AS Resmi Setujui Kerja Sama Nuklir Sipil dengan Arab Saudi, Ini Isi Kesepakatan dan Dampaknya

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 13:40 WIB
Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bertemu di gedung putih. (Foto: Laman resmi Al Jazeera)
Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bertemu di gedung putih. (Foto: Laman resmi Al Jazeera)

RADAR BOGOR – Pemerintah Amerika Serikat resmi menyetujui kerja sama nuklir sipil dengan Arab Saudi sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan strategis kedua negara.

Kesepakatan tersebut diumumkan di tengah meningkatnya dinamika geopolitik di Timur Tengah dan dinilai menjadi langkah penting dalam memperluas kolaborasi di sektor energi dan teknologi.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perjanjian ini menjadi bagian dari strategi mempererat hubungan bilateral antara Washington dan Riyadh, khususnya dalam pengembangan energi nuklir untuk kepentingan sipil.

Departemen Energi Amerika Serikat (U.S. Department of Energy) menyebut kerja sama tersebut sebagai kemitraan jangka panjang bernilai miliaran dolar yang akan melibatkan transfer teknologi nuklir sipil, serta dukungan keahlian teknis dari perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat kepada Arab Saudi.

Mengacu pada Atomic Energy Act

Kesepakatan tersebut disusun berdasarkan Section 123 of the Atomic Energy Act of 1954, atau yang dikenal sebagai 123 Agreement, yang merupakan kerangka hukum utama Amerika Serikat dalam menjalin kerja sama nuklir sipil dengan negara lain.

Selain itu, perjanjian juga dilengkapi dengan mekanisme bilateral safeguards agreement yang bertujuan memastikan seluruh teknologi dan material nuklir hanya dimanfaatkan untuk kepentingan damai serta memenuhi standar keselamatan internasional.

Baca Juga: Serangan Udara Israel Kembali Hantam Gaza, Satu Keluarga Jadi Korban

Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menegaskan bahwa kerja sama tersebut dirancang untuk memperkuat hubungan ekonomi sekaligus menjaga standar keamanan nuklir.

"Kesepakatan ini menunjukkan komitmen kedua negara dalam memperkuat hubungan ekonomi, menciptakan manfaat bagi masyarakat, serta menjaga keamanan para mitra. Perjanjian ini juga mengedepankan standar keselamatan dan nonproliferasi nuklir dengan dukungan teknologi terbaik yang tersedia," ujar Chris Wright.

Isu Pengayaan Uranium Jadi Perhatian

Meski demikian, sejumlah media di Amerika Serikat melaporkan bahwa perjanjian tersebut kemungkinan membuka peluang bagi Arab Saudi untuk melakukan pengayaan uranium di dalam negeri.

Informasi tersebut memunculkan perhatian karena selama ini kerja sama nuklir sipil umumnya mengharuskan negara mitra memperoleh bahan bakar nuklir siap pakai tanpa melakukan proses pengayaan sendiri.

Hingga kini, Departemen Energi Amerika Serikat belum memberikan penjelasan rinci mengenai ketentuan tersebut dalam dokumen resmi yang dipublikasikan.

Apabila klausul mengenai pengayaan uranium domestik benar diterapkan, sejumlah pengamat memperkirakan pembahasan kesepakatan tersebut akan menghadapi pengawasan dan perdebatan lebih lanjut di Kongres Amerika Serikat.

Berlangsung di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Pengumuman kerja sama ini muncul ketika kawasan Timur Tengah masih diliputi ketegangan geopolitik.

Sejak Februari 2026, situasi keamanan regional meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap sejumlah fasilitas yang dikaitkan dengan program nuklir Iran.

Baca Juga: Juventus Pantau Kerim Alajbegovic, Leverkusen Pasang Harga Rp30 Juta Euro

Sebagai respons, Iran dilaporkan melakukan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak yang menyasar beberapa pangkalan militer Amerika Serikat serta infrastruktur energi strategis di kawasan Teluk.

Dalam konteks tersebut, kerja sama nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi dipandang sebagai bagian dari strategi Washington untuk memperkuat kemitraan energi, teknologi, dan keamanan dengan negara-negara di kawasan Teluk.

Kesepakatan ini juga dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mempererat hubungan bilateral kedua negara, sekaligus memperluas kerja sama di bidang energi sipil dengan tetap menekankan penerapan standar keselamatan dan nonproliferasi nuklir. (Angga/Unpak)

Editor : Yosep Awaludin
nuklir arab saudi amerika serikat