Krisis Air Bersih di Inggris, 7.000 Rumah di Kent Kehilangan Pasokan Selama Dua Hari

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 14:22 WIB
Perusahaan air minum South East Water (SEW) di Inggris. (Foto: Instagram @officialsewateruk)
Perusahaan air minum South East Water (SEW) di Inggris. (Foto: Instagram @officialsewateruk)

RADAR BOGOR – Ribuan warga di wilayah Kent, Inggris, harus menghadapi krisis air bersih setelah pasokan air terganggu selama dua hari berturut-turut.

Gangguan tersebut menyebabkan ribuan rumah di Kent, Inggris mengalami tekanan air rendah hingga tidak mendapatkan aliran air sama sekali.

Kondisi itu memicu gelombang keluhan terhadap perusahaan penyedia layanan air South East Water (SEW).

Mengutip laporan BBC, sekitar 7.000 properti terdampak akibat kerusakan peralatan di instalasi pengolahan air Tunbridge Wells yang dikelola South East Water.

Perusahaan tersebut melayani kebutuhan air bersih bagi masyarakat di Kent, Sussex, Surrey, Hampshire, dan Berkshire.

Gangguan ini memperpanjang daftar persoalan yang dihadapi SEW. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan tersebut berkali-kali mendapat sorotan karena dinilai gagal menjaga keandalan pasokan air bagi pelanggan.

Baca Juga: Mengunjungi Historische Studio Depok Lama, Museum Sejarah Pertama di Depok

Salah satu warga Tunbridge Wells, Lance Miles, yang merupakan penyandang disabilitas, mengaku kecewa dengan pelayanan perusahaan.

"Ini bukan kali pertama kami mengalami masalah air. Kalau ada pilihan penyedia lain, saya tidak akan ragu untuk berpindah karena layanan seperti ini jelas mengecewakan," ujarnya kepada BBC.

Sebelumnya, South East Water memperkirakan distribusi air akan kembali normal pada Minggu malam.

Namun, proses pemulihan berlangsung lebih lama dari prediksi sehingga semakin menyulitkan masyarakat yang terdampak.

Manajer Operasional South East Water, Steven Benton, menjelaskan bahwa instalasi pengolahan air kini telah kembali beroperasi secara stabil.

Meski demikian, rendahnya cadangan air dan tingginya kebutuhan pelanggan membuat distribusi belum bisa dilakukan secara maksimal, khususnya ke wilayah yang berada di dataran lebih tinggi.

"Akibat persediaan air yang sempat menurun drastis serta tingginya konsumsi, kami belum dapat mengalirkan air secara optimal ke seluruh wilayah. Tangki penyimpanan perlu diisi kembali terlebih dahulu agar distribusi bisa berlangsung stabil dan berkelanjutan," jelas Benton.

Sebagai langkah darurat, South East Water terus menyalurkan air minum kemasan secara cuma-cuma kepada pelanggan yang masuk dalam kategori layanan prioritas.

Perusahaan juga membuka tiga lokasi distribusi air kemasan, yakni di Supermarket Tesco Pembury Road, Klub Rugby Tunbridge Wells, serta area parkir Bioskop Odeon Knights Way.

Seluruh titik distribusi tersebut melayani masyarakat hingga pukul 20.00 waktu Britania Summer Time (BST).

Baca Juga: Mitsubishi Xpander Cross vs Destinator Ultimate, Mana yang Paling Layak Dibeli?

Di tengah gangguan layanan tersebut, South East Water juga menghadapi tekanan dari regulator industri air Inggris, Ofwat.

Pada awal pekan ini, regulator memerintahkan perusahaan mengalokasikan dana sekitar 30,5 juta poundsterling untuk memperbaiki infrastruktur setelah hasil investigasi menemukan berbagai persoalan dalam layanan perusahaan.

Dalam laporan tahunan yang baru dipublikasikan, South East Water juga mengungkapkan kondisi keuangannya tengah mengalami tekanan.

Perusahaan mencatat kerugian sekitar 55 juta poundsterling, yang disebut dipicu gangguan listrik selama musim dingin.

Untuk menjaga operasional perusahaan, South East Water mengaku sedang melakukan pembahasan dengan sejumlah lembaga pembiayaan guna memperoleh tambahan pendanaan.

Perusahaan yang melayani sekitar 2,3 juta pelanggan di wilayah tenggara Inggris itu sebenarnya telah berada dalam pengawasan ketat sejak November tahun lalu, setelah sekitar 24.000 pelanggan di kawasan Tunbridge Wells kehilangan pasokan air atau mengalami tekanan air yang sangat rendah.

Tidak lama setelah gangguan tersebut berhasil diatasi, pelanggan bahkan sempat diminta merebus air sebelum dikonsumsi selama sembilan hari sebagai langkah pencegahan.

Beberapa pekan kemudian, sekitar 30.000 rumah tangga di Kent dan Sussex kembali mengalami gangguan pasokan air selama beberapa hari akibat cuaca ekstrem, termasuk suhu beku dan dampak Badai Goretti.

Serangkaian persoalan tersebut turut berdampak pada perubahan struktur kepemimpinan perusahaan.

South East Water mengonfirmasi bahwa ketua dewan direksi telah mengundurkan diri, sementara kepala eksekutif juga dijadwalkan meninggalkan jabatannya.

Baca Juga: Kasus Korupsi RSUD Bogor Utara Masuk Tiga Klaster, Kejari Pastikan Akan Ada Tersangka Baru

Warga Tunbridge Wells lainnya, Paul Sparrow, menilai persoalan yang terus berulang merupakan akibat kurangnya investasi terhadap sistem infrastruktur air selama bertahun-tahun.

"Menurut saya, masalah ini merupakan akumulasi dari minimnya investasi yang sudah berlangsung cukup lama sehingga dampaknya sekarang benar-benar dirasakan masyarakat," katanya kepada BBC.

Gangguan distribusi air yang kembali terjadi semakin memperburuk kepercayaan publik terhadap South East Water.

Warga berharap perusahaan segera melakukan pembenahan infrastruktur secara menyeluruh agar pasokan air bersih kembali andal dan kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang. (Angga/Radar Bogor)

Editor : Yosep Awaludin
inggris krisis air bersih pasokan air