Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Mengapa Banyak Perusahaan Cepat Memecat Generasi Z? Profesor NYU Bongkar Fakta Mengejutkan Dunia Kerja

Siti Dewi Yanti • Kamis, 7 Mei 2026 | 15:55 WIB
ILUSTRASI: Saat ini, banyak perusahaan yang cepat memecat Generasi Z.
ILUSTRASI: Saat ini, banyak perusahaan yang cepat memecat Generasi Z.

RADAR BOGOR - Survei terbaru mengungkap benturan nilai antara Generasi Z dan perusahaan makin tajam.

Hanya sebagian kecil pekerja muda dianggap sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.

Dunia kerja sedang mengalami perubahan besar, dan Generasi Z berada tepat di tengah pusaran perubahan tersebut.

Baca Juga: Mahkota Binokasih Tiba di Bogor, Kirab Budaya Besok Malam Makin Sakral

Di saat banyak anak muda ingin bekerja dengan lebih fleksibel dan menjaga kesehatan mental, perusahaan justru masih mencari sosok pekerja dengan orientasi kuat pada target, kemenangan, dan produktivitas tinggi.

Perbedaan cara pandang inilah yang kini mulai memunculkan gesekan serius di lingkungan kerja.

Survei Intelligent yang dirilis pada 2026 mengungkap fakta mengejutkan.

Baca Juga: Wangi Nasi dari Tungku Kayu! Sangu Akeul Ambu Bogor Hadirkan Vibes Rumah Nenek yang Bikin Kangen

Enam dari sepuluh perusahaan disebut memilih memberhentikan karyawan Generasi Z hanya beberapa bulan setelah mereka mulai bekerja.

Fenomena ini kemudian mendapat perhatian dari Profesor New York University (NYU), Suzy Welch, yang selama beberapa waktu terakhir meneliti pola nilai dan prioritas hidup Generasi Z melalui alat analisis bernama The Values Bridge.

Dalam keterangannya yang dikutip dari USA Today pada Kamis, 7 Mei 2026, Welch menjelaskan, hasil penelitiannya menunjukkan adanya jurang besar antara nilai yang dianut Gen Z dan ekspektasi perusahaan modern.

Baca Juga: TBC Keep Going: Inovasi Puskesmas Tamansari Bogor Tingkatkan Kepatuhan Berobat Pasien

Ia menyebut, riset tersebut melibatkan sekitar 200 ribu responden dalam satu tahun terakhir.

Dari hasil penelitian itu, hanya sekitar 2 persen Gen Z yang memiliki karakter atau nilai yang dianggap paling dicari oleh manajer perekrutan perusahaan.

Menurut Welch, mayoritas Generasi Z lebih menempatkan perawatan diri, kebebasan mengekspresikan identitas secara autentik, serta keinginan membantu orang lain sebagai prioritas utama dalam hidup dan pekerjaan.

Baca Juga: Cuma 20 Ribuan! Ramen dan Bento di Air Mancur Bogor Ini Bikin Kantong Aman dan Perut Kenyang

Sementara itu, perusahaan justru lebih mengutamakan pekerja yang memiliki orientasi pada pencapaian, semangat memenangkan persaingan, serta fokus tinggi terhadap pekerjaan.

Welch menjelaskan, perusahaan juga sangat menghargai pekerja yang memiliki keinginan terus belajar, aktif, dan siap menjalani tantangan baru, termasuk mobilitas kerja yang tinggi.

Perbedaan nilai tersebut membuat banyak perusahaan merasa kesulitan menemukan kandidat muda yang benar-benar sesuai dengan budaya kerja mereka.

Baca Juga: Korban Pelanggaran HAM Berat Kini Dapat Bansos PKH Rp2,7 Juta, Bentuk Kepedulian dan Nilai Kemanusiaan

Di sisi lain, Gen Z dinilai memiliki cara pandang berbeda terhadap kesuksesan karier.

Banyak pekerja muda melihat generasi sebelumnya bekerja keras selama puluhan tahun namun tetap menghadapi pemutusan hubungan kerja, ketidakpastian ekonomi, hingga tekanan hidup yang tinggi.

Karena itulah, banyak Gen Z kini lebih memilih menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibanding mengejar karier secara agresif.

Baca Juga: Ada Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Besok Malam di Kota Bogor, Sejumlah Jalan Utama Ditutup

Welch menilai, sikap tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang keliru.

Ia menegaskan, pekerja muda tidak harus mengorbankan prinsip hidup mereka demi memenuhi ekspektasi perusahaan.

Namun, ia mengingatkan, setiap pilihan tetap memiliki konsekuensi di dunia profesional.

Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 Cair Bertahap, Begini Hasil Cek Saldo KKS Bank Mandiri per Hari Ini

Menurutnya, mereka yang mempertahankan nilai personal tertentu perlu memahami bahwa peluang kerja di sektor tertentu bisa menjadi lebih terbatas.

Di tengah perubahan besar dunia kerja, perusahaan-perusahaan juga disebut sedang berlomba mencari kelompok kecil pekerja muda yang dianggap sesuai dengan standar industri saat ini.

Situasi itu diperparah oleh meningkatnya angka pengangguran lulusan baru di Amerika Serikat.

Baca Juga: Demi Uang Rp50 ribu, Pria di Sukaraja Bogor Nekat Bobol Kotak Amal Masjid

Berdasarkan data Federal Reserve New York pada akhir 2025, tingkat pengangguran fresh graduate mencapai 5,7 persen, lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya.

Kondisi tersebut dipengaruhi perubahan struktur industri, efisiensi perusahaan, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja.

Baca Juga: Kisah Haru Al-Jabbar, Anak 12 Tahun yang Baru Bisa Sekolah Berkat Program Sekolah Rakyat

Welch pun menyarankan, lulusan baru agar lebih terbuka terhadap berbagai peluang pekerjaan dan tidak terpaku hanya pada jalur karier yang sepenuhnya sesuai dengan jurusan kuliah mereka. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
#karyawan #generasi z #perusahaan #Gen Z