Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Pasar Kaget Usai Subuh di Misfalah Makkah, Obat Rindu Jemaah Haji Indonesia di Tanah Suci

Lucky Lukman Nul Hakim • Selasa, 19 Mei 2026 | 19:48 WIB
Suasana pasar kaget setelah subuh di Misfalah Makkah.
Suasana pasar kaget setelah subuh di Misfalah Makkah.

RADAR BOGOR - Suasana pagi di Kota Makkah biasanya berjalan tenang dan nyaris serupa setiap hari. 

Cahaya matahari perlahan muncul dari balik perbukitan batu, sementara menara jam Abraj Al Bait tampak menjulang megah di kejauhan. 

Udara hangat selepas Subuh menyambut para jemaah yang baru kembali dari Masjidil Haram dengan langkah ringan setelah beribadah.

Namun, ada pemandangan berbeda yang selalu hadir di kawasan Misfalah, khususnya sektor 9 pemondokan jemaah haji Indonesia. 

Baca Juga: Berlaku Mulai Hari Ini, 3 Aturan Baru Peringkat Desil Penerima Manfaat Bansos dan 5 Bantuan Siap Disalurkan

Setiap selesai salat Subuh, kawasan itu mendadak berubah menjadi pasar kaget yang ramai dan penuh nuansa Nusantara.

Bus shalawat nomor 16 rute Misfalah–Ajyad berhenti perlahan di halte 01 depan pemondokan jemaah. 

Pintu terbuka, lalu para jemaah turun satu per satu. Sebagian masih terlihat mengantuk, sementara lainnya menyimpan raut teduh usai berdoa di Masjidil Haram.

Tetapi suasana khusyuk itu segera bercampur dengan hiruk-pikuk khas pasar tradisional Indonesia.

Aroma Bakso dan Bala-Bala Menguar di Tengah Kota Makkah

Sepanjang trotoar sektor 9 Misfalah, para pedagang kaki lima mulai berjejer sejak pagi hari. 

Aneka makanan khas Indonesia dijajakan untuk para jemaah yang rindu cita rasa kampung halaman.

Mulai dari bakso kuah hangat, nasi kuning, gorengan bala-bala, tahu isi, risol, ubi rebus, hingga kerupuk gendar dijual di sepanjang jalan menuju pemondokan.

Hilaludin Safary, Ketua Harian Pimpinan Pusat Forum Santri Nasional (FSN) sekaligus Tenaga Ahli Anggota DPR RI, mengatakan suasana tersebut menjadi fenomena unik yang selalu muncul saat musim haji.

Baca Juga: Panduan Lengkap Bansos PIP 2026: Kategori Penerima Baru, Nominal Bantuan, Daftar Bank Penyalur dan Cara Cek via HP

“Selepas Subuh, kawasan Misfalah seperti berubah menjadi serpihan kecil Indonesia di tengah Kota Makkah. Para jemaah baru selesai ibadah, tetapi beberapa menit kemudian sudah sibuk mencari gorengan dan sambal,” ujar Hilaludin Safary di sektor 9 Misfalah, Makkah kepada Radar Bogor, Senin (19/5/2026).

Menariknya, para pedagang tidak seluruhnya berasal dari Indonesia.

Sebagian merupakan warga Arab Saudi yang sudah memahami selera lidah jemaah Nusantara.

Sebagian lainnya adalah diaspora Indonesia yang telah lama menetap di Arab Saudi dan rutin berdagang setiap musim haji.

Bahasa Campur Aduk Jadi Pemandangan Sehari-hari

Suasana pasar kaget itu juga menghadirkan percakapan unik yang terdengar bersahutan sejak pagi.

Pedagang menawarkan dagangan dengan berbagai bahasa, mulai dari Arab, Indonesia, Sunda, hingga Jawa.

“Bakso Indonesia… bakso Indonesia…”
“Bala-bala dua riyal…”
“Murah jiddan… murah jiddan…”

Sementara para jemaah mencoba bernegosiasi dengan kemampuan bahasa seadanya.

Ada yang memakai bahasa Arab sederhana seperti:
“Kam hadza?”
“Ana syuf dulu…”

Ada pula yang mencampur bahasa Inggris dan Indonesia:
“How much ini, brother?”
“Last price ya…”

Namun yang paling mencuri perhatian adalah rombongan ibu-ibu asal Sunda yang tetap percaya diri menggunakan bahasa daerah saat menawar barang.

Baca Juga: IPOT Luncurkan UI/UX Dinamis Berbasis AI Real Time, Tampilan Baru Ubah Cara Investor Muda Berinteraksi dengan Pasar

Mereka berbicara santai sambil menunjuk dagangan, mengangkat jari untuk menawar harga, lalu tertawa bersama ketika komunikasi tidak sepenuhnya dipahami.

Bahasa tubuh justru menjadi alat komunikasi paling ampuh di tengah keramaian pasar kecil tersebut.

Dari Gamis Murah hingga Sambal, Semua Jadi Pelepas Rindu Tanah Air

Tidak hanya makanan, sejumlah pedagang juga menjajakan gamis pria dan wanita dengan harga obral.

Pakaian digantung di pagar hotel sambil ditawarkan kepada jemaah yang melintas.

Kawasan halte 02 depan Hotel Burj Salah hingga halte 03 di sekitar pemondokan lainnya dipenuhi aktivitas serupa setiap pagi.

Bagi banyak jemaah, keberadaan pasar kaget itu bukan sekadar tempat membeli makanan atau oleh-oleh.

Lebih dari itu, suasana tersebut menjadi pengobat rindu terhadap kampung halaman di tengah padatnya rangkaian ibadah haji.

Di tengah kesakralan ibadah di Tanah Suci, trotoar kecil di Misfalah justru menghadirkan kehangatan sederhana khas Indonesia yakni aroma gorengan, suara tawar-menawar, dan tawa sesama anak bangsa yang saling menguatkan di negeri orang.

Pasar Kaget Misfalah Jadi Cerita Unik Musim Haji 2026

Fenomena pasar kaget selepas Subuh di Misfalah menjadi salah satu cerita menarik yang banyak ditemui jemaah haji Indonesia selama musim haji 2026.

Baca Juga: Di Luar PKH dan BPNT, 3 Bansos Ini Cair Mei Tahun 2026, KPM Bisa Terima Nominal Capai Rp1,8 Juta

Selain menghadirkan suasana akrab, aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana budaya Indonesia tetap hidup dan tumbuh bahkan ribuan kilometer dari tanah air.

Bagi para jemaah, haji bukan hanya tentang ibadah di depan Ka’bah atau doa panjang di Multazam.

Perjalanan spiritual itu juga menghadirkan cerita sederhana yang penuh kehangatan dan rasa kebersamaan. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#bogor #indonesia #haji #makkah #tanah suci