RADAR BOGOR - Sebuah ruangan sederhana berukuran sekitar 6x4 meter di Kantor Urusan Haji Indonesia Daerah Kerja (Daker) Makkah menjadi pusat pemantauan mobilitas ribuan jamaah haji Indonesia setiap harinya.
Meski tidak luas, ruangan tersebut beroperasi tanpa henti selama 24 jam untuk memantau perjalanan jamaah haji termasuk Indonesia dari Madinah menuju Makkah.
Di dalam ruang kendali itu, lima layar monitor besar menampilkan pergerakan bus Angkutan Kota Antar Perhajian (AKAP) jamaah haji Indonesia di Makkah secara real time.
Baca Juga: Puyuh Goreng Kopi Gratis, Kuliner Unik di Kaki Gunung Salak yang Wajib Dikunjungi Warga Bogor
Setiap titik pada layar menunjukkan posisi bus yang membawa jemaah menuju hotel masing-masing di Makkah.
Petugas transportasi Arudi berkoordinasi dengan petugas di lapangan. Sementara petugas lainnya fokus memonitor GPS bus yang mengangkut jamaah Kloter 29 Embarkasi Solo (SOC 29).
Arudi menjelaskan, pemantauan dilakukan berdasarkan posisi kilometer bus dan jarak menuju hotel tujuan.
Dengan sistem tersebut, petugas sektor dapat memperkirakan waktu kedatangan jamaah sehingga hotel dan konsumsi dapat dipersiapkan lebih awal.
“Patokannya dari posisi bus di kilometer tertentu dan jarak menuju hotel. Misalnya diperkirakan dua jam lagi tiba di sektor, maka petugas sudah mulai bersiap,” ujarnya.
Aktivitas pemantauan meningkat dalam beberapa hari terakhir seiring tingginya arus perpindahan jamaah dari Madinah ke Makkah. Pada hari tersebut tercatat sebanyak 20 kloter diberangkatkan menggunakan 132 bus dengan total 7.838 jamaah.
Selain memastikan armada tidak salah jalur, petugas juga memantau keamanan perjalanan seluruh jamaah. Kepala Seksi Transportasi PPIH Daker Makkah, Moh Afifuddin Zuhri, mengatakan seluruh bus dipantau menggunakan sistem GPS yang terintegrasi dengan aplikasi khusus.
Menurutnya, pemantauan digital memudahkan petugas mengetahui posisi jamaah secara akurat, termasuk saat terjadi kendala di perjalanan seperti pemeriksaan keamanan di jalur Jeddah.
Afifuddin menjelaskan, waktu tempuh bus tidak selalu sesuai perkiraan karena dipengaruhi kondisi lalu lintas dan kecepatan kendaraan.
Karena itu, sistem pelacakan menjadi sangat penting agar petugas sektor dapat menyesuaikan kesiapan layanan kedatangan jamaah.
Ia menambahkan, koordinasi antara tim di Madinah, Daker Bandara, dan operator bus terus dilakukan untuk memastikan data perjalanan tetap akurat dan pelayanan berjalan optimal.
“Digitalisasi layanan transportasi menjadi salah satu kunci agar pelayanan transportasi haji bisa maksimal sekaligus memastikan keamanan dan kenyamanan jamaah haji Indonesia selama perjalanan,” katanya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga