RADAR BOGOR – Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas ke titik krusial. Di tengah suasana pilu masa berkabung nasional atas wafatnya Pemimpin Iran Ayatullah Ali Khamenei, Amerika Serikat justru melancarkan serangan udara masif ke sejumlah sasaran militer di wilayah Iran Selatan.
Melansir laporan resmi dari Reuters, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah menggempur lebih dari 80 hingga 90 target spesifik di sepanjang pesisir Iran.
Serangan ini diklaim bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran yang dianggap kerap mengancam jalur pelayaran internasional.
Adapun sasaran komando AS tersebut mencakup infrastruktur vital, mulai dari sistem pertahanan udara, pusat komando logistik, fasilitas penyimpanan rudal, hingga aset maritim milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang tersebar di sekitar Selat Hormuz.
Dampak dari operasi militer berskala besar ini memicu serangkaian ledakan hebat di beberapa titik strategis, seperti kawasan Bandar Abbas, Pulau Qeshm, hingga Sirik.
Laporan di lapangan menyebutkan bahwa serangan di Pelabuhan Shahid Haghani dan Pelabuhan Shahid Beheshti di Chabahar turut merusak menara kontrol lalu lintas maritim serta memutus jaringan listrik kota setempat.
Baca Juga: Siap Cuci Gudang! Manchester City Masukan Enam Bintang ke Daftar Jual
Pihak CENTCOM menegaskan bahwa aksi agresif ini merupakan respons balasan atas tindakan Iran yang dituding kerap mengganggu keselamatan kapal-kapal komersial dan kru sipil yang melintasi jalur logistik minyak mentah paling vital di dunia tersebut.
Langkah sepihak AS di saat Iran mengalami transisi politik dan masa berkabung ini langsung memicu reaksi keras dari Teheran.
Otoritas militer Iran mengutuk keras serangan tersebut dan mengancam akan meluncurkan drone serta rudal balasan ke pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Konfrontasi langsung ini pun langsung menarik perhatian dunia internasional. Selain karena potensi eskalasi perang terbuka yang meluas, ketegangan di Selat Hormuz ini diprediksi akan langsung mengguncang stabilitas pasar minyak dan ekonomi global dalam beberapa hari ke depan. (Saniah/Tazkia)
Editor : Yosep Awaludin