khamenei disebut telah menyiapkan sejumlah nama yang berpotensi menjadi penerus.
Informasi ini mengemuka sejak ketegangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat pada pertengahan tahun lalu.
Beberapa tokoh yang masuk dalam bursa calon pengganti antara lain:
1. Gholam Hossein Mohseni Eje’i
Saat ini menjabat sebagai kepala peradilan Iran.
Ia dikenal sebagai figur kuat dalam struktur hukum dan memiliki pengaruh signifikan di kalangan elite pemerintahan.
2. Ali Asghar Hejazi
Merupakan kepala staf Khamenei yang memiliki kedekatan langsung dengan pusat kekuasaan.
Perannya selama ini membuatnya dianggap memahami dinamika internal pemerintahan Iran.
3. Hassan Khomeini
Cucu dari Ruhollah Khomeini ini dikenal sebagai ulama moderat.
Ia memiliki legitimasi historis, meski pengaruh politiknya dinilai belum sekuat kandidat lain.
4. Hashem Hosseini Bushehri
Ulama senior yang memiliki hubungan erat dengan Majelis Pakar.
Ia dikenal sebagai sosok low-profile, namun memiliki jaringan kuat dalam proses suksesi kepemimpinan.
Selain nama-nama tersebut, beberapa tokoh lain juga disebut berpeluang, seperti:
5. Alireza Arafi
Wakil ketua Majelis Pakar yang memiliki latar belakang kuat di bidang keagamaan serta pengalaman di Dewan Wali Iran.
6. Mohammad Mehdi Mirbagheri
Ulama garis keras yang dikenal dengan pandangan konservatif dan sikap keras terhadap Barat.
Sementara itu, nama Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, disebut memiliki peluang kecil untuk menggantikan ayahnya.
Hal ini karena Ali Khamenei sebelumnya menolak adanya pewarisan kekuasaan secara turun-temurun.
Proses penentuan pemimpin tertinggi Iran ke depan diperkirakan akan berlangsung dinamis, mengingat posisi tersebut memiliki pengaruh besar dalam kebijakan politik, militer, dan keagamaan Iran. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim