Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Suhu Tembus 40 Derajat, Kota di China Ini Pasang Kipas Kabut Raksasa

Yosep Awaludin • Sabtu, 18 Juli 2026 | 09:00 WIB
Warga memanfaatkan kipas raksasa untuk mendinginkan diri saat cuaca panas melanda di China. (Foto: Xinhua News Agency via Getty Images) 
Warga memanfaatkan kipas raksasa untuk mendinginkan diri saat cuaca panas melanda di China. (Foto: Xinhua News Agency via Getty Images) 

RADAR BOGOR – Cuaca ekstrem tengah melanda berbagai belahan dunia, salah satunya di kota Chongqing, China.

Menghadapi suhu udara yang nyaris menyentuh 40 Derajat Celcius, pemerintah China setempat memutar otak. 

Mereka meluncurkan teknologi unik sekaligus memanfaatkan infrastruktur bersejarah demi menyelamatkan warganya dari sengatan panas (heatstroke). 

Dua langkah taktis yang kini tengah menjadi sorotan dunia adalah pemasangan kipas kabut raksasa di jalanan.

Serta pembukaan 1.600 bunker bawah tanah sebagai tempat pengungsian sementara bagi warga yang kepanasan. 

Bagi pejalan kaki yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan, pemerintah Kota Chongqing memasang sistem kipas kabut bertekanan tinggi generasi terbaru di area-area publik yang padat. 

Baca Juga: Guru Besar IPB Ungkap Ancaman Pencemaran Laut yang Kian Mengkhawatirkan

Berbeda dengan kipas angin biasa, teknologi ini menyemburkan partikel air super halus ke udara.

Ketika partikel air tersebut terkena Terik matahari, mereka langsung menguap dan menyerap hawa panas di sekitarnya secara instan. 

“Teknologinya sangat efisien karena menggunakan prinsip pendinginan evaporative. Suhu di sekitar area kipas bisa turun drastis tanpa membuat baju pejalan kaki basah kuyup,” tulis laporan media setempat. 

Selain teknologi kipas kabut, langkah paling unik yang diambil adalah pemanfaatan 1.600 bunker pertahanan udara.

Bunker-bunker bersejarah yang dibangun sejak masa perang dunia II ini kini dialihfungsikan secara cerdas menjadi tempat perlindungan publik. 

Karena posisinya berada jauh di bawah tanah, bunker-bunker ini memiliki suhu dingin alami yang sangat stabil (berkisar di angka 20-an derajat Celcius) tanpa memerlukan mesin pendingin ruangan (AC) yang boros Listrik. 

Pemerintah setempat juga memanjakan warga yang datang "ngadem" dengan berbagai fasilitas gratis, di antaranya:

• Kursi dan meja santai.
• Air minum gratis dan obat-obatan pencegah panas dalam/pusing.
• Jaringan internet nirkabel (Wi-Fi) gratis.

Langkah ini dinilai sangat efektif untuk merangkul kaum lansia dan pekerja jalanan yang paling rentan terdampak cuaca panas ekstrem.

Strategi kombinasi  antara teknologi ramah lingkungan dan pemanfaatan ruang bawah tanah ini terbukti berhasil menekan penggunaan energi Listrik di kota tersebut. 

Baca Juga: Glamping Puncak View: Wisata Camping dan Kuliner dengan View Gunung di Bogor

Dengan banyaknya warga yang memilih berkumpul di bunker sejuk alami atau mendinginkan diri di jalanan dengan kipas kabut, beban penggunaan AC di rumah-rumah berkurang signifikan. 

Hal ini sekaligus menyelamatkan jaringan Listrik kota dari risiko pemadaman massal akibat kelebihan beban kerja. 

Langkah adaptasi Chongqing China ini menjadi bukti nyata bahwa menghadapi krisis iklim tidak selalu membutuhkan biaya mahal, melainkan kreativitas dalam mengelola aset sejarah dan teknologi sederhana. (Saniah/Tazkia)

Editor : Yosep Awaludin
kipas china cuaca ekstrem