Konflik Timur Tengah, AS Gempur Iran Sembilan Hari Berturut-turut

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 15:00 WIB
Keadaan Iran setelah diserang oleh militer Amerika Serikat. (Foto : X @anadolagency dan TikTok @apnews)
Keadaan Iran setelah diserang oleh militer Amerika Serikat. (Foto : X @anadolagency dan TikTok @apnews)

RADAR BOGOR - Militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran selama sembilan hari berturut-turut.

Serangan itu menyusul konfirmasi bertambahnya jumlah personel militer AS yang tewas dalam eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Berdasarkan laporan dari media internasional Al Jazeera, ketegangan antara Washington dan Tehran kian memuncak seiring gagalnya kesepakatan gencatan senjata sementara dan memperebutkan kendali atas jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.

Berdasarkan laporan dari media internasional Al Jazeera, Komando Pusat AS atau Central Comunnication (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa, gempuran terbaru ini difokuskan untuk mengikis kemampuan militer Tehran yang dinilai mengancam keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Dalam operasi udara malam kesepuluh tersebut, jet tempur dan armada pengebom AS menghantam sejumlah target vital.

Meliputi pusat komando dan kendali, fasilitas rudal serta drone, sistem pertahanan udara, hingga infrastruktur maritim di beberapa kota pelabuhan utama Iran seperti Bandar Abbas, Chabahar, dan Pulau Qeshm. 

Baca Juga: Hari Bakti TNI AU ke-79, Koopsudnas Helat Bakti Sosial di Lanud Saleh Basarah Rumpin Bogor

Komando militer AS menegaskan serangan beruntun ini dilakukan sebagai bentuk pembalasan atas gugurnya prajurit Amerika Serikat dalam bentrokan beberapa hari terakhir.

Iran merespons gempuran beruntun tersebut dengan meluncurkan gelombang serangan balasan menggunakan rudal balistik dan drone yang menyasar posisi serta pangkalan militer AS di negara-negara tetangga Teluk, termasuk Kuwait dan Bahrain. 

Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah mengincar fasilitas pertahanan sekutu AS dan menyebabkan dua kapal tangki minyak terbakar di sekitar perairan strategis Selat Hormuz.

Eskalasi konflik yang kian meluas ini membuat situasi geopolitik dan ekonomi global berada di ambang bahaya.

Selat Hormuz jalur perdagangan maritim yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dunia kini praktis lumpuh akibat ancaman serangan rudal dan meningkatnya aktivitas militer.

Kondisi itu berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia serta melambungnya biaya premi asuransi pelayaran internasional.

Di tingkat internasional, peringatan ancaman keamanan atau worldwide caution telah diterbitkan oleh Washington bagi seluruh warga negaranya di luar negeri.

Pada saat yang sama, tekanan politik dari dalam negeri AS kian menguat, di mana sejumlah politisi mendesak pemerintah untuk segera menghentikan gempuran dan mencegah keterlibatan AS dalam konfrontasi militer berskala luas yang berlarut-larut di Timur Tengah.

Meskipun intensitas pertempuran berada di titik tertinggi, saluran diplomasi di balik layar dilaporkan masih terus diupayakan oleh sejumlah negara mediator.

Tehran mengonfirmasi telah menerima beberapa draft proposal de-eskalasi untuk menghentikan kontak tembak.

Baca Juga: Tiga Komika Nasional Satu Panggung, Stand Up Indo Kota Bogor Buat Sejarah Baru

Namun peluang tercapainya kesepakatan gencatan senjata baru masih sangat rentan selama bentrokan militer dan aksi saling balas di lapangan terus berlangsung.

Langkah Washington yang terus meningkatkan tekanan militer untuk malam kesepuluh secara beruntun ini menandai fase paling krusial dalam konflik Timur Tengah.

Di mana kegagalan diplomasi dalam beberapa hari ke depan berisiko menyeret seluruh kawasan ke dalam perang terbuka yang lebih meluas dan merusak stabilitas pasar energi dunia. (Angga/Unpak)

Editor : Yosep Awaludin
serangan udara iran amerika serikat