Laut China Selatan Memanas, Tiongkok Usir Helikopter Militer Belanda dari Wilayah Sengketa

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 02:00 WIB
KONFLIK: Militer Tiongkok usir helikopter Belanda.
KONFLIK: Militer Tiongkok usir helikopter Belanda.

RADAR BOGOR - Ketegangan geopolitik di Laut China Selatan kembali meningkat, setelah militer Tiongkok mengusir helikopter milik Angkatan Laut Belanda yang disebut memasuki wilayah udara kawasan sengketa Xisha Qundao. 

Beijing menilai, aktivitas kapal perang Belanda tersebut sebagai tindakan provokatif yang melanggar kedaulatan wilayah Tiongkok.

Insiden itu terjadi, di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap situasi keamanan di Laut China Selatan yang selama ini menjadi salah satu kawasan paling sensitif di Asia.

Baca Juga: Kuah Kentalnya Juara, Ini 5 Rekomendasi Soto Medan Legendaris yang Wajib Dicoba Pecinta Kuliner

Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) menyebut fregat Angkatan Laut Belanda, De Ruyter, beberapa kali menerbangkan helikopter militer dari atas kapal hingga masuk ke wilayah udara yang diklaim Tiongkok.

Menanggapi situasi tersebut, militer Tiongkok langsung mengerahkan armada laut dan udara untuk melakukan pengusiran terhadap kapal perang Belanda itu.

Militer Tiongkok Kerahkan Kekuatan Laut dan Udara

Dalam pernyataan resminya pada Kamis, 28 Mei 2026, Komando Teater Selatan Tiongkok menegaskan, pihaknya tidak hanya memberikan peringatan verbal, tetapi juga melakukan gangguan elektronik terhadap kapal perang Belanda tersebut.

Juru bicara Komando Teater Selatan PLA, Zhai Shichen, mengatakan kapal perang Belanda telah memasuki wilayah Tiongkok secara ilegal dan menjalankan sejumlah operasi penerbangan helikopter dari atas kapal.

Menurut Zhai Shichen, pasukan laut dan udara Tiongkok kemudian mengambil langkah yang dianggap perlu sesuai hukum dan regulasi yang berlaku untuk mengusir kapal tersebut dari kawasan sengketa.

Ia juga menegaskan, tindakan Belanda dinilai melanggar kedaulatan teritorial Tiongkok, mengancam keamanan maritim dan udara, serta bertentangan dengan norma dasar hubungan internasional.

Tiongkok Minta Belanda Hentikan Aksi Provokasi

Pemerintah Tiongkok turut memperingatkan Belanda agar tidak lagi melakukan aktivitas yang dianggap memicu ketegangan di kawasan Laut China Selatan.

Dalam keterangannya, Zhai Shichen meminta Belanda segera menghentikan tindakan pelanggaran dan provokasi yang dinilai dapat memperburuk situasi keamanan regional.

Pernyataan keras dari Beijing muncul di tengah meningkatnya aktivitas militer asing di kawasan perairan strategis tersebut, termasuk patroli kapal perang dari negara-negara Barat.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok Larang Negara Asing Ikut Campur

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menegaskan situasi di Laut China Selatan dan Laut China Timur masih berada dalam kondisi stabil meski tensi geopolitik meningkat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, pada Rabu, 27 Mei 2026, meminta negara-negara tertentu untuk tidak ikut campur dalam urusan maritim di sekitar wilayah perairan Tiongkok.

Baca Juga: KPM Mulai Pantau Saldo, Status SI Bansos PKH BPNT Tahap 2 Meluas dan PIP Mei 2026 Mulai Cair

Menurut Mao Ning, negara-negara luar kawasan seharusnya menghormati upaya negara-negara Asia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional tanpa intervensi asing.

Laut China Selatan Kembali Jadi Pusat Ketegangan Dunia

Laut China Selatan selama ini menjadi kawasan yang diperebutkan sejumlah negara karena memiliki jalur perdagangan strategis dan sumber daya alam yang besar. 

Selain Tiongkok, beberapa negara Asia Tenggara juga memiliki klaim wilayah di kawasan tersebut.

Meningkatnya aktivitas militer di wilayah sengketa membuat kawasan ini kembali menjadi sorotan internasional. 

Banyak pihak khawatir ketegangan yang terus meningkat dapat memicu konflik terbuka di kawasan Indo-Pasifik. (lyn/gas)

Editor : Siti Dewi Yanti
Laut China Selatan belanda tiongkok