RADAR BOGOR - Tragedi kecelakaan kerja melanda proyek pembangunan pembangkit listrik di wilayah timur laut India.
Sebuah ledakan gas memicu runtuhnya terowongan yang sedang dibangun di Desa Samardung, negara bagian Sikkim India, pada Senin 21 Juli 2026.
Berdasarkan informasi yang dirilis oleh media resmi Al Jazeera, insiden ini menewaskan sedikitnya 10 pekerja, sementara 17 orang lainnya dilaporkan masih tertimbun dan terjebak di dalam terowongan.
Insiden runtuhnya terowongan berkapasitas 500 megawatt milik badan usaha milik negara National Hydroelectric Power Corporation (NHPC) ini, berlokasi di dekat Sungai Teesta, kawasan perbatasan dengan Bhutan dan Tibet.
Sejumlah saksi selamat menceritakan bahwa mereka mendengar suara dentuman keras yang diikuti oleh runtuhnya puing-puing batuan besar.
Runtuhan material ini dengan cepat menutup jalur keluar-masuk terowongan dan mengurung puluhan pekerja yang sedang bertugas di dalam.
Baca Juga: FAA Percepat Hadirnya Taksi Udara dan Pesawat Supersonik, Ubah Masa Depan Penerbangan
Dalam pernyataan resminya, pihak NHPC menduga ledakan dipicu oleh paparan gas metana yang terperangkap di dalam bebatuan terowongan.
Situasi di lokasi kejadian semakin buruk ketika enam pejabat NHPC yang berupaya masuk untuk membantu proses penyelamatan justru ikut terjebak.
Kepala Kepolisian Daerah setempat, Sonam Dolma, membenarkan bahwa sejauh ini tim gabungan baru berhasil mengintegrasikan evakuasi 10 jenazah dari balik reruntuhan.
Upaya penyelamatan yang dipimpin oleh Pasukan Tanggap Bencana Nasional India atau NDRF menghadapi kendala besar akibat akumulasi gas beracun yang berbahaya di dalam ruang sempit terowongan.
Petugas dari NDRF, Nitin Kumar, mengonfirmasi temuan tingginya konsentrasi gas metana, karbon monoksida, dan hidrogen sulfida.
Akibatnya, tim penyelamat wajib menggunakan perlengkapan pernapasan khusus dan tabung oksigen untuk menyisir reruntuhan demi mencari korban selamat.
Kecelakaan konstruksi di wilayah pegunungan Himalaya bukan kali pertama terjadi karena kawasan tersebut memiliki tingkat aktivitas seismik yang tinggi.
Para ahli geologi menjelaskan bahwa Daerah Aliran Sungai Teesta terdiri dari struktur batuan muda yang rapuh dan penuh dengan retakan underground yang rentan memicu akumulasi gas berbahaya.
Baca Juga: 6.300 Pegawai Kementerian Terindikasi Main Game Online Terlarang
Kerentanan kondisi alam ini membuat proyek pembuatan terowongan bawah tanah di kawasan tersebut memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang sangat tinggi.
Pemerintah lokal bersama tim penyelamat terus memobilisasi alat berat dan personel tambahan untuk membersihkan puing serta memperbaiki sirkulasi udara di dalam terowongan.
Keluarga korban yang berkumpul di sekitar lokasi kejadian mengimbau agar proses pencarian tetap mengutamakan keselamatan tim evakuasi tanpa mengurangi kecepatan pencarian korban yang masih terjebak. (Angga/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin