Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, 1.300 Orang Meninggal, Lansia Jadi Korban Terbanyak

Yosep Awaludin • Senin, 29 Juni 2026 | 14:43 WIB
Ilustrasi Eropa dilanda gelombang panas ekstrem.
Ilustrasi Eropa dilanda gelombang panas ekstrem.

RADAR BOGOR – Gelombang panas ekstrem di Eropa kembali memakan korban jiwa dalam jumlah besar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia akibat gelombang panas ekstrem yang sangat tinggi sejak akhir Juni 2026.

Fenomena gelombang panas ekstrem tersebut juga memicu gangguan pada berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga pasokan listrik di sejumlah negara.

Sejak melanda kawasan Eropa pada 21 Juni 2026, gelombang panas atau heatwave telah memberikan dampak serius terhadap keselamatan masyarakat.

Sejumlah negara seperti Prancis, Jerman, dan Polandia menjadi wilayah yang mengalami suhu ekstrem dalam beberapa pekan terakhir.

Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa suhu panas yang terus meningkat telah menyebabkan lonjakan angka kematian di berbagai negara Eropa.

Baca Juga: Validasi Baru Bansos PKH Mulai Cair, KPM BPNT Murni Terima Saldo Rp1,25 Juta

"Sejak 21 Juni, lebih dari 1.300 kematian tambahan telah tercatat dan berkaitan dengan tingginya suhu udara di kawasan Eropa," tulis Tedros melalui akun media sosial X.

WHO Sebut Gelombang Panas sebagai Pembunuh Senyap

Tedros menggambarkan gelombang panas sebagai ancaman kesehatan yang sering kali tidak disadari, tetapi berdampak sangat besar terhadap kehidupan masyarakat.

Menurutnya, suhu ekstrem merupakan "pembunuh senyap" karena dapat menyebabkan kematian tanpa menimbulkan perhatian sebesar bencana alam lainnya, meski dampaknya sangat serius.

Selain meningkatnya angka kematian, gelombang panas juga memaksa sejumlah sekolah menghentikan kegiatan belajar mengajar.

Di beberapa wilayah, beban konsumsi listrik yang melonjak akibat penggunaan pendingin ruangan bahkan dilaporkan menyebabkan gangguan pada jaringan kelistrikan.

WHO menyatakan akan terus bekerja sama dengan negara-negara anggotanya untuk memperkuat upaya menghadapi ancaman kesehatan akibat perubahan iklim.

Fokus utama yang dilakukan meliputi peningkatan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, penguatan langkah pencegahan, serta memperkuat sistem layanan kesehatan agar mampu merespons dampak gelombang panas secara lebih efektif.

"Kami mendorong seluruh negara di Eropa untuk menerapkan rencana aksi kesehatan terkait gelombang panas sebagai bagian dari perlindungan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim," ujar Tedros.

Lansia Menjadi Kelompok Paling Rentan

WHO juga mencatat bahwa mayoritas korban meninggal akibat gelombang panas merupakan kelompok lanjut usia.

Data organisasi tersebut menunjukkan sekitar 40 persen peningkatan angka kematian pada warga berusia 65 tahun ke atas, terutama mereka yang meninggal di rumah selama periode cuaca ekstrem berlangsung.

Baca Juga: Harta Kekayaan Jaro Ade Melonjak, LHKPN Tembus Rp57,7 Miliar, Begini Penjelasan Wakil Bupati Bogor

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelompok lansia menjadi pihak yang paling rentan terhadap paparan suhu tinggi, terutama apabila memiliki penyakit penyerta atau tidak mendapatkan perlindungan yang memadai.

Prancis Jadi Salah Satu Negara dengan Dampak Terbesar

Salah satu negara yang mengalami dampak paling signifikan adalah Prancis. Beberapa wilayah di negara tersebut dilaporkan mencatat suhu udara antara 36 hingga 40 derajat Celsius, memicu kondisi darurat kesehatan di berbagai daerah.

Sementara itu, Badan Kesehatan Masyarakat Prancis (Public Health France) melaporkan bahwa gelombang panas telah menyebabkan sekitar 1.000 kematian tambahan hanya dalam sepekan terakhir.

"Sejak 24 Juni, tercatat sekitar 1.000 kematian lebih banyak dibandingkan angka kematian pada periode normal di bulan-bulan sebelumnya," demikian pernyataan Public Health France sebagaimana dikutip AFP.

Gelombang panas yang semakin sering terjadi di Eropa kembali menjadi pengingat akan besarnya dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.

WHO pun mengingatkan pentingnya kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi fenomena cuaca ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi pada masa mendatang. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#Gelombang panas #who #eropa